Gegara Ujaran Kebencian, Aufar Diciduk Polisi

Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Karena mulut badan binasa, pepatah lama ini, amat cocok dialamatkan pada lelaki Muhammad Aufar Afdillah Alham (29 thn), pegawai honorer pada Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Jalan AP Pettarani No 59 Makassar, dalam kasus dugaan ujaran kebencian.

Aufar yang bertugas di bagian umum, Kantor Dinsos Prov. Sulsel. diciduk Tim Cyber Polda Sulsel, karena Aufar mengunggah status di akun facebook pribadinya, “ Isi pesan mengajak orang-orang untuk ikut gerakan people power 22 Mei mendatang”.

Selain itu, pegawai yang berstatus honorer, Muhammad Aufar Afdillah Alham, menulis “Diperkirakan ada 200 korban jiwa saat gerakan people power dilakukan”.

Muhammad Aufar merupakan pegawai honorer di Kantor Dinas Sosial Provinsi Sulsel, mengaku membuat status di facebook, “Lantaran kecewa dengan pemerintah”.

Baca Juga:  Tak Tolerir Alasan Mudik, 33 Jaksa Terancam Sanksi dari Kajati Sulsel

“Ini jelas melanggar pidana dan ucapan dia sangat berbahaya sekali bila diketahui masyarakat luas,” kata Dicky saat menggelar konferensi pers di ruang Cyber Crime Polda Sulsel, Jumat (17/5/2019).

Dicky mengungkapkan, selang sehari setelah mengunggah status tersebut, pihaknya langsung menggelar “Patroli siber dan melacak keberadaan Aufar”. Dia berhasil diamankan di sebuah rumah di Kecamatan Panakukang, Makassar, Kamis (16/5/2019).

Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa handphone dan screenshoot status di Facebook Aufar. Menurut Dicky, status yang ditulis, bisa saja mengancam stabilitas keamanan negara, terutama dalam suasana menanti pengumuman oleh KPU.

“Menurut keterangan awal, Aufar bukan relawan paslon A atau B. Tapi kami akan dalami apakah dia masuk kelompok A atau B,” Dicky menambahkan, Muhammad Aufar dijerat Undang-Undang ITE, dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Baca Juga:  Bantuan Hukum Mitra Mandiri Hadir di Makassar

Kepala Dinas Sosial Prov. Sulsel, DR H. Andi Ilham A.Gazaling, M.Si, saat dikonfirmasi Jumat (17/5/2019). Ia mengatakan, Aufar bakal langsung dihentikan, jika terbukti atas perbuatannya, bagaimana nasib Aufar selanjutnya, kita nantikan hasil pemeriksaan Polisi.

Sebelum bekerja, Aufar merupakan alumni salah satu perguruan tinggi di kota Bandung, Jawa Barat. Aufar bergelar sarjana Ilmu kesejahteraan Sosial. “Dia di tempatkan di bagian umum, dengan status tenaga outsorsing, namanya sekarang. Dan mulai mengabdikan diri sejak tahun 2012 lalu. (sdn-018)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.