Kematian Para Sufi

Top Ad

INIPASTI.COM, MA’RIFAT CINTA – Para sufi menyebut kehidupan itu enteng, tapi tak boleh disepelekan. Enteng karena tidak ada kepastian. Yang pasti hanya ketidakabadian. Kapan-kapan kita makmur, besok lusa kita miskin papa. Hari ini kita sehat cemerlang, lain waktu kita bungkuk dan pikun. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kita berkuasa, maka pasti akan datang masa dimana kita dikuasai. Suka cita bertukar dengan duka lara.

Itulah ketidakabadian, itulah ciri utama kehidupan. Enteng karena hanya kematian yang pasti. Bagi para sufi, tidak ada yang lain, kehidupan adalah kepadatan aktivitas untuk menjemput kematian. Manusia-manusia terpilih yang memiliki maqom tinggi, selalu menginisiasi roh dan tubuhnya untuk mengenali watak kematian, memahami tanda-tandanya, mereka memupuk kerinduan pada datangnya kematian. Ibarat sepasang muda mudi yang dilanda rasa rindu yang tak terandaikan, mereka saling mempesonakan dirinya, menyiapkan segalanya untuk dipersembahkan kepada pasangannya.

Inline Ad

Karena kehidupan berpasangan dengan kematian. Keduanya saling menggoda, sesungguhnya tipis sekali tirai yang membatasi antara kehidupan dan kematian. Kehidupan para sufi selalu memiliki frekuensi yang sama dengan kematian. Bau harum tubuh kehidupannya dimaksudkan untuk dipersembahkan manakala tamu agung yang bernama maut itu hendak menjemputnya.

Mengapa kehidupan tak boleh disepelekan? Karena kehidupan adalah ladang perniagaan, untuk mengkapitalisasi modal, para cendekia menyebutnya gerakan amal sholeh. Kalau kehidupan adalah lahan amal sholeh, maka setiap yang hidup harus serius mengisi lahan yang dimiliki selama kehidupan berlangsung. Kita semua harus berkonsentrasi bagaimana mengolah lahannya, harus rajin menanam, dan memelihara tanamannya. Lahan yang diolah tanpa ditanami, tak akan berguna. Tanaman yang dipelihara tak berbuah, akan sia-sia. Tanaman rindang yang berbuah banyak, tapi buahnya tak lezat, akan hampa. Bagaimana mengolah lahan agar bisa ditanami, supaya tanamannya bisa tumbuh rindang dan berbuah banyak, manis dan lezat? Kehidupan membutuhkan ilmu pengetahuan.

Kehidupan tanpa ilmu, seperti orang berjalan tanpa arah, ibarat memiliki lahan yang luas, tapi tidak produktif. Mengapa orang harus menanam tanaman yang berbuah segar, lezat dan manis? Karena dia percaya kelezatan dan kemanisan itu adalah modal yang dapat digandakan, pada kehidupan sesudah ia mati. Inilah yang para sufi menyebutnya sebagai sikap iman. Iman, ilmu dan amal adalah triple ways untuk menjemput kekasih yang bernama kematian. Kematian bagi mereka yang memiliki iman, ilmu dan amal, adalah percumbuan terindah dan ereksi terbaik.

Lalu mengapa banyak orang yang diberi kesempatan hidup menjadikan kehidupan sebagai panggung berkontestasi tanpa akhir? Seakan-akan kehidupan ini abadi. Kehidupan menjadi arena untuk menguasai, merambah, mengumpulkan, mengalahkan dan menghinakan. Hampir semua instrumen kehidupan baik secara politik, ekonomi dan budaya, se-ia se-kata menjadikan lahan kehidupan sebagai sarana untuk meraih, mempertahankan, dan memperluas kekuasaan? Karena kekuasaanlah yang bisa melakukan apa saja.

Kekuasaan sudah menjadi semacam simpul dari titik-titik mikro dan makro kehidupan. Para pemilik modal rela membeli mahal kekuasaan, para bandar judi juga bermain-main dengan kekuasaan, tidak sedikit bekas narapidana juga mau berkuasa, bahkan ada cendekia, alim ulama juga memburu kekuasaan. Para penguasa melakukan apa saja untuk tetap berkuasa. Begitu lezatnya kekuasaan, mengalahkan indahnya kematian dengan status khusnul khotimah. Jangan-jangan, iman, ilmu dan amal yang diceritakan para sufi sebagai triple ways menjemput kematian adalah bagian dari skenario merebut kekuasaan di alam kehidupan sesudah kita mati. Wallaho a’lam. (IMF)

Bottom ad