Site icon Inipasti

Kementan bersama MSI gencar populerkan Singkong untuk Industri Pangan

INIPASTI.COM – Singkong (Manihot utilissima atau Manihot esculenta crantz) yang juga dikenal dengan nama Ketela Pohon atau Ubi Kayu adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Sebagai salah satu pangan lokal, singkong memiliki gizi yang baik dan cocok untuk penderita penyakit celiac, autoimun, dan penyakit usus karena tidak mengandung gluten.

Melihat gizi dan potensi singkong dalam industri olahan pangan, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) bersama Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI kembali menyelenggarakan BTS Propaktani tgl 9 Februari 2022 dengan tajuk “Singkong dan Industri Pangan, Potensi Ekonomi Rakyat”. Materi bahasan singkong serta topik BTS lainnya bisa disakaikan di YouTube/propaktani

Asisten Deputi Pangan, Kemenko Perekonomian Indonesia, Muhammad Saifulloh mengatakan bahwa singkong memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi rakyat hal ini didasarkan pula dalam rangka meningkatkan peran sektor pertanian, pengembangan sistem pangan yang berkelanjutan menjadi sebuah syarat utama. Sistem pangan nasional tersebut secara kolaboratif meningkatkan produksi pangan yang berkualitas dan aman, didukung oleh lingkungan yang kondusif, stabilitas akses pangan, efisiensi distribusi pangan, serta pemberian bantuan pangan bagi rumah tangga rawan pangan. Lebih lanjut ia menambahkan “bahwa dalam meningkatkan potensi singkong ini usaha menciptakan brand merupakan hal yang utama agar lebih dikenal masyarakat dan mempermudah pemasaran serta pengemasan yang baik dibutuhkan untuk menjaga kualitas hasil produksinya” imbuhnya.

Akademisi UNAS, Endang Sukara pun menambahkan bahwa pati singkong adalah sumber karbohidrat/kalori terbaik setelah jagung. Dalam paparannya ia menjelaskan “sifat singkong ini dapat dibuat menjadi pasta dengan viskositas tinggi dan stabil pada proses pembekuan oleh karenanya dapat dipakai sebagai sumber pangan utama”. Tentunya karena sifat dan gizi yang terdapat pada singkong, Endang berpendapat bahwa singkong dapat menjadi sumber industri pangan baru yang menghasilkan. Pendapat ini didukung pula dengan berkembangnya produk olahan berbasis singkong yang semakin berkembang.

Rachmat Hidayat, yang merupakan narasumber dari GAPMMI menjelaskan bahwa dalam upaya mendorong singkong ke industri pangan olahan harus ada kemitraan, selain itu dibutuhkan pembenahan dan pelatihan di sektor hulu, membuat klaster budidaya singkong, branding, dan inovasi yang berkelanjutan. “Hal yang tak boleh dilupakan adalah dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah serta pembinaan pendampingan UMKM pengolahan singkong” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, hadir Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi. “Kita harus bisa mengubah mindset bahwa menanam singkong bukan sebagai pekerjaan sambilan saja. Juga, usaha hilirisasi harus kita dorong untuk mapping daerah-daerah penghasil singkongnya. Makanan lokal kuncinya ada di hilir market driven, bagaimana membuat pasar supaya pangan lokal jadi gaya hidup. Bangun market drivennya, pasar dibangun, baru produksi mengikuti. Kalau pasar bagus petani akan mengikuti berproduksi,” tutur Suwandi”

Exit mobile version