Ini Solusi ARB Atasi Macet di Kota Makassar

Abdul Rahman Bando saat menghadiri diskusi di Cafe Res_Publica di Makassar.

INIPASTI.COM, MAKASSAR, – Calon Wakil Walikota Makassar, Dr Abdul Rahman Bando (ARB) menilai semua masalah perkotaan memiliki solusi. Termasuk kemacetan.

“Setidaknya ada dua faktor penyebab macet di Kota Makassar. Pertama ruas jalan yang terbatas, kedua jumlah kendaraan yang meluber di waktu rush hour,” kata ARB dalam diskusi yang digelar Komunitas Wartawan Politik Sulsel, Minggu (5/4).

Inline Ad

Ia mencontohkan akses jalan yang menghubungkan masyarakat dari bagian timur kota ke pusat kota hanya ada dua, yakni jalan Perintis – Urip Sumoharjo dan Jalan Tol. Akibatnya, macet tidak terelakkan di sepanjang jalan Pettarani – Urip Sumoharjo. Dan kemacetan itu meluber sampai ke jalan Pettarani dan jalan Masjid Raya.

“Sebab semua kendaraan dari selatan tujuannya menuju Urip Sumoharjo. Kalau ada alternatif jalan lain yang menghubungkan maka tentu volume kendaraan yang melintas bisa terbagi dua,” kata ARB.

Baca Juga:  Appi : Kalau Cuma Dijanji SajaTerus, Kenapa Mesti Dipilih Lagi?

Dari sisi selatan kota, juga hanya ada dua ruas jalan penghubung, yakni jalan Alauddin dan Barombong. Kondisi di Barombong lebih parah sebab hanya ada satu jembatan yang hanya muat untuk dua kendaraan.

“Karenanya, dari sisi infrastruktur jalan, harus ada jalan penghubung lain dari jalan Pettarani menembus sungai Jeneberang dan tiba di Taeng, Gowa. Agar tidak lagi macet. Begitupun Barombong, jembatannya ditambah,” lanjutnya.

Solusi berikutnya adalah zonasi karyawan dan pegawai serta siswa sekolah. Sebab pada rush hour yakni pagi dan sore hari, jalan dipadati oleh kendaraan yang didominasi penumpang siswa sekolah dan mahasiswa serta karyawan swasta dan pegawai negeri.

“Solusi zonasi siswa harus dibuat merata fasilitas semua sekolah. Kita tinggalkan istilah sekolah unggulan, karena itu hanya mempertajam gap dengan kualitas sekolah di pinggiran kota. Sehingga orang tua tidak lagi menyekolahkan anaknya di sekolah yang jauh dari rumah,” kata ARB.

Baca Juga:  Komunitas Pemuda Bulukumba Dukung IYL-Cakka

“Pegawai juga sudah saatnya kita zonasi. Khususnya pegawai di kantor layanan, seperti pegawai kantor kelurahan, camat, puskesmas dan guru-guru. Kalau guru tersebut tinggal di Rappocini maka carikan sekolah di Rappocini. Bukan di Sudiang,” imbuhnya.

Akademi Unibos Makassar, Dr Arief Wicaksono menilai solusi zonasi yang ditawarkan ARB sebagai inovasi yang solutif bagi kemacetan di Kota Makassar sekaligus menghilangkan praktik mutasi karena perbedaan pilihan politik yang biasanya terjadi di birokrasi pemerintahan.

“Zonasi pegawai itu sangat menarik. Banyak sekali pegawai yang numpuk berdomisili di satu tempat, dan jauh dari tempat kerjanya. Kalau bukan pendukung malah biasa di mutase jauh sampai ke pulau. Nah, zonasi ini memastikan penempatan pegawai itu berdasarkan domisili, bukan lagi likes and dislikes,” tutup Arief.

Baca Juga:  Di Buloa, Warga Keluhkan Kesulitan Air Bersih ke Appi

(Muh. Seilessy)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.