Hantu Resesi Semakin Nyata


Oleh: Anik Wijayati

INIPASTI.COM, OPINI – Resesi bagaikan hantu yang semakin nyata. Baik negara maju maupun negara berkembang tak bisa menghindar dari jurang resesi. Sejumlah negara telah masuk ke jurang resesi ekonomi, di antaranya Jerman, Prancis, Italia, Jepang. Begitu pula dengan Indonesia.

Inline Ad

Penyebab terjadinya resesi karena diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme yang berbasis riba atau bursa saham, pendapatan suatu negara mengandalkan pemasukan dari pajak dan utang serta tidak bertumpu pada sektor ekonomi rill.

Pada sistem ini tidak ada pengaturan terkait kepemilikan, baik itu kepemilikan pribadi, umum dan negara, sehingga terjadi monopoli harta. Kepemilikan harta sangat dikendalikan oleh kekuatan modal. Siapa yang memiliki modal besar, dialah yang dapat memengaruhi kebijakan ekonomi suatu negara. Liberalisasi SDA menjadi bukti bahwa ada pengaruh besar dari sejumlah korporasi. Sistem ini sangat rapuh dan bersifat menghancurkan diri sendiri.

Kesalahan mendasar dari ekonomi kapitalisme karena tidak berdasar pada akidah yang benar. Yaitu segala sesuatu berasal dari Sang Khaliq. Sebab hanya Allah SWT yang mengetahui apa yang menjadi kebutuhan manusia dan apa yang terbaik untuknya. Inilah yang tidak diketahui oleh para pengemban sistem ekonomi kapitalis. Walau persoalan demi persoalan kerap kali terjadi, tapi mereka tidak mau berlepas dari sistem tersebut meski mereka menyadarinya.

Baca Juga:  RUU Ciptaker: Kampanyekan Lewat Dukungan Para Artis

Seperti yang dilansir www.amazon.com, Roger Terry dalam bukunya Economic Insanity mempertanyakan dan menyarankan agar kita meninggalkan empat pilar fundamental kapitalisme yakni pertumbuhan ekonomi tanpa akhir, produktivitas yang terus meningkat, kemajuan teknologi yang semakin cepat dan kepentingan pribadi.

Dia menunjukkan bagaimana asumsi dasar yang mendorong versi kami dari sistem pasar bebas menyebabkan sejumlah masalah yang saling terkait dan mengakar. Dia mengeksplorasi dilema sosial kritis yang diakibatkan oleh asumsi ekonomi kita saat ini, termasuk hilangnya kebebasan pribadi dan demokrasi, peningkatan ketidaksetaraan yang terus-menerus dan tak terhindarkan dan pemisahan Amerika.

Jika kita ingin mengubah bangsa kita dari jalan kebodohan ini, Terry berpendapat, pertama-tama harus meninggalkan asumsi salah yang mendorong pemikiran kita. Memasukkan ide dari Adam Smith dan Thomas Paine hingga Paul Johnson dan Herman Daly,Economic Insanity menantang pembaca untuk berhenti mencari jawaban di dalam sistem dan beralih ke sistem yang berubah.

Demikianlah sebagian ungkapan yang disampaikan warga Amerika sendiri terhadap sistem kapitalis dan saat ini telah mencapai puncak kegagalannya.

Baca Juga:  OPINI: Urgensi Menegakan Prinsip-Prinsip Good Governance

Maka, solusi Islam atas persoalan krisis ekonomi hari ini dikembalikan pada tiga aspek yaitu: Pertama, aspek distribusi. Negara khilafah harus memastikan pendistribusian harta tersebar kepada seluruh rakyat guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanya, baitul mal harus memiliki kas yang cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pokok masyarakat baik pendidikan, kesehatan maupun keamanan.

Dalam khilafah Islam, pos-pos pemasukan baitul mal bisa lebih optimal. Jika ada krisis atau wabah seperti saat ini, negera tidak akan mengalami resesi. Pemasukan untuk baitul mal bisa dari harta anfal, fa’i, ghanimah, kharaz dan jizyah, serta bisa dari SDA, berupa migas, tambang, hasil laut, kehutanan dan lainnya. Ada juga harta zakat untuk 8 asnaf.

Kedua, ekonomi negara harus bertumpu pada sektor rill, yakni bergerak pada sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Misalkan sektor jasa, perkebunan, pertanian dan lain-lain.

Ketiga, pengaturan kepemilikan. Dalam Islam, kepemilikan harta terbagi menjadi tiga kategori yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Untuk kepemilikan umum pengelolaannya oleh negara, tidak boleh diberikan kepada swasta. Rasulullah SAW bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga:  Pemuda dalam Pentas Demokrasi Kebangsaan

Ketiga jenis kepemilikan umum tersebut, secara bersama-sama rakyat memiliki hak untuk mengambil manfaatnya. Maka, kepala negara/pemerintah akan mengelolanya serta hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pembiayaan pendidikan, kesehatan maupun untuk infrastruktur sehingga rakyat bisa sejahtera.[]

//Penulis, Ibu Rumah Tangga/Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.