Dialog: Nilai Solutier Dalam Konflik

Jalaluddin Basyir, S.S., M.A. Dosen Pada Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. E-mail: [email protected]

INIPASTI.COM, MAKASSAR- Konflik adalah satu kata yang tidak bisa dipisahkan di zaman modern ini. Entitas dirinya selalu m erepresentasikan sebuah perbedaan/diskrepansi baik yang ada dalam wilayah terrestrial (obyek materil) maupun celestial (obyek transenden) yang hampir mustahil untuk dipertemukan. Kemustahilan ini bukan tanpa sebab dikarenakan masing-masing individu atau kelompok tidak menginginkan apa yang dimilikinya menjadi obyek kepemilikin orang lain. Karenanya, mereka akan melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Konflik yang selalu ditandai dengan bentuk kekerasan atau pemaksaan ini tidak dapat disimpulkan semata sebagai bentuk dorongan agresivitas bawaan manusia secara lahiriah namun suatu hal yang juga berkaitan dengan orientasi eksternal yang mendorong konflik itu lahir. Hal ini dipertegas oleh Konrad Lorenz yang menyebutkan bahwa adanya kondisi sosial, politik, ekonomi, dan bahkan agama yang berpartisipasi dalam sebuah konflik. Bahkan menurut Berger agama seringkali dianggap sebagai alat legitimasi yang paling efektif sehingga sering dipakai sebagai jubah untuk melanggengkan kepentingan politik. Dalam hal ini, orang yang merasa kesulitan memenangkan arena perpolitikan, ekonomi, atau kekuasaan pada umumnya, dapat menggunakan agama sebagai modal pemenangan mereka. pandangan yang sama juga disampaikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla ketika menyampaikan orasi ilmiahnya dalam penerimaan Doctor Honoris Causa yang diserahkan oleh Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di bidang Sosiologi Agama pada tanggal 25 Januari 2018, mengatakan bahwa mengapa agama seringkali dijadikan permasalahan utama di setiap konflik? Hal ini karena orang tidak berpikir dua kali ketika membela agama mereka masing-masing.

Baca Juga:  Pilkada dan Pandemi

Menyoal sebuah konflik bukanlah suatu hal yang baru karena konflik telah terjadi jauh sebelum manusia hidup dan berkembang seperti saat ini. Dalam sejarah agama Islam, misalnya, terjadi konflik antara Iblis dan manusia pertama yang diciptakan Allah swt., yakni Adam dan Hawa. Konflik ini akhirnya membuat Iblis terusir dari syurga karena tidak menginginkan dirinya bersujud dihadapan Adam dan Hawa, sebagaimana yang tertulis pada Q.S. Al-Baqarah: 34 yang menjelaskan bagaimana Malaikat terkecuali Iblis yang enggan bersujud di hadapan Adam dan Hawa karena mereka merasa lebih mulia dibandingkan keduanya. Konflik lainnya yang banyak terjadi di Timur Tengah saat ini sebagai sebuah konflik saudara atau perang saudara dan konflik antara Israel dan Palestina yang tak kunjung berakhir bahkan semakin memanas dengan klaim yang dilakukan pihak Amerika Serikat terkait pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem. Contoh-contoh ini menjelaskan kepada kita bahwa konflik telah mensejarah dalam peradaban manusia dan mengkristal menjadi penyakit kronis yang tidak bisa dihindari sampai saat ini dan bahkan akhir zaman nanti.

Baca Juga:  Membunuh Kecemasan (Wabah Covid-19)
Inline Ad

Melihat persoalan Ekonomi, Politik, Budaya, Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) adalah persoalan yang sesungguhnya memiliki dimensi moralitas yang baik di dalamnya bagi umat manusia. Oleh karena itu, seyogyanya persoalan yang baik dapat diselesaikan dengan baik pula diantaranya adalah dengan melakukan pendekatan dialog. Leonard Swidler, dkk (2007) dalam bukunya berjudul “TRIALOGUE (Jews, Christians, and Muslims in Dialogue)” menyebutkan dialog adalah komunikasi dua arah yang terjadi antara dua individu yang memiliki pemahaman/pandangan berbeda mengenai suatu obyek dengan tujuan untuk bersama-sama belajar tentang kebenaran dan menghilangkan ketidaktahuan menyangkut obyek tersebut dari satu sama lainnya. Dengan kata lain, dialog tidak mengedepankan kebenaran mutlak dari salah satu pihak, tapi bersama-sama membangun pemahaman kebenaran dari masing-masing tanpa adanya intimidasi. Habermas bahkan menekankan pentingnya suatu komunikasi yang dianggapnya sebagai suatu produk demokrasi dimana berbicara adalah tindakan dan perbuatan yang menumbuhkan saling pengertian tentang aneka kondisi yang mengatur tindakan bersama sehingga hidup bersama yang adil dan beradab jadi mungkin. Allah swt. dalam surat Ali-Imran ayat 159 pun menegaskan bahwa betapa pentingnya menyelesaikan sebuah permasalah melalui musyarawah karena tindakan ini sejatinya menunjukkan kecintaan dan (ke)lemah lembutan kita kepada pihak lain dan bahkan memohonkan ampun bagi mereka yang telah menyakiti kita tanpa melakukan pembalasan sama sekali. Dengan demikian, pendekatan dialog adalah sebuah pendekatan persuasif yang memiliki nilai solutier di dalamnya sampai-sampai Allah swt. menyukai dan mencintai umatnya yang menganjurkan musyawarah di setiap permasalahan yang dihadapi karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Baca Juga:  OPINI: Sakitnya Tuh di Sini (Jempolmu Harimaumu)

Oleh: Jalaluddin Basyir, S.S., M.A.

Dosen Pada Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
E-mail: [email protected]

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.