14 Tahun Tagana Indonesia

H.Syakhruddin.DN Salah seorang Perintis Tagana Indonesia NIAT = 22.005.0001 (Nomor Induk Anggota Tagana)

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Menyongsong Peringatan Ulang Tahun TAGANA Tingkat Nasional-14 di Pantai Ayah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah oleh Mensos Idrus Marhan, berikut ini diturunkan tulisan lepas terkait pelaksanaan ultah ke-14 Tagana :

Perjalanan panjang TAGANA (Taruna Siaga Bencana), kini memasuki usia ke-14, tepat pada tanggal 24 Maret 2018. Banyak hal telah dilakukan TAGANA, dalam upaya penanggulangan bencana, baik sebelum bencana, saat bencana maupun pasca bencana.

Inline Ad

Kilas balik perjalanan sejarah TAGANA, berawal atas kesadaran seorang pegiat penanggulangan bencana di “Departemen Sosial” (Nama waktu itu), beliau bernama lengkap Drs. Andi Hanindito,M.Si, yang belakangan kami sering menyapa, “Panglima Tagana Indonesia”.

Bersama jajarannya, merumuskan akan pentingnya penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Kemudian ditindak lanjuti,dengan pembicaraan banyak unsur relawan dari berbagai komponen, termasuk pengurus Karang Taruna Nasional yang masa itu, Karang Taruna diketuai Dody Susanto.

Sang Ketua, kurang setuju dengan kehadiran TAGANA. Alasannya, “Untuk apalagi ada TAGANA, karena sudah ada “Karang Taruna” di desa dan kelurahan.
Akan tetapi rumusan tentang TAGANA sudah mantap, akhirnya para perencana kegiatan di Salemba Raya No 28 Jakarta menyepakati, didirikannya relawan penanggulangan bencana, yang pembinaannya oleh Departemen Sosial (nama waktu itu).

Maka pada tanggal 24 Maret 2004, di BBPKS (Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial) Lembang, Bandung, Jawa Barat dibentuklah Tagana Indonesia.

Akan tetapi, jauh sebelum terbentuknya Tagana seperti sekarang, pada tahun 2002 Departemen Sosial (nama saat itu), Jabatan Dirjen Pemberdayaan Sosial oleh almarhum Safwan,SH telah melakukan berbagai pelatihan tentang kebencanaan.

Diantaranya, Pelatihan Satgas PB (Satuan Tugas Penanggulangan Bencana) yang digagas Almarhum Sutarso. Kala itu, jabatan Direktur PSKBA dipangku Almarhum Bapak Purnomo Sidik dan Kasubdit Kesiapsiagaan dipangku Bapak Andi Hanindito sekarang sebagai Direktur Lanjut Usia Kemensos RI.
Di tangan Bapak Andi Hanindito, selanjutnya para Perintis Tagana, mengikuti kegiatan Pemantapan Tagana di Hotel Lembang Jawa Barat, diikuti utusan 33 provinsi se-Indonesia.

Mereka membulatkan tekad, untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini, dalam penanggulangan bencana. Kegiatan pembinaan terus berlanjut dari tahun 2004 hingga Pemantapan Tagana se-Indonesia tahun 2006 dan hal inilah mengundang tanya, dari sebagian pionir Tagana Indonesia.

Siapakah yang sebenarnya menjadi Perintis sejati, karena ada yang hadir pertama kali, saat merumuskan TAGANA di BBPPKS, namun tidak hadir pada saat kegiatan Pemantapan Tagana di Hotel Lembang tahun 2006.

Padahal, momentum di Hotel Lembang Bandung, merupakan awal pemberian tolkit Tagana secara lengkap dalam satu tas biru, diterima langsung dari Bapak (Almarhum) Purnomo Sidik.
Beruntung sekali, Penulis hadir pada momen penting dalam sejarah perjalanan Tagana, terlebih lagi, Penulis tercatat resmi sebagai utusan Provinsi Sulawesi Selatan.

Kalau kegiatan awal perumusan tahun 2004, Penulis bersama Andi Syafri Sulo dari Karang Taruna Sulawesi Selatan dan pada kegiatan Pemantapan tahun 2006 di Lembang, Jawa Barat, Penulis bersama Muhlis Moed, hasil pelatihan angkatan pertama dari Sulawesi Selatan.

Baca Juga:  Husnul Khatimah JT-610

Beruntung Sdr. Muhlis Moed, sejak 2006 sampai saat ini masih terus eksis dalam berbagai kegiatan TAGANA dan menjadi instruktur di berbagai pelatihan, baik di masyarakat maupun yang dilaksanakan di kampus-kampus di Sulawesi Selatan.

