Bermodalkan Bantuan PWMP, 3 Petani Milenial asal Ciamis Kembangkan Olahan Jamur SUPAKUSUKA

Top Ad

INIPASTI.COM, CIAMIS – Komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mencetak petani muda tidak perlu diragukan lagi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mendukung regenerasi petani serta penumbuhan wirausaha pertanian muda baik melalui pendidikan vokasi, pelatihan vokasi maupun berbagai program lainnya seperti PWMP dan YESS. Terbukti dari bantuan program tersebut tiga petani milenial berhasil kembangkan usaha budidaya jamur tiram hingga diolah menjadi panganan sehat.

Ridwan Rasyid, Fakhri dan Adi, yang merupakan alumni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor sukses mengembangkan usaha budidaya jamur tiram dan olahan jamur bertajuk D’oyster.

Inline Ad

Berawalkan modal mandiri/udunan Rasyid CS memulai usaha pada Mei 2020 saat mereka masih menjadi mahasiswa semester akhir. “Kita mulai planning rencana usaha dan kemudian bangun kumbung dgn kapasitas 10k baglog dgn modal mandiri/udunan dan mencari beberapa investor”, ungkapnya.

Mereka pun menegaskan membangun kumbung lebih awal dengan harapan setelah lulus kita akan mendapatkan bantuan modal Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) untuk alumni. Namun, bertepatan dengan hadirnya pandemi Covid 19 di Indonesia, program itu pun tertunda.

Sebagai generasi muda yang tak patah arang, mereka pun mengisi kumbung secara bertahap sebanyak 2000 baglog per bulan dengan modal mandiri/udunan mulai Agustus 2020. Pada musim pertama kita mampu mengisi kumbpung sebanyak kurang lebih 5000 baglog.

“Alhamdulillah dari hasil penjualan tersebut kami secara bertahap mengembangkan usaha jamur ini secara perlahan, dan pada musim pertama rata2 produksi jamur waktu itu sebesar 5-10kg per hari dengan harga 10.000-15.000/kg. Untuk omset permusim pada waktu itu mencapai 10.000.000”, jelas Rasyid.

Tak lekas berpuas hati, adanya persaingan pasar di Ciamis dan belum adanya pengalaman omset itu hanya cukup untuk menggantikan modal baglog dan hanya sedikit keuntungan dibagi 3 dengan anggota kelompok menjadi cambuk untuk mereka lebih maju.

Bersama kedua temannya, Rasyid kembali mengajukan proposal bantuan modal PWMP bagi alumni Polbangtan di awal tahun 2021. Dan alhamdulillah bantuan modal sebesar 20.000.000 pun merekaterima.

“Tak ingin menyia-yiakan waktu kami langsung mencari mitra untuk mengembangkan pengolahan jamur tiram yabg kami beri merek dagang SUPAKUSUKA. Kini kami menggandeng beberapa petani jamur tiram di Ciamis sebagai mitra. Modal PWMP kita gunakan untuk meningkatkan kualitas olahan jamur hingga tak kalah dengan merek2 ternama dipasaran. Kemasan pun kami buat semenarik mungkin sesuai dengan tuntutan pasar”, papar Ridwan.

Tak hanya ingin mendulang rupiah semata, Ridwan, Fakhri dan Adi berupaya mengedukasi masyarakat agar bisa beralih dari penyedap rasa yang mengandung MSG ke kaldu jamar yg bebas MSG dan tentunya sehat untuk dikonsumsi.

Saat ini kaldu SUPAKUSUKA dapat dibeli secara langsung dibeberapa gerai untuk yang berada diwilayah Ciamis, serta melalui beberapa e-commerce dan IG @SUPAKUSUKA. “Ayo kita ubah gaya hidup kita dengan menggunakan bahan masak yang lebih sehat. Dan kita lestarikan budaya membeli hasil produk petani demi keberlangsungan pembangunan pertanian kita”, ajak Ridwan.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang mengatakan generasi muda merupakan bonus demografi di Indonesia.

“Masa depan pertanian ada di anak-anak muda, di generasi milenial. Untuk itu, kita selalu berupaya agar banyak generasi milenial turun ke sektor pertanian,”katanya.

Mentan pun menegaskan, generasi muda tumbuh bersamaan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. “Generasi milenial dengan ciri kreatif, inovatif, memiliki passion dan produktif. Maka tidak salah rasanya kalau kita letakkan tanggung jawab pembangunan pertanian kepada mereka”, tegas Mentan.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan hal serupa.

“Pertanian itu seksi. Karena, banyak sektor usaha yang bisa dikerjakan dan dimanfaatkan. Peluang-peluang ini yang kita harapkan bisa dimanfaatkan generasi milenial,” tuturnya.

Dedi menambahkan, generasi muda juga diharapkan bisa memberikan pembaruan.
“Lewat para milenial, kita berharap lahir inovasi-inovasi untuk mendukung pengembangan serta memaksimalkan pertanian. Adanya pandemi membuat perubahan dalam transaksi pembelian, dimana orang lebih banyak menggunakan jasa e-commerce. Hal ini harus disikapi menjadi peluang baru bagi generasi muda”, ungkap Dedi. (NL)

Bottom ad

Leave a Reply