Berorientasi Industri, Pendidikan Negeri Minus Visi?

INIPASTI.COM, MAKASSAR- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri.Tujuan utama dari strategi ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Sehingga koneksi antar keduanya bisa menguat.

Untuk diketahui, ada 100 prodi vokasi di PTN dan PTS yang ditargetkan melakukan pernikahan massal pada 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. Dan program tersebut akan diteruskan dan dikembangkan pada tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vovokasi Nadiem mengatakan ‘perjodohan massal’ antara pihak Kampus dan industri dilakukan hingga tahap kontrak rekrutmen mahasiswa di perusahaan, terkait peluang usaha.

Inline Ad

Pada sesi diskusi daring bersama Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto, Nadiem mengatakan bahwa esensi daripada program ini yang paling diuntungkan adalah industri. (Merdeka.com 27/6 6. Lebih lanjut, Nadiem mengatakan bahwa pemerintah juga memiliki sejumlah peran sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.

Baca Juga:  Perang Irak, bukan Blunder atau Kesalahan tetapi Kejahatan

Dia menjelaskan, bahwa Kemendikbud telah menjalankan program Kampus Merdeka. Salah satunya untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul dan bisa menjadi pendisrupsi revolusi industri 4.0. Sejalan dengan ini, kementerian keuangan (Kemenkeu) juga telah mengeluarkan insentif terkait sejumlah penelitian vokasi.

Tak hanya itu, dalam program kampus merdeka, struktur partisipasi mahasiswa saat magang di industri juga diperpanjang dari dua bulan menjadi satu semester hingga satu tahun. Harapanya, agar para mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan belajar di industri lebih baik mendalam sehingga kesempatan industri untuk merekrut juga jauh lebih besar.

Seperti biasa. Kelancaran proses produksi dan korporasi selalu menjadi pertimbangan utama lahirnya kebijakan dalam sistem kapitalisme. Bahkan sampai pada sektor pendidikan, orientasinya pun tetap ke arah sana. Fakta yang ada, semakin mengokohkan bahwa peran lembaga pendidikan sekedar pabrik (pencetak) pekerja pabrik yang sengaja disistemkan demi memenuhi kebutuhan pasar yang murah meriah.

Seyogyanya pendidikan adalah satu pilar pembangun peradaban. Namun sayangnya, sistem pendidikan hari ini kehilangan peran strategis tersebut. Bagaimana tidak, pemerintah justru semakin mengokohkan peran lembaga pendidikan untuk mencetak tenaga kerja bagi industri. Hal ini menjadi lumrah terjadi sebab dalam sistem sekuler kapitalistik saat ini pendidikan hanya ditempatkan sebagai pengukuh penjajahan kapitalisme global. Yakni menjadi pemutar roda industri belaka. Sehingga generasi yang dicetak pun menjadi sasaran empuk pemuas dahaga industri para kapitalis.

Baca Juga:  Opini: Mahfud MD Undercover, ILC Ekslusif

Itulah mengapa, program ‘pernikahan massal’ antara kampus dan industri dicanangkan. Orientasinya memang demikian adanya. Sudah bukan hal yang baru lagi, sedari awal perguruan tinggi sudah memiliki konsep-konsep seperti triple helix atau yang sebelumnya dikenal dengan konsep link and match. Di mana output pendidikan harus match dengan kebutuhan dunia industri. Dan negara sangat berperan dalam mendukung terjadinya sekulerisasi dan kapitalisasi dalam bidang pendidikan ini.

Pemerintah semakin mengokohkan peran Institusi Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi industri yang bermental buruh atau pekerja bukan bermental wirausaha yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Pendidikan Negeri ini berorientasi pada industri, yang mengharuskan output peserta didik memperoleh pekerjaan untuk memakmurkan diri, perusahaan dan negara. Apalagi dengan tuntutan perekenomian yang semakin berat di setiap tahunnya.

Padahal pendidikan semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia yang beradab, bermoral dan berakhlak baik sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi. Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa.

Baca Juga:  OPINI: Dia “Meninggalkan” Kuliahnya di APDN

Tujuan pendidikan menurut Islam adalah mencari ridho Allah SWT yang membawa peserta didik menjadi individu-individu yang berkarakter, ber- atitude baik dan keberadaannya bermanfaat bagi orang lain yang berada disekitarnya. Individu-individu yang bukan materialistik hanya memikirkan dunia saja namun juga memikirkan kebahagiaan di dunia akhirat dengan berupaya menyiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Penciptan-Nya.

Penulis Opini Oleh : St. Nurwahyu

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.