Kembangkan Biji Bawang Merah, Ini yang Dilakukan Unismuh

Foto: Dr Ir Abu Bakar Idham, MP

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, tidak hanya melakukan pengembangan budidaya jagung unggul, tetapi institusi ini juga mengembangkan riset bibit biji bawang merah.

Pengembangan riset bibit biji bawang merah Unismuh direncanakan di wilayah ketinggian, di Tombolopao,Kab. Gowa, Sulsel, yang luasnya puluhan ha. Adapun ketinggian lokasi mencapai 1000 meter diatas permukaan laut. Keunggulan dari pengembangan biji bawang merah ini, selain mendapatkan benihnya, juga masih bisa dapat 4 – 5 ton umbi konsumsi per ha-nya.

Inline Ad

Di Sulsel, ada tiga sentra pengembangan bawang merah, yakni Kabupaten Enrekang, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Gowa. Selama ini ketiga wilayah sentra pengmbangan bawang ini. Secara nasional ketiga daerah turut memberikan kontribusi terhadap pengadaan bawang merah di Indonesia.

Ketua Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar, Dr Ir Abu Bakar Idham MP, kepada inipasti.com di kampus Unismuh, mengatakan, riset biji bawang merah Unismuh ini yang pertama di Kawasan Timur Indonesia.

Baca Juga:  Asmadina Unismuh Makassar Datangkan Prof Veni Hadju

Dikatakan, perbandingan kebutuhan bibit bawang merah yang menggunakan umbi dibutuhakan 1 ton umbi bibit per ha-nya. Jika harganya Rp 50 ribu per kg maka petani harus menyiapkan dana sebesar Rp 50 juta per ha, belun termasuk biaya saprodi.

Tetapi jika petani menggunakan biji benih (biji botani), petani hanya membutuhkan 3 kg per ha. Harga biji benih Rp 2 juta per kg, berarti petani hanya butuh Rp 6 juta per ha untuk pembelian bibit.

“Berarti dengan memakai biji sebagai bibit, maka petani bisa menghemat biaya bibit Rp 44 juta per ha-nya,”tandas Abu.
Ada beberapa keuntungan lainnya dengan menggunakan biji sebagai bibit, yakni potensi produksinya bisa lebih tinggi, mencapai 25 – 35 ton per ha. Sementara jika petani menggnakan umbi sebagai bbit potensi produksinya hanya 15 – 25 ton per ha.

“Tetapi produksi Indonesia data tahun 2015 untuk umbi rata-rata baru mencapai 8,10 ton/ha, masih sangat rendah,”tandas Abu Bakar.

Baca Juga:  SDN 31 Panaikang Divisitasi Tim Akreditasi Sekolah

Sekadar diketahui perbandingan sekaligus adalah kelemahan bila petani menggunakan umbi sebagai bibit, yaitu ketersediaan waktu tertentu karena disebabkan adanya masa istirahat, serta adanya keterbatasan viabilitas umbi bibit. Umbi bibit yang baru dipanen harus disimpan selama 2 bulan, setelah itu baru bisa ditanam. Itu pun, kata Abu Bakar, waktunya hanya 3 – 4 bulan lewat dari itu umbi sudah tidak bisa lagi dijadikan bibit, karena kualitasnya sudah menurun.

Sementara untuk biji bibit, bawang merah yang ditaman itu harus sampai berbunga. Dan untuk bisa berbunga harus mendapatkan sinar matahari lebih dari 12 jam. Sedangkan di Indonesia sinar matahari dibawa 12 jam sehari. Sehingga dibutuhkan perlakuan vernalisasi dengan pemberian GA3 (semacam hormon).
Fungsi hormon ini kata Abu, untuk mensubtitusi kebutuhan hari panjang. “Inilah yang akan mengantikan kekurangan sinar mata hari,”tandasnya.
Tetapi menurut Abu, tanpa pemberian GA3, dia bisa menumbuhkan bawang sampai keluar bunga dengan sebuah perlakuan khusus yang dia sudah temukan. Temuan itu akan dicoba lagi untuk diteliti ulang, ”kunci Abu Bakar Idham.(nasrullah)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad