Site icon Inipasti

Gerakan Politik Nurdin, Menyongsong Pilgub

INIPASTI.COM – Ada dua Nurdin yang bakal maju pada Pilgub Sulsel 2018 yang akan datang. Nurdin Halid, yang juga ketua DPP Dekopin, dan Ketua Harian Golkar Sulsel. Sementara Nurdin yang lain adalah Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah. Dalam tiga bulan terakhir ini, dua Nurdin ini yang paling aktif mensosialisasikan dirinya. Nurdin Abdullah malah sudah memiliki pasangan calon wakil gubernur, sementara Nurdin Halid memilih Aziz Qahar untuk calon wakilnya.

Baik Nurdi Halid (NH) maupun Nurdin Abdullah (NA) akan menghadapi kekuatan politik Ikhsan YL (IYL) dan kematangan serta ketenangan politik Agus Arifin Nu’mang. Ikhsan dikenal memiliki kekuatan politik yang riil pada arus bawah, sedangkan Agus sangat piawai memainkan strategi politik. Agus sangat tenang merespon reaksi politik yang berkembang. Saat ini Agus menjadi salah satu calon Gubernur yang belum melakukan gerakan politik yang massif pada arus bawah dibanding dengan NH, NA dan IYL.

Gerakan politik yang dimainkan NH nampak menonjol, memanfaatkan jaringan Partai Golkar. Selama Golkar dalam rangkulan NH, ada sejumlah bupati dan walikota yang terus digoda untuk menjadi Ketua DPD II Golkar. Ada bupati yang mau, ada bupati yang tolak. Selain ingin menguasai bupati dan walikota, NH juga merambah partai politik, sejumlah parpol sudah diajak tukar pikiran. Bahkan tim NH sudah melakukan safari politik yang serius untuk memengaruhi parpol.

Apakah gerakan politik NH telah memberikan kontribusi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya? Tentu popularitas dan elektabilitasnya merangkak naik, tapi kenaikannya masih sangat perlahan, dibandingkan dengan perolehan dukungan dan elektabilitas yang dimiliki IYL, Agus dan NA, demikian diuraikan seorang manajer strategi salah satu lembaga survei yang berkantor di Makassar.

NH bersama timnya tentu saja berusaha menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan elektabilitasnya. Dengan melihat langkah politik NH, yang memilih Aziz Qahar sebagai calon wakilnya, memberikan isyarat bahwa NH hanya akan memanfaatkan pendukung fanatik Azis Qahar. Kalau isyarat ini benar, maka gerakan politik apapun yang dilakukan NH tidak memberikan daya dorong yang memadai. Karena rumus utama untuk memperoleh dukungan dan pengenalan ada pada nilai kebaruan, ada sesuatu yang berbeda. Publik rindu pada soal-soal yang baru, mengimpikan konsep-konsep baru. NH malah menggunakan parpol lama, memilih Aziz Qahar yang memiliki sejarah politik dalam arena Pilgub yang dua kali kalah, menawarkan konsep ekonomi kerakyatan dan keummatan. Semua gerakan politik NH mengusung barang lama, karenanya tidak menggairahkan, tidak mampu membangkitkan libido politik publik.

Exit mobile version