INIPASTI.COM – Dua hal yang menyebabkan I Mangngalasa bertindak demikian. Pertama, ia tahu Datu Museng pemuda tampan yang keahliannya bermain raga, kurang tandingannya. Kedua, ia tahu, pemuda itu cinta kepada tunangannya, Maipa Deapati. Demikian pula sebaliknya, Maipa pun menaruh hati kepada Datu Museng.
Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (13)
Mangngalasa maklum, kedatangan Datu Museng untuk memenangkan kedua hal tersebut. Dan jika diberi kesempatan, akan mengahancurkan reputasinya sebagai ahli raga di daratan Lombok bukan saja, tapi juga bakal merampas tunangannya di depan matanya sendiri dan disaksikan oleh khalayak yang kini sedang mengelu-elukannya.
Jika hal ini sampai terjadi, rasanya tak ada lagi celaka di atas celaka. Maka, iapun meneruskan permainannya, tanpa membuang pandang sedikit pun ke pintu gerbang. Melihat ini, kakek Adearangang mulai tak enak perasaan. Jika tak disabar-sabarkan cucunya, maulah rasanya ia menyerbu ke dalam gelanggang menghajar anak-anak muda yang sombong itu.
Ketika itu pandangan Datu Museng menyapu jendela istana. Ia mencari bulan purnama yang mungkin bersembunyi di sana, tapi tak ditemuinya. Ia hanya melihat bintang-bintang saja yang menghiasi seluruh jendela, yaitu gadis-gadis cantik sebaya Maipa. Mengapa gerangan? Bisik hatinya, sambil melayangkan pandang sekali lagi, mencari yang dicari jangan sampai terselip di antara dara-dara ayu yang sedang asyik menonton. Akhirnya pandangannya melayang ke atas anjung istana di mana Maggauka Datu Taliwang duduk dengan Permaisurinya. Kebetulan Maggauka sedang memandang pula padanya sehingga pandangan mereka bersirobok.
Datu Museng segera menundukkan kepala memberi hormat. Maggauka lalu bertanya kepada Mangngalasa: “Siapakah anak muda di luar itu? Panggil juga masuk, nampaknya ia berhajat pula masuk gelanggang!”
“Datu Museng, tuanku” Sahut I Mangngalasa.
“Oh…, kau ajaklah sahabatmu itu!”
“Baik, tuanku” jawab putra Sultan Lombok sembari datang menjemput Datu Museng dengan hati mengkal di pintu gerbang.
“Silahkan saudara masuk gelanggang atas permintaan Maggauka!”
“Baiklah, terima kasih atas keramah-tamahan pangeran” Jawab Datu Museng. Lalu memberi isyarat kakeknya agar tenang menonton. Ia mengikuti pangeran Mangngalasa dan mengambil tempat di antara pemuda-pemuda lainnya.










