Datu Museng dan Maipa Deapati (103)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – Belum habis bicaranya, Daeng Jarre tiba-tiba menghunus kerisnya. kemudian secepat kilat ditikamkan ke dada Datu Museng. Tapi panglima perang tangkas dan sakti ini lebih cepat mengelak dan suro Daeng Jarre menikam angin. Sebelum suro sempat manarik tangannya kembali, keris pusaka Datu Museng sudah terbenam ke ulu hatinya. Daeng Jarre masih sempat menjerit pilu sebelum rubuh ke lantai, laksana pohon yang tumbang. Ia sesaat menggelepar meregang jiwa, lalu tak berkutik lagi. Nyawanya telah menyeberang ke alam yang lain.

Mendengar pekik suro itu, Karaeng Galesong dan kawan-kawannya bergegas masuk ruang tengah. Didapatinya Datu Museng sedang berjongkok di depan mayat Daeng Jarre.

Inline Ad

Tanpa dapat lagi menahan amarahnya, Karaeng Galesong berteriak lantang.

“Hei kawan, palingkan dirimmu supaya kita berhadapan. Akan kuambil nyawamu, kuseberangkan hidupmu, kuarak kepalamu keliling kota, kugantung di tengah-tengah lapangan Karebosi.

Ketika dilihatnya Datu Museng belum juga berpaling, seakan tidak gentar mendengar kedatangnnnya, ia berteriak lebih keras lagi.

“Datu Museng keparat…! Aku Karaeng Galesong yang sakti dan digdaya. Aku datang untuk mangakhiri riwayat hidupmu. Bersiaplah, aku tidak biasa mengambil nyawa seseorang secara pengecut!”

Mendengar itu Datu Museng berpaling cepat. Ditatapnya Karaeng Galesong tajam-tajam.

“Benarkah kau Karaeng Galesong? Jika benar, aku sangat gembira. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dapat berjumpa denganmu sebelum aku meninggalkan dunia fana ini. Aku rela mati di tanganmu, di tangan salah seorang keluargaku yang cukup sakti dan perkasa. Hanya sayang, kehadiranmu terlalu cepat. Aku beIum ingin mati sekarang, aku masih hendak membalaskan dendam isteriku. Oleh sebab itu minggirlah hai Karaeng Galesong !”

“Tidak ! Aku tidak akan menyingkir!” Balas Karaeng Galesong. “Keluarga, tetap keluarga. Aku datang bukan untuk berbincang tentang keluarga. Kau perusuh, pemberontak terhadap kekuasaan Tumalompoa yang haqiqi di daratan Makassar ini. Ya, aku datang untuk bertempur denganmu, bersiaplah saudaraku !”

Datu Maseng heran mendengar ia dituduh sebagai perusuh dan pemberontak. Rupanya karaeng Galesong tidak mengerti duduk soal yang sebenarnya. Tapi baiklah, ia akan menerima kenyataan ini sebagaimana adanya, Ia tidak punya kesempatan lagi untuk menerangkannya. Bahkan ia merasa tak ada gunanya hal itu diterangkan, ia tokh tak butuh belas kasihan. Bukankah ia harus menyusul isterinya nanti. seperti yang telah dijanjikannya?

Bersambung…
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (102)

Bottom ad