INIPASTI.COM – SUMBAWA pada abad ketujuh-belas. Di rumah Kadhi Mampawa lapat-lapat terdengar suasana semarak pengajian, karena agama Islam baru masuk ke sana, kewajiban agama bagi kanak-kanak belum terlalu dihiraukan. Maka tak mengherankan jika yang mengaji di rumah kadhi adalah gadis-gadis dan pemuda yang berasal dari segala macam golongan masyarakat.
Di situ ada Maipa Deapati, putri tunggal Maggauka (Sultan) di Sumbawa yang sangat kesohor kemolekannya. Ia kesohor bukan hanya karena keturunan bangsawan tinggi yang memerintah negeri itu, tetapi juga karena ia merupakan kembang yang semarak dan harumnya tak ada duanya di dalam negeri.
Dan bila di tempat itu ada Maipa sebagai kembang yang sedang mekar, di sana ada pula seorang pemuda istimewa. Pemuda yang keras kemauan serta luar-biasa keberaniannya. Ia bergelar I Baso Mallarangang, lelaki yang tak terlarang kehendaknya. Dia adalah Datu Museng.
Sudah ditakdirkan rupanya, di rumah pengajian inilah mula terjalin riwayat Datu Museng dan Maipa Deapati, yang kemudian menjadi cerita rakyat turun-temurun paling kesohor dan amat digemari.










