Arab Saudi Bergejolak, Raja Salman Pecat Komandan Top Arab karena Diduga Korupsi

INIPASTI.COM, RIYADH – Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Arab Saudi telah memerintahkan pemecatan Komandan Pasukan Gabungan Koalisi Arab yang dipimpin Saudi, Fahd bin Turki al-Saud.

Fahd bin Turki al-Saud telah dituduh melakukan korupsi. Si komandan merupakan pemimpin koalisi militer Negara Arab yang menggempur kelompok Houthi di Yaman.

Inline Ad

Pemecatan oleh Raja Salman ini diumumkan pihak kerajaan dalam pengumuman hari Senin sebagaimana dikutip dari media pemerintah, Saudi Press Agency (SPA), Selasa (1/9/2020).

Menurut SPA, Fahd bin Turki al-Saud, yang telah menjabat sebagai Komandan Pasukan Gabungan Koalisi Arab untuk operasi militer Yaman sejak 2018, akan ditempatkan dalam masa pensiun.

Wakil Kepala Staf Arab Saudi, Letnan Jenderal Mutlaq bin Salim al-Azaima, telah ditunjuk untuk menggantikannya.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman berkuasa secara de facto untuk Arab Saudi. Sejumlah pejabat Saudi, termasuk dua anggota keluarga kerajaan telah dipecat dari jabatan mereka di kementerian pertahanan.

Baca Juga:  #13 – Ellac (Attila dari Hun)

Dalam sebuah keputusan kerajaan disebutkan bahwa Raja Salman telah mencopot Pangeran Fahad bin Turki dari jabatan komandan pasukan gabungan dalam koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Putranya, Abdulaziz bin Fahad, juga dicopot dari jabatan wakil gubernur. Kedua orang itu, bersama dengan empat pejabat lainnya, menghadapi penyelidikan atas “transaksi keuangan mencurigakan” di Kementerian Pertahanan, sebut keputusan kerajaan.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang merupakan putra raja dan dianggap sebagai penguasa Arab Saudi secara de-facto, telah mempelopori kampanye melawan dugaan korupsi di pemerintahan (syakhruddin)

Namun, para kritikus mengatakan penangkapan tokoh-tokoh elite ini bertujuan untuk melenyapkan penghalang kekuasaan bagi pangeran.

Pada awal tahun ini, Wall Street Journal melaporkan bahwa tiga anggota senior keluarga kerajaan telah ditahan, termasuk adik raja Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan mantan putra mahkota Mohammed bin Nayef.

Baca Juga:  Debat Pertama, Dua Capres Amerika Saling Sindir

Peristiwa penting yang melibatkan bangsawan Saudi terjadi pada 2017, di mana puluhan tokoh keluarga kerajaan Saudi, menteri-menteri dan pengusaha telah ditawan di hotel Ritz-Carlton di Riyadh.

Sebagian besar dari mereka belakangan dibebaskan, namun setelah mencapai kesepakatan bernilai US$106,7 miliar.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, 35 tahun, mendapat pujian internasional saat berjanji melakukan rangkaian reformasi ekonomi dan sosial negara yang sangat konservatif itu sejak berkuasa pada 2016.

Namun dia telah terlibat sejumlah skandal, termasuk pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di kedutaan Saudi di Istanbul pada 2018 dan dugaan rencana pembunuhan terhadap mantan agen intelijen Saudi di Kanada.

Dia juga dikiritik menyusul konflik berkelanjutan di Yaman, di mana Arab Saudi menyokong pasukan pro-pemerintah, serta perlakuan kasar terhadap aktivis hak-hak perempuan, meskipun sejumlah aturan diskriminatif telah dicabut seperti hak perempuan untuk mengemudi (syakhruddin)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.