Candu Kekuasaan

INIPASTI.COM- Kekuasaan bagi sebagian besar para penguasa di negeri ini sudah menjadi candu. Para penguasa yang sudah menikmati kekuasaannya akan terus berusaha mempertahankan, memperluas dan memburu kekuasaan yang baru. Buru rente kekuasaan itu dilakukan dalam berbagai cara dan bentuk. Berikut adalah beberapa cara dan bentuk perilaku para penguasa memburu kekuasaannya.

Pertama, kekuasaan itu seperti opium yang bersumber dari pohon papaver somniferum. Pohon yang mengeluarkan getah kering berwarna coklat kekuning-kuningan, mempunyai daya memabukkan dan dapat membius, karena berkhasiat mengurangi rasa nyeri dan merangsang imajinasi, serta menimbulkan rasa ketagihan, lalu kejangkitan semacam kegemaran, hingga lupa hal-hal yang lain.

Maka jangan heran, kalau ada kebohongan dan janji yang tercederai dari para penguasa. Karena kakter utama kekuasaan itu adalah melenakan dan memabukkan, maka para penguasa cenderung lengah, suka mengabaikan, dan lalai akan janji-janjinya.

Tipu muslihat, saling menghina melalui puja-puji, bertebar dimana-mana, karena para penguasa cerdik lihai menyebarkan aroma kebencian di jagat raya yang mereka kuasai.

Rakyat akhirnya berlomba-lomba menjadi penguasa. Mengikuti jejak para penguasa. Kaum cendekia yang semula bertugas mengampuh kebenaran juga berburu kursi kekuasaan, tak peduli usia mulai senja atau mata mulai rabun. Kini kekuasaan benar-benar telah memabukkan.

Baca Juga:  Batas Waktu Kekuasaan

Calon penguasa tak segan-segan mengumbar janji, tidak malu memekikkan kebohongan, hanya sekedar untuk meyakinkan rakyat, agar mereka memberikan dukungan kepada para calon penguasa. Betapa hinanya mereka, memohon dukungan rakyat dengan cara berdusta. Menyebut diri sebagai sosok yang moderat, figure yang andal, pintar, jujur, berpengalaman, tegas, santun, komited dan puluhan frase lainnya. Intinya, mereka mau disebut sebagai pribadi yang paripurna. Pribadi yang agung, pribadi yang mulia. Jutaan poster, iklan, baligho dan spanduk yang terpampang di mana-mana, tujuannya untuk meyakinkan public. Padahal sesungguhnya, over publikasi menunjukkan mereka minim pengakuan, rendah pengenalan, dan sulit dipercaya. Inilah kondisi kekuasaan kita pada level satu.

Kedua, kekuasaan yang diperebutkan oleh calon penguasa dengan menggunakan cukong dan uang haram, yang disebut sebagai struktur kekuasaan level morfin. Struktur kekuasaan pada level ini ibarat opium yang dilukai dengan pisau sadap, dan mengeluarkan getah kental berwarna putih. Ini yang disebut sebagai opium mentah. Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. Kalau getah ini diekstrak lagi, akan menghasilkan morfin. Para cukong yang ikut bermain menentukan penguasa sama halnya pentas kekuasaan diisi dengan candu selevel morfin. Tingkat kerusakannya semakin tinggi. Kalau pada level opium, calon penguasa hanya menggunakan sistem pemasaran untuk “menjual” dirinya, akan tetapi pada level morfin, perebutan kekuasaan mengikutsertakan para cukong dan uang haram untuk meraih kekuasaan.

Baca Juga:  Larutan Cinta

Ketiga, level kekuasaan jenis heroin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Pada level ini, kekuasaan direbut dan diisi oleh para preman. Cara premanisme digunakan untuk mencapai tujuan kekuasaan. Premanisme politik bisa tumbuh dalam berbagai wujud, bisa datang dari kekuasaan yang lebih tinggi, bisa berkembang dalam arena partai politik, atau kekuasaan yang dapat diperjual belikan. Kekuasaan dalam negeri kita sudah memasuki fase transaksional, jual beli dan perselingkuhan antara pemodal dan penguasa.

Meski para penguasa telah saling menghina, berdusta dan telah menjual harga dirinya, rakyat bangsa ini tetap mencintainya, tetap ikut memilih, seakan-akan demokrasi telah berjalan dengan benar. Namun kecintaan rakyat kepada penguasa tidak diikuti dengan kepercayaan. Inilah watak relasional yang aneh antara rakyat dan penguasa. Cinta tanpa percaya, menguasai tanpa melindungi. Rakyat mencintai tapi penguasa tak melindungi rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.