Datu Museng dan Maipa Deapati (40)

COVER (By Hilman)

INIPASTI.COM – Mata kakek Adearangang merah menyaksikannya. Mata itu laksana api berkobar-kobar. Dan terbayang kecongkakan putera mahkota Lombok itu, di gelanggang permainan raga, tempo hari. Dan kini, ia datang kembali dengan kecongkakan yang tiada bertara, bersama barisan tubaraninya. Pasukan itu pun tak kalah pongahnya.

“Haa… sekarang tak ada lagi orang yang dapat mencegahku menghajarmu sepuas mungkin, hai anak-anak yang lupa daratan” umpat kakek Adearangang di dalam hati. Ia melompat tangkas dari anjung rumahnya ke tanah, tanpa melalui satu pun anak tangga.

Inline Ad

Bersamaan dengan itu, wuwungan rumah sudah bocor, ditimpa hujan peluru. Dan di tiang tengah, berdebam peluru besar jatuh bergulir mengenai dinding dan menggetarkan seluruh rumah.

Datu Museng yang memahami kesaktian kakeknya, tetap di dalam bilik. Ia menyabar-nyabarkan Maipa agar tak cemas.

Adapun kakek ketika kakinya menjejak tanah, terus memperbaiki letak sarungnya. Kemudian, ia maju menyongsong serbuan para tubarani, dengan si lidah-buaya di tangan kanannya. Rambut dan kumisnya tegak, sedang sorot mata dan jiwanya menyala-nyala. Luapan amarahnya tak terbendung.

Kawanan tubarani yang maju diiringi sorak-sorai gegap gempita, meletup-letupkan bedil dan lelanya. Tapi, pasukan itu menahan langkahnya ketika melihat kakek berlari kencang ke arah mereka.

Semua bedil dan lela, diarahkan ke satu sasaran. Semua membidik sang kakek yang kini kian dekat. Sedetik kemudian, meletuslah serentak senjata-senjata itu. Suara bedil yang beratus dan lela yang berpuluh, menjadi satu bahana laksana hendak memecahkan buana layaknya. peluru yang keluar dari laras-laras senjata tak berperasaan itu, menumpuk ke badan kakek hingga orang tua itu terlempar setombak ke belakang.

Akan tetapi, belum lenyap asap mesiu diterbangkan angin, kakek Adearangang telah berdiri pula. Ia berlari dengan kencang ke arah tubarani-tubarani yang tak sempat lagi mengisi peluru senjatanya. Sekejap saja orang tua sakti itu, sudah berada di tengah-tengah mereka. Dan tanpa ayal-ayalan lagi si lidah buaya terayung ke kanan-kiri, ke depan-bela kang, menebas siapa saja yang berdiri di dekatnya. Layaknya kakek sedang merambah semak-semak yang menghalangi jalannya. Semua tumbang dan darah memancur tiada henti-hentinya.

Bersambung

Bottom ad