Datu Museng dan Maipa Deapati (84)

COVER (By Hilman)
Top Ad

INIPASTI.COM – “Ampuni hamba, tuan besar, di bawah kaki paduka tuan besar… Hamba sudah menjalankan tugas, datang ke rumah karaeng Datu Museng. Tapi apa yang hamba saksikan adalah….” Daeng Jarre berhenti berkata sesaat, lalu sambungnya lagi, “ampuni hamba, duli tuanku !”

“Ya kami mengampunimu, bicaralah!” bujuk I Tuan Jurubahasa.

Inline Ad

“Tuan besar, hamba telah melihat apa yang belum pernah hamba saksikan”.

“Apa yang kau lihat? Tumalompoa menyela.

“Hamba melihat bulan purnama sedang duduk di samping karaeng Datu Museng”. Daeng Jarre menundukkan kepala tersipu-sipu ketika selesai mengucapkan kata-kata itu.

“Apakah kau tidak salah lihat? Apakah itu bukan bintang? tanya Jurubahasa.

“Jika pun bintang, maka itulah bintang dari segala bintang, tuanku !” jawab suro sambil memperbaiki sila kakinya. “Jika ia kembang, hamba yakin dialah kembang dari semua kembang. Mata hamba masih percaya, mungkin itu adalah jelmaan bidadari dari kayangan. Sebab matanya kemilau laksana bintang kejora yang mengasyikkan mata, melebur-hancur hati untuk menyerah bulat-bulat. Pipinya.,., oh tuanku, putih kemerah-merahan, halus terasa dalam hati dijamah mata. Bibirnya…, aduh…, bisa menenggelamkan Makassar jika ia tersenyum. Belum lagi hidungnya yang mancung, manis tegak di antara pipi yang montok, menggelitik mata untuk memandangnya kendati hanya sekejap. Apalagi keseluruhan bentuk tubuhnya yang molek padat berisi itu. Buana ini bisa tenggelam dibuatnya. Ampun tuan besar, kelu rasanya lidah hamba untuk menggambarkan semuanya. Hamba kehabisan kata-kata. Cukup rasanya jika hamba katakan, Maipa Deapati sayang jika mati, sayang jika hilang dari dunia ini, sayang apabila maut menjembanya. Apalagi jika tanah memeluknya dan cacing mangerubutinya. Ah, sungguh sayang…. Menurut hemat hamba, tak seorangpun yang bisa sadar jika tegak dan memandang wajah putri itu. Iman semua lelaki tanpa kecuali, pasti akan runtuh jika sanggup memandang wajahnya sedikit lama. Barangkali putri itu bidadari yang menjelma manusia, tuanku. Itulah sebabnya hamba gagal mengucapkan kata biar sepatah pun. Otak hamba menjadi buntu, ingatan hilang dan pulang kembali dengan tangan hampa. Tuanku, hamba kembali mencari pesan yang telah hilang dalam ingatan. untuk memungut kata yang tercecer di tengah jalan. Sudah lama hamba menjadi suro, mahir bertutur mengucap kata bersilat lidah, tapi baru kali ini hamba hilang dah hanyut dalam pikiran. Semoga tuan besar memahami keadaan hamba. Oh tuan besar…, hamba hilang dalam silauan cemerlangnya surya di pagi hari”. Daeng Jarre berhenti berkata dan merenungi ujung cepatu Jurubahasa, seakan-akan cepat itu yang diajak berbincang.

Bersambung…

Baca juga: Datu Museng dan Maipa Deapati (83)

Bottom ad