Dukungan Kepada NA Semakin Redup

INIPASTI.COM, Pilgub adalah hajatan demokrasi terbesar pada level provinsi. Pilgub serentak pada 2018 akan menentukan siapa Gubernur pilihan rakyat secara demokratis. Saat ini di Sulsel ada empat calon Gubernur yang paling banyak dibicarakan oleh publik: Nurdin Halid (NH), Nurdin Abdullah (NA), Ichsan YL (IYL) dan Agus Arifin Nu’mang.

Dari keempat bakal calon itu, NA adalah calon yang paling duluan mensosialisasikan dirinya sebagai bakal calon gubernur yang memiliki pasangan wakil, yakni Tanribali Lamo (TBL), kemudian disusul NH yang berpasangan dengan Aziz, dan yang paling anyar menentukan wakilnya adalah IYL, yang berpasangan dengan saudaranya Azis, Cakka.

Baca Juga  Keluarga Siap Dorong Nurdin di Pilgub

Kontestasi semakin seru di antara para calon karena IYL mengambil pasangan wakil saudaranya Azis yang lebih dulu digaet oleh NH. Pada saat calon lain memastikan calon wakilnya, NA malah membuka kemungkinan akan memilih calon wakil yang lain, jika hasil survei bersama TBL tidak memberikan indikasi untuk menang. Padahal jauh hari sebelumnya, NA sudah memiliki keyakinan akan maju sebagai calon gubernur bersama TBL. Atas kemungkinan gonta-ganti pasangan itu, publik mulai mempertanyakan komitmen politik NA. “Kalau belum jadi gubernur saja, bisa seenaknya mempermainkan kepercayaan publik, bagaimana kalau nanti terpilih. Saya sangat sayangkan pernyataan NA yang berniat menggantikan TBL, jika hasil surveinya kurang memuaskan. Padahal saya mendukung beliau. Tapi kalau begini caranya, saya sudah mulai kurang percaya pada NA.” Demikian komentar Ir. Urfan, Msi, salah seorang pendidik warga Makassar.

Baca Juga  Dekan Fisip UNSA Makassar Uji Kelayakan Pilkada Sekprov Sulsel

Dukungan parpol yang semakin tidak jelas kepada NA membuat publik juga mempertanyakan apakah NA jadi maju sebagai calon gubernur 2018? Padahal beberapa waktu lalu (akhir Juni 2017), NA pernah mengumumkan kepada publik, bahwa NA telah mendapat dukungan sebanyak 16 kursi DPRD dari dua parpol. “Saya hanya perlu menambah satu kursi, sudah memenuhi syarat untuk maju.” Demikian penjelasan NA ketika mengembalikan formulir di PPP.
Beberapa pernyataan NA memang potensial menimbulkan keraguan publik, demikian penjelasan Dr. Yahya, seorang dosen pada perguruan tinggi swasta. 

Baca Juga  Obama Ketua Tim IYL, Sekretaris Hanura: Terlalu Banyak Kepentingan Pribadinya

Keraguan publik potensial menimbulkan berkurangnya kepercayaan publik pada seseorang aktor politik. Bisa dipahami kalau dukungan kepada NA bisa jadi akan redup. (red/ipc)

Leave a Reply