Askindo Gelar Konferensi Internasional Kakao di Bali

Top Ad

INIPASTI.COM, DENPASAR – Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) menggelar kegiatan bertajuk ‘7th Indonesia International Conference Cocoa di Nusa Dua Bali, 14-15 November 2019.

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Mahendra Siregar dan ditutup oleh Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto.

Inline Ad

Acara konferensi kali ini dihadiri oleh pembicara dan peserta perwakilan dari pemerintah, perusahaan, LSM, lembaga donor, akademisi dan sejumlah lembaga dari seluruh daerah penghasil kakao di dunia.

Arie Nauvel Iskandar sebagai Ketua Askindo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa begitu banyak hal besar telah terjadi tetapi tantangan dan peluang terbesar yang terus dihadapi adalah meningkatnya defisit antara produksi kakao di Indonesia dan kapasitas penggilingan.

“Kita perlu melipatgandakan upaya kita untuk meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas dan kita perlu mendorong tindakan spesifik yang ditargetkan sekarang. Saya percaya bahwa tahun 2019 memang merupakan tahun perubahan, pemikiran baru, dan energi baru untuk mempercepat pembangunan dan keberlanjutan di sektor ini,” katanya.

Menurut Arie, Askindo dan pemangku kepentingan utama lainnya di Asia dan Indonesia telah merespons perkembangan, tantangan, dan peluang ini dengan memikirkan kembali strategi kami.

“Kami membutuhkan strategi baru untuk menyusun ulang dan mendefinisikan Cocoa Road Map berdasarkan pendekatan holistik yang mengakui adanya kesenjangan nyata antara perkebunan dan pabrik, kapasitas produksi dan nilai tambah untuk mewujudkan potensi penuh kami dan memungkinkan Indonesia untuk memainkan peran lebih besar di Asia dan dunia,” katanya.

Menurutnya, pihak industri tidak dapat mencapai tujuan-tujuan ini secara terpisah namun membutuhkan lingkungan pendukung kuat, yang bisa bekerja dengan pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi melalui tiga tingkat kritis perubahan.

Ketiga hal tersebut adalah kolaborasi dan kemitraan Multi-stakeholder, kerangka kebijakan dan peraturan pemerintah yang efektif, baik di produsen maupun negara-negara konsumen, dan menyelaraskan investasi publik-swasta untuk menciptakan dampak pada skala, yang memanfaatkan ‘pihak ketiga’ pembiayaan dan mempercepat ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembelajaran.

Mahendra Siregar, Wakil Menteri Luar Negeri RI, dalam sambutannya menyatakan optimismenya terkait industri kakao Indonesia di masa yang akan datang.

“Tahun yang akan datang mungkin tidak akan lebih baik, namun kita harus melakukan cara terbaik. Pemerintah akan menyampaikan lebih lanjut tentang rencana pemerintah untuk melakukan upaya revitalisasi. Saya harap kita dapat mendukung industri ini untuk pengembangan dan mengubah keadaan ini,” katanya.

Mahendar juga mengatakan bersedia untuk mendengar masukan dari berbagai pihak dan ingin memastikan bagaimana meningkatkan pendapatan petani, dan membantu mereka dalam mengatasi masalah penyakit serta ada akses terhadap pertanian.

“Saya ingin melihat apa yang akan dibutuhkan untuk mendukung program ini.” (*W)

Bottom ad

Leave a Reply