Site icon Inipasti

“…Allah (ku) tak perlu dibela”

Penulis : Muhammad Zaiyani

INIPASTI.COM, OPINI — “…Allah (ku) tak perlu di bela” adalah penggalan terakhir dari ciutan Ferdinand Hutahaean yang diunggah pada tanggal 4 Januari 2022 (lengkapnya : “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dia lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu di bela”. Kami menjadikan penggalan terakhir ciutan tersebut menjadi judul, karena penggalan itulah makna dari ciutan tersebut.

Serupa tapi tak sama, statement “Allah tidak perlu dibela” pernah mejadi judul tulisan Gus Dur yaitu : ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’ dimuat di rubrik ‘Kolom’ dalam Majalah Tempo, edisi 26 Juni 1982. Serupa karena sampai pada makna yang sama bahwa ‘Tuhan (Allah) Tidak Perlu Dibela’ ; dan tak sama karena ciutan Ferdinand (mungkin?) adalah respon dari rasa gelisah karena aksi segelintir orang beragama yang selalu turun ke jalan teriak-teriak “membela Agama/Allah”; sementara tulisan Gus Dur menceritakan seorang sarjana (yang baru pulang dari studi-nya di luar negeri) shock dengan ‘kemarahan’ orang muslim yang dia dengar dalam khutbah Jum’at dan atau dari pidato-pidato mubaligh/ da’i.

Atas ciutan tersebut Ferdinand Hutahaean telah dilaporkan oleh Ormas Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan ke Polda Sulawesi Selatan, Haris Pertama (Ketua KNPI) ke Bareskrim Polda Metro Jakarta Raya, dan seorang warga Kota Medan Irman Arief ke Polda Sumatera Utara. Dan karena itu Polda Metro Jaya telah melakukan pemanggilan terhadap yang bersangkutan.

Penggalan kalimat “Allahmu ternyata lemah”  yang menjadi hal pelaporan sesungguhnya bukan kesimpulan atau bukan makna dari ciutan tersebut. Sebaliknya ciutan tersebut bermakna sindiran bagi siapa saja (mungkin juga bagi dirinya sendiri) yang selalu membungkus sesuatu dengan agama (dengan statement membela Allah/Agama) untuk tujuan tertentu dan menurut Ferdinand: “Allah itu luar biasa, maha segalanya dan  Dia tak perlu di bela”.

Memahami suatu statement dengan hanya membaca sepenggal (sebahagian) dari kalimat yang panjang sama seperti orang buta yang diminta men-deskripsi-kan seekor gajah. Orang buta yang menyentuh telinga mengatakan gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar; yang memegang ekor menjelaskan gajah itu panjang seperti tali;  dan yang memegang kaki akan mengatakan gajah itu seperti tiang yang kuat dan tegak.

Jika dilihat dari latar belakang Ferdinand yang merupakan seorang muslim (muallaf sejak 2017) yang bisa jadi masih sedang belajar memahami Allah, ciutannya bisa dipandang bahwa dia tidak sedang menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu, karena yang bersangkutan (sekali lagi) adalah seorang muslim. Ciutan tersebut justru menjadi autocritic bagi muslim yang selalu menggunakan simbol-simbol agama untuk tujuan tertentu.

Penyidikan sudah dimulai oleh Polda Metro Jaya, dan kita semua harus yakin bahwa kepolisian akan bekerja profesional. Apapun hasilnya harus diterima oleh kedua pihak, dan kita semua. Jika hasil akhir penyidikan tidak didapatkan unsur-unsur pidana maka harus kita terima dengan lapang dada, demikian pula sebaliknya.

“Dan janganlah sekali-kali (karena) kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (QS Al-Maidah : 8)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version