Jejak Khilafah di Nusantara

INIPASTI.COM, OPINI – Khilafah Islam adalah bentuk pemerintahan Islam yang bersumber dari Al-Quran dan as-sunah, Ijma sahabat, dan Qiyas. Kepemimpinan yang dimulai dari pengangkatan Khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah saw setelah wafat untuk menjadi pemimpin sebagai pengurus umat. Kemudian dilanjutkan Umar Bin Khattab hingga Ali Bin Abi Thalib.

Kemudian silih berganti hingga kurang lebih 1300 tahun. Selama itulah kaum muslim pernah bersatu dalam satu kepemimpinan yaitu dalam naungan Khilafah Islamiyah. Kepemimpinan Khilafah menyebar hingga pada tiga benua Eropa, Afrika, hingga membentang ke benua Asia dan sampilah ke Nusantara.

Inline Ad

Para ahli sejarah mengakui kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik yang jelas untuk umat Islam. Terlebih di wilayah Nusantara. Pengaruh keberadaan Khilafah Islam terhadap kehidupan politik Nusantara sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya Daulah Islam. Adanya kekuatan politik di Asia barat yang berhadapan dengan Cina telah mendorong tumbuh dan berkembangnya perdagangan di Cina Selatan, Selat Malaka dan samudra Hindia. Hal ini dengan sendirinya memberi dampak bagi para penyebaran Islam dan tumbuhnya kekuatan ekonomi karena banyaknya pendakwah Islam yang sekaligus berprofes sebagai pedagang. Jika menelusuri berbagai sumber-sumber Islam, maka akan ditemukan bahwa banyaknya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara yang merupakan bagian dari Kekhakifahan Islam di bawah Turki Utsmaniyah.

Jejak Kesultanan di Nusantara
Aceh Darusalam mengikatkan diri dengan kekhalifahan Islam Turki Ustmaniyah. Sebuah arsip Utsmani berisi petisi Sultan Alaiddin Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni, yang dibawa Huseyn Effendi, membuktikan jika Aceh mengakui penguasa Utsmani di Turki sebagai kekhalifahan Islam. Dokumen tersebut juga berisi laporan soal armada Salib Portugis yang sering mengganggu dan merompak kapal pedagang Muslim yang tengah berlayar di jalur pelayaran Turki-Aceh dan sebaliknya. Portugis juga sering menghadang jamaah haji dari Aceh dan sekitarnya yang hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah.

Baca Juga:  Islam Moderat, Kambing Hitam Kapitalis

Sebab itu, Aceh mendesak Turki Utsmaniyah mengirim armada perangnya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut dari gangguan armada kafir Farangi (Portugis).
Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 M digantikan Sultan Selim II yang segera memerintahkan armada perangnya untuk melakukan ekspedisi militer ke Aceh. Sekitar bulan September 1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh membawa sejumlah ahli senapan api, tentara, dan perlengkapan artileri. Pasukan ini oleh Sultan diperintahkan berada di Aceh selama masih dibutuhkan oleh Sultan Aceh. Walau berangkat dalam jumlah amat besar, yang tiba di Aceh hanya sebagiannya saja, karena di tengah perjalanan, sebagian armada Turki dialihkan ke Yaman guna memadamkan pemberontakan yang berakhir pada 1571 M.

Di Aceh, kehadiran armada Turki disambut meriah. Sultan Aceh menganugerahkan Laksamana Kurtoglu Hizir Reis sebagai gubernur (wali) Nanggroe Aceh Darussalam, utusan resmi Sultan Selim II yang ditempatkan di wilayah itu. Pasukan Turki tiba di Aceh secara bergelombang (1564-1577) berjumlah sekitar 500 orang, namun seluruhnya ahli dalam seni bela diri dan mempergunakan senjata, seperti senjata api, penembak jitu, dan mekanik. Dengan bantuan tentara Turki, Kesultanan Aceh menyerang Portugis di pusatnya, Malaka.

Agar aman dari gangguan perompak, Turki Ustmani juga mengizinkan kapal-kapal Aceh mengibarkan bendera Turki Utsmani di kapalnya. Laksamana Turki untuk wilayah Laut Merah, Selman Reis, dengan cermat terus memantau tiap pergerakan armada perang Portugis di Samudera Hindia. Hasil pantauannya itu dilaporkan Selman ke pusat pemerintahan kekhalifahan di Istanbul, Turki. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Saleh Obazan :“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau yang disebut Syamatirah (Sumatera). Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuan Malaka yang berhadapan dengan Sumatera. Karena itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, Insya Allah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran total mereka tidak akan terelakkan lagi, karena satu benteng tidak bisa menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk perlawanan yang bersatu.”

Baca Juga:  OPINI: Dampak “Cashless Society” terhadap perekonomian Indonesia

Selain Aceh, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Mekkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar ‘sultan’ ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan. Selain di Buton, di barat pulau jawa yaitu Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada dibawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.

Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari syarif mekah. Pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki. Di istanbul dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili dengan tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudera Hindia. Kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904/1498 tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya saham Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Pada gilirannya, hal ini memberikan konstribusi penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai dampak sampingan perjalanan ibadah haji. Pada saat yang sama, Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tetapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan supremasinya di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16.

Baca Juga:  Dosen dan Budaya Lokal  

Berbagai bukti jejak khilafah Islam pernah diterapkan di Nusantara. Permasalahan umat Islam yang dihadapi Aceh dianggap sebagai persoalan umat Islam secara keseluruhan. Khilafah Utsmani membantu dan melindungi wilayah Aceh hingga melakukan futuhat dan berdakwah. Dengan demikian, tidak perlu ada yang ditakutkan dari Khilafah. Khilafah Islamiyah hanyalah jalan untuk menerapkan Syariat Allah, dan tidak mungkin ajaran Allah akan menzhalimi umat. Wallahu’alam.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.