Kementan Dukung Keamanan Pangan Melalui Pertanian Ramah Lingkungan

Top Ad

INIPASTI.COM, JAKARTA – Peningkatan kualitas tanaman dapat dilakukan dengan menerapkan pertanian ramah lingkungan. Diantaranya mengurangi pengunaan pupuk kimia digantikan dengan pupuk organik. Dengan cara ini, keamanan pangan dapat dijaga.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 43, Jumat (19/11/2021), yang dilakukan secara virtual.

Inline Ad

Menteri Pertanian (Mentan ) Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengatakan dalam jangka panjang, dia ingin para petani bisa menghasilkan pupuk organik secara mandiri yang kualitasnya bisa lebih baik dari pupuk anorganik.

“Hasil pertanian non pestisida itu kualitasnya lebih bagus dan pasarnya bisa lebih besar. Pupuk organik itu makin menguntungkan ke depan. Seharusnya petani memang bisa memproduksi sendiri,” ujar Mentan SYL.

Para petani, lanjutnya, hanya perlu diberi pelatihan oleh para penyuluh pertanian untuk memproduksi pupuk secara baik. Tinggal diajarkan bagaimana mengumpul kompos. Itu memang butuh keahlian dan itu peran penyuluh untuk mengajarkan.

Dalam MSPP) Volume 43, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nuryamsi, mengatakan saat ini bumi semakin hari semakin panas.

Ada fenomenal global warning atau pemanasan global dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kehidupan umat manusia di permukaan bumi.

“Kenapa bumi semakin panas? Karena aktivitas manusia dari seluruh sektor menghasilkan Gas Rumah Kaca (GRK). Sektor energi memberikan kontribusi terhadap GRK yang sangat luar biasa, pabrik-pabrik menghasilkan GRK yang sangat cepat,” katanya.

“Selain itu, banyak aktivitas manusia yang dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja membuat lingkungan kita semakin rusak. Limbah industri banyak yang dibuang ke air, lalu mengalir kemana-mana termasuk kedalam air pertanian irigasi, berakibat banyak lahan pertanian yang tercemar sehingga membuat tanaman mati,” tambah Dedi.

Menurutnya, bahan-bahan agrokimia, residu pestisida jika digunakan secara berlebihan dapat mencemarkan lahan pertanian dan dapat merusak lingkungan pertanian.

“Pencemaran bukan hanya ada di tanah, air, udara akