Ekspor Komoditi Unggulan, NA Singgung Regulasi Investasi

Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,bersama dengan Kementerian Perdagangan RI, kembali melakukan ekspor direct call, dari Makassar ke sejumlah negara Asia, Rabu (20/11), di Pelabuhan Peti Kemas Makassar.

Dalam ekspor kali ini ada 18 komoditas unggulan di antaranya rumput laut, ikan, udang, berbagai komoditas pertanian seperti coklat, merica, kacang mede, dan bahan logam. Tercatat, 500 kontainer dengan volume 7.930,51 ton mengangkut komoditas ekspor Sulsel menuju Jepang, China, Hongkong, Vietmnam, Korea Selatan dan Taiwan. Total pemasukan daerah atas ekspor ini mencapai 19,75 juta USD.

Komoditi ini berasal dari berbagai eksportir diantaranya PT. Comextra Majora, PT. Biota Laut Ganggang, PT. Karbon Tionin Semesta, PT. Tri Mustika Cocominaesa, PT. Toarco Jaya, PT. Parlevliet Paraba Seafood, PT. Usaha Central Jaya Sakti, PT. Dwira Masagena, UD. Anugerah Bintang Cemerlang, PT. Bogatama Marinusa.

Pada kesempatan tersebut Nurdin Abdullah sempat kembali menyinggung masalah regulasi investasi yang akan dievaluasi karena menghambat investasi di Sulawesi Selatan.

Baca Juga:  Ahok Buka Akses Info Pertamina ke Publik, Dari Impor hingga Kapal

“Kami akan mengevaluasi semua yang menghambat investasi, karena saya kira sangat jelas arahan bapak presiden tema utamanya adalah ciptakan lapangan kerja dan mendorong SDM yang unggul,” jelas Nurdin Abdullah dihadapan Mendag RI dan seluruh pelaku eksportir.

Menurutnya tema sentral pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin adalah bagaimana menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan kolaborasi yang baik antar pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

“Saya kira ini dua tema sentral yang harus bisa dijabarkan, bahwa harus bekerja berkolaborasi, bersinergi dan ini sudah dilakukan di Pelindo. Alhamdulillah saya kira kedepan ini terus harus jaga, dengan baik dan terus melakukan koreksi-koreksi apa yang menjadi hambatan hambatan ekspor,” jelas mantan Bupati Bantaeng dua periode ini.

Baca Juga:  Tahun Depan, Dana Desa Sulsel Naik Dua Kali Lipat

Selain itu, Gubernur Sulsel juga meminta kepada seluruh petani agar meningkatkan produksi rumput laut menjadi kebutuhan pokok. Ia menyebutkan, salah satu perusahaan di Sulsel membutuhkan hingga 100 ton rumput laut perharinya, sementara yang mampu disediakan oleh petani hanya berkisar 30 sampai 50 ton setiap hari.

“Eksportir, Alhamdulillah, harga-harga komoditas naik, terutama rumput laut yang tadinya hanya Rp6.000 sampai Rp7.000, hari ini sudah mencapai Rp28.000,” katanya

Tingginya angka permintaan rumput laut, dikarenakan adanya Industri olahan rumput laut di Sulsel. Ia mengatakan, industry semacam ini akan terus hadir jika ada kepastian bagi pengusaha daari pemerintah baik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

“2019 ini, Sulsel sudah punya industri pengolahan, jadi sekarang sudah sampai kerajinan, mungkin melalui forum ini juga saya sampaikan rekan-rekan perbankan tinggal bagaimana produksi rumput laut kita naikkan, karena jujur saja industri terpasang itu kapasitas 100 ton per hari tapi kita baru mampu mensuplai sekitar 30 sampai 50 ton,” pungkasnya.

Baca Juga:  18 Kabupaten Telah Cairkan Dana Desa Tahap I

(Iin Nurfahraeni)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.