Masih jelas dalam ingatan, pada saat di Lembang-Jawa Barat, Bapak Iyan Kusmadiana bertindak selaku komandan upacara pada acara pembukaan di lapangan BBPPKS Lembang dan Bapak Safei Nasution sebagai utusan dari Jawa Barat.

Kini keduanya menjadi telah menjadi Kasubdit di Kementerian Sosial, sementara penulis sudah purnatugas dari Dinsos Prov. Sulsel, namun masih aktif membina Tagana di Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada Jurusan Kesejahteraan Sosial.

Taruna Siaga Bencana (TAGANA) adalah relawan sosial terlatih yang berasal dari masyarakat, mereka memiliki kepedulian dan aktif dalam penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial.

Tugas pertama Tagana dalam penanggulangan bencana nasional, adalah pada saat penanggulangan bencana di Meulaboh–Aceh Selatan.
Kala itu, 21 pesonil Tagana dari Provinsi Sumatera Utara, mengawali kegiatan dengan focus pada logistik, shelter dan pendampingan psikososial.
Sejak itulah, keberadaan dan eksistensi Tagana, dapat menjawab keraguan sebagian pihak. Dewasa ini, Tagana sudah menjadi frontliner penanggulangan bencana bidang perlindungan sosial, membantu pemerintah, khususnya Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Melalui Peraturan Menteri Sosial RI Nomor : 28 tahun 2012 tentang Pedoman UmumTagana, dan Peraturan Menteri Sosial RI Nomor : 29 tahun 2012 tentang Tagana.

Seiring dengan kemajuan Tagana dan mutasi jabatan dari beberapa orang direktur di lingkungan Kementerian Sosial, kemudian dilaksanakan pembaharuan melalui Peraturan Menteri Sosial Nomor : 82 tahun 2006 tentang Tagana.

TAGANA lebih jelas eksistensinya dan pembinaannya, serta pengembangan tugas, mulai logistik, shelter, pendampingan psikososial dan bahkan advokasi sosial korban bencana.

Dengan dukungan berupa peralatan, mobilisasi Rescue Tactical Unit (RTU) 495 unit, Mobil Dapur Umum Lapangan 449 unit, Mobil Truk 210 unit,Tangki Air 169 unit, Water Treatment 18 unitdan Motor Trail 589 unit.

Serta buffer stock, peralatan penanggulangan bencana lainnya, kini tersebar di seluruh Indonesia dan telah disiapkan KementerianSosial RI untuk kelancaran pelaksanaan tugas, data ini tercatat resmi dan telah dipublish pada ulang tahun Tagana ke-12.

Tentunya sekarang sudah semakin meningkat dan maju, bahkan sudah akan dilengkapi dengan kendaraan motor viar yang akan menembus lorong dan gang yang sempit.

Kini Tagana sudah berkembang menjadi besar, baik jumlah personil Tagana dan kiprahnya hampir di seluruh kejadian bencana di Indonesia, mereka hadir pada kesempatan pertama, karena mereka ada di mana-mana, tersebar dipelosok negeri ini.

Sehingga apa yang dinyatakan, ketika Menteri Sosial Republik Indonesia saat dijabat Khofifah Indar Parawansa, menginstruksikan; Tagana satu jam, harus ada di lokasi bencana setelah bencana terjadi.

Baca Juga:  Merawat Semangat Berqurban

Tagana pasti ada, karena mereka masyarakat biasa, ada di seluruh pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tagana telah menjawab dengan strategi, “turn back to community” dan Tagana mempunyai “SahabatTagana” yang keberadaannya, lebih dalam lagi yaitu ada di keluarga, kelompok masyarakat bahkan perorangan.

Keberadaan KSB (Kampung Siaga Bencana), di lokasi rawan bencana, dimana Tagana sebagai fasilitatornya, telah menambah jangkauan Kementerian Sosial RI dengan upayanya dalam mengembangkan pendekatan CBDM “Community Bases Disaster Management”
Upaya pengembangan Tagana, telah banyak dilakukan, baik dalam maupun luar negeri, seperti dengan “Community Emergency Management Institut Japan (CEMIJ)”.

Kini tiba saatnya, merealisasikan keinginan Kementerian Sosial RI dan Tagana di Seluruh Indonesia, untuk melakukan “Nota Kesepahaman dengan pihak-pihak yang selalu bekerjasama di lapangan,yaitu Badan SAR Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika serta Palang Merah Indonesia.

Kami yakin, nota kesepahaman Kementerian Sosial Republik Indonesia, dengan ketiga lembaga dimaksud, akan lebih memayungi, upaya yang selama ini Tagana lakukan dan memberikan motivasi baru kepada seluruh Tagana di Indonesia, bahkan dewasa ini telah dijejaki kerjasama dengan Pengurus Pusat Pramuka (Praja Muda Karana) Indonesia, sehingga tercipta Pramuka Siaga Bencana Indonesia.

