Cerita Cinta Markonah

Top Ad

Penulis : Daeng Kulle

“……….Dicari sesobek kertas, dicari sepotong arang, Ia menggambar sebisanya. Asal bisa terungkapkan Perasaan yang menggebu, Suminah, aku cinta kamu!. Berjalan mengendap-endap, Menuju sudut Pilar Timur. Disorongkan Hati yang terpanah (hmm) Semoga (hmm) Suminah mengerti………” suara Ebiet G. Ade yang khas terdengar lembut dari Boose toko sebelah. “Cerita Suminah dan Tukang Sapu” melambungkan lamunan Markonah pada tigapuluh empat tahun lalu semasa sekolah esema. Markonah jatuh cinta pertama kali pada teman sebelah kelasnya, anak seorang pengusaha ternama, dan konten lagu itu seakan mewakili kisah kasihnya dengan si-doi yang dimaksud.

Inline Ad

Baca Juga : Kisah Cinta Sang Panglima

Cerita Markonah anak penjaga sekolah dan Mukidi anak seorang pengusaha kaya dimulai ketika kelas dua esema. Mereka bersebelahan kelas dan selalu berinteraksi ketika mata pelajaran agama dan mata pelajaran olah raga. Pada hari Selasa murid yang Islam (termasuk Mukidi) menyatu di kelas Markonah, sementara yang Nasrani bergabung dikelas sebelah. Demikian pula jika mata pelajaran Olah Raga, murid kedua kelas ini juga bergabung dan berolah-raga bersama.

Markonah adalah murid yang cerdas dan pandai dikelasnya. Dia adalah pembelajar dan pembaca buku yang tekun. Setiap saat diwaktu luangnya, Markonah isi dengan membaca buku-buku diperpustakaan sekolah dan perpustakaan lain yang ada di kotanya. Sementara Mukidi dengan prestasi rata-rata selalu belajar matematika, fisika, dan kimia pada Markonah. Markonah dengan senang hati mengajari Mukidi untuk ketiga mata pelajaran tersebut, khususnya Integral tak tentu, pertidaksamaan linear, stoikiometri, konsep mol, momentum & impuls, hukum newton. Pepatah Jawa Witing tresno jalaran soko kulino telah melanda keduanya. Diam-diam mereka saling menyukai namun tak berani mengungkapnya.

Ujian akhir esema berakhir. Kembali Markonah menjadi juara di kelasnya. Senyum manis Markonah dengan ginsulnya mengiringi penerimaan hadiah sebagai juara kelas, namun dalam hatinya sedih. Sedih karena tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah dan akan berpisah dengan “sang-kekasih” yang akan melanjutkan kuliah interior di luar negeri.

Acara perpisahan kelas di Toraja, Markonah tidak bisa ikut karena tidak diizinkan oleh bapaknya yang sudah renta. Pun Mukidi bak pahlawan mencoba datang ke rumah Markonah sebelum berangkat juga tidak berhasil mendapatkan izin untuk Markonah. Dan di rumah itulah pertemuan terakhir Markonah dan Mukidi, sebelum akhirnya mereka berpisah. Tak terasa air mata jatuh mengaliri pipi Markonah melihat punggung “kekasihnya” meninggalkan rumahnya. “Selamat jalan sayang” katanya dalam hati. Tak tahan menahan haru, Markonah masuk ke kamar dan menangis terisak-isak.

Sepulang dari Toraja, Mukidi berangkat menuju negara tetangga untuk kuliah, sementara Markonah “terpaksa” bekerja menjadi karyawan pada salah satu toko ole-ole di kotanya, mencari penghasilan untuk membantu orangtuanya menyekolahkan tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil.

“Tolong bungkuskan Almond Crispy Cheese 5 rasa ini masing-masing 4 duz ya Mbak” sambil menyerahkan sample 1 duz Almond Crispy Cheese dan Platinum Credit Card untuk pembayarannya. Seorang bapak ganteng dengan kumis tebal dan bulu mata lentiknya dengan suara yang berat menyapa Markonah, yang pada saat itu dipercaya menjadi kasir pada toko ole-ole itu. Markonah terperanjat dan terdiam sesaat. Dia mengenal dengan baik suara berat itu. Dalam hatinya berguman, suara Mukidi kah itu? Tidak salah lagi, didepan Markonah berdiri Mukidi masih dengan kumis tebal dan bulu mata lentiknya. Mukidi juga mengenali Markonah dengan mata sipit dan ginsulnya senantiasa menghiasi ketika dia tersenyum. Pertemuan setelah tiga puluh tahun berpisah itu pun berlanjut dengan dinner party dan nonton film di XXI dekat toko Markonah.

Akhirnya Mukidi yang karena kesibukannya sebagai pengusaha belum juga punya pasangan menikahi Markonah yang sudah setahun menjanda dengan lima anaknya. Cinta lama mereka bersemi kembali dan sekarang hidup bahagia. Markonah sekarang tinggal di rumah gendongan di kawasan elit yang di-develop oleh suaminya Mukidi. Mercedes Benz AMG GT 2 pintu juga mengisi garasinya. Kebahagian itu makin lengkap dengan kehadiran buah cinta mereka Laksmada Bhanu Bratadikara, seorang bayi laki-laki mungil, melalui proses in vitro fertilization (IVF) di Singapura.

First love never die dari Eugene Wilde mengalun lembut dari tape Mercedes Benz AMG GT Markonah. “Maybe first love never ever dies, Thats why Im still in love with you, Hold me close and look into my eyes, The way it used to be when you told me forever, you and me together…..”. “Hmmm…..gue banget nih lagu” gumannya dalam hati. Sambil bersenandung kecil dia membawa si buah hatinya Bhanu menyusuri kota menuju RS Siloam untuk immunisasi DPT aseluler (DPaT) yang tidak menyebabkan demam. Sejak menikah dengan Mukidi, life style Markonah berubah drastis. Hal-hal premium senantiasa menghiasi kehidupannya sehari-hari.

“…Bayar Bu !!!… Bayar Bu !!!…Buu saya mau Bayar !!!” teriakan Pa Alizar (yang mulai kesal karena tidak didengar) membuyarkan lamunan Markonah dari kisah asmaranya.

“Ups…maaf Pa, tadi sy ga dengar. Almond Crispy Cheese ini harganya 50.000 per-pack pa” sahut Markonah.

“Tolong di-packing 10 duz dengan masing masing rasa ya! 2 duz rasa cokelat, 2 duz rasa durian, 2 duz rasa stroberi, 2 duz rasa blueberry, dan juga 2 duz rasa green tea” kata Pa Alizar. “Untuk ponakan saya di Makassar” sambung Pa Alizar.

“Ha???…(agak kaget..))….Baik Pa!” sahut Markonah. Selanjutnya dengan gesit Markonah melakukan pekerjaannya dan menyerahkannya pada Pa Alizar, dengan senyum termanisnya.

“Hmmmm……nih bayarannya” Pa Alizar menyerahkan tujuh lembar pecahan seratus-ribu-an. “lebihnya buat kamu”, sahut Pa Alizar.

Diam-diam Pa Alizar mengagumi kecantikan senyuman Markonah dengan ginsulnya yang manis.

Makassar, 20 Mei 2019.

Bottom ad

Leave a Reply