Site icon Inipasti

Guru Besar FEB UGM : Impor Hanya Mematikan Petani

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Catur Sugiyanto

INIPASTI.COM, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Catur Sugiyanto menyayangkan dan menilai klaim beberapa pihak yang mengatakan stok jagung kosong bagi perhitungan bisnis peternakadalah tidak baik. Bahkan, hal tersebut menurutnya terindikasi adanya ‘economic bubbles’.

“Jika Kementerian Pertanian yakin, didatangi saja, dimana ada stok jagung, untuk melawan informasi yang bersifat ‘bubble’,” katanya.

Economic bubbles sendiri adalah istilah yang mengacu pada kondisi dimana harga suatu produk tertentu dalam segmen pasar tertentu mengalami kenaikan harga secara tidak wajar serta terjadi dalam waktu relatif singkat.

Seperti diketahui, terjadi kenaikan harga jagung di wilayah-wilayah tertentu yang menimbulkan perdebatan terkait pangkal masalahnya. Menurut Catur, data produk pertanian sangat krusial untuk menentukan arah kebijakan yang akan diambil.

“Pemerintah harus menguasai informasi dan data terkait produk pertanian. Berapa jumlah, dimana dan siapa yang mengelola (produk pertanian termasuk jagung)”, ungkap Catur.

Sehingga dengan penguasaan informasi tersebut menurutnya pemerintah akan mampu memahami gejolak terhadap komponen terbesar pakan ternak tersebut.

“Dengan demikian, pemerintah bisa memahami perilaku harga, apakah betul-betul harga naik karena produk langka atau dimainkan trader kemudian keberpihakan pemerintah kepada petani diperlukan,” ungkapnya.

Data stok jagung Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa sampai 6 September 2021, stok jagung mencapai 2,6 juta ton dimana lebih dari setengahnya atau 56 persen berada di tangan GPMT dan pengepul. Sejatinya stok jagung tersebut mampu memenuhi permintaan bagi peternak yang diperkirakan mencapai 2,4 juta ton selama September hingga November.

Polemik jagung kemudian menjadi rumit setelah beberapa pihak menghembuskan isu impor jagung di tengah stok jagung yang ada di daerah sentra. Maka, pilihan melakukan impor dalam situasi seperti ini sungguh sangat tidak rasional.

Menurut Catur, berdasarkan data yang ada di Kementerian Pertanian, kebijakan impor tersebut dapat merugikan dan mengancam keberlangsungan petani. “Kalau demikian, impor hanya akan mematikan petani. Tidak setuju impor, Kementrian Pertanian yakin ada jagung sekian ton di tangan siapa dan seterusnya”, ujarnya.

Terpisah, Rektor STIKOM Bandung sekaligus pengamat Sosial Dedi Djamaludin Malik mengungkapkan bahwa impor dapat dilakukan dalam keadaaan yang betul-betul terpaksa dan tentu menimbulkan konsekuensi ke depannya. “Bila stok pangan terbukti tak siap di dalam negeri maka impor terpaksa dilakukan dengan syarat pemerintah wajib memberi kompensasi yang bisa menguatkan kapabilitas petani kita. Tapi sebelum impor dilakukan perlu ada pengecekan apa yg dikatakan bahwa stok pangan (jagung) di dalam negeri benar-benar tidak siap. Bila kementriaan pertanian punya data sebaliknya maka Kementrian Perdagangan (yang mengungkap stok kosong) harus dilawan”, ujar Dedi.

Exit mobile version