Untuk mendukung pelaksanaan tugas Tagana, maka hari ini, kita akan canangkan oleh yang terhormat, Menteri Sosial Republik Indonesia, disaksikan para undangan tentang “SahabatTagana” dan “Tagana Tactical Information System (TACTIS), itulah kenangan abadi, bersama Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa pada Ultah Ke-12 di Tagana Training Center di Sentul Jawa Barat.

Dan satu hal yang sangat membahagiakan, karena hingga dilaksanakannya Puncak Peringatan Tagana ke-14, Kementerian Sosial RI telah berhasil membentuk 587 KSB (Kampung Siaga Bencana), hal ini menunjukkan bahwa realisasi dari program satu jam sesudah bencana Tagana sudah ada di lokasi, secara matematika tentu dapat direalisasikan.
Selanjutnya pada Ultah TAGANA ke-13 di Kepulauan Seribu Jakarta Utara, Mensos menyematkan “PIN” kepada para Perintis Tagana Indonesia sebanyak 66 orang, dan alhamdulillah, Penulis mendapat kehormatan mewakili kawan-kawan Tagana Perintis se-Indonesia.

Pemberian “PIN PERINTIS” sebagai realisasi dari kesepakatan pada saat berlangsungnya Jambore Tagana di Balikpapan, ditandai dengan pengibaran Bendera Relawan terbesar, yang memperoleh “Record Muri” dan piagamnya diterima langsung Direktur PSKBA, Bapak Adhy Karyono (Jabatan pada saat itu).

Pada situasi menerima penghargaan seperti ini, kembali terkenang akan rekan-rekan kami yang telah gugur dalam pemberian pertolongan, terutama pada kasus Gunung Merapi Yogyakarta.
Kelima anggotaTagana yang gugur, tercatat SlametNgatiran, Warga Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman. Juprianto Warga Banjarsari Glagaharjo-Sleman, SamiyoWarga Srunen Glagahharjo, Sleman, Arianto Prasetyo tercatat sebagai warga Srunen Glagaharjo Sleman dan Supriyadi,Warga Banaran Galur, Kulon Progo.

Kelima almarhum adalah relawan sekaligus pahlawan kemanusiaan. Mereka gugur saat membantu sesama manusia, ketika terjadi erupsi Merapi 2010 lalu,dan kepadanya setiap kami berulang tahun, selalu membacakan “Ummulkitab-Al fatihah”
Mensos Idrus Marham Irup :
Menteri Sosial Idrus Marham, akan bertindak selaku Irup pada upacara Hari Ulang Tahun ke-14. Menurut panitia pusat, puncak acara akan diperingati di Pantai Ayah Kabupaten Kebumen tanggal 2 April 2018 mendatang.

Baca Juga:  Manusia itu "ajuula"

Ini merupakan kesempatan perdana bagi Tagana se-Indonesia untuk bersilaturahmi dengan utusan Tagana dari 33 provinsi di tanah air, terutama para Perintis Tagana Indonesia, yang telah membubuhkan tanda tangan pada saat pembentukan Tagana di Lembang Jawa Barat tahun 2004.

Rangkaian perjalanan panjang Tagana, khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan di ulang tahunnya ke-14, telah selesai melakukan “bedah rumah” milik seorang guru honor bernama Nuraeni, lokasi Dusun Kacci-Kacci Desa Bontobiraeng Selatan Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa-Sulawesi Selatan.

Diharapkan, model dan upaya Tagana Provinsi Sulawesi Selatan, dapat diterapkan pada kegiatan yang sama, dimasing-masing provinsi. Sehingga pada saat peresmian ulang tahun secara nasional, maka Menteri Sosial dapat meresmikan.

“Pada hari ini, di ulang tahun TAGANA, kami resmikan penggunaan 33 buah rumah, hasil bedah rumah dari anggota Tagana se-Indonesia”, dan hal ini, seiring dengan tema peringatan, “Pengabdian 14 tahun Tagana, sebagai momentum untuk meningkatkan karya nyata bagi negeri”.

Selamat ulang tahun Tagana ke-14, yang dilaksanakan secara nasional tanggal 2 April 2018, “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami”

Selanjutnya menurut rencana, upacara puncak peringatan direncanakan di Pantai Ayah Kabupaten Kebumen, sebuah Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Sebelah Selatan Kabupaten Kebumen adalah Samudera Hindia, Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Sedangkan sebelah timur Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Sampai jumpa di lokasi pelaksanaan upacara peringatan dan selamat kepada Mas Dandung di Samarinda, karena berhasil membuat desain “Logo Peringatan ke-14 Taruna Siaga Bencana Indonesia, tetaplah “Semangat Pagi” dan Are you ready ??

Oleh : H.Syakhruddin.DN (Perintis Tagana Indonesia)
Hp 081 2424 5938

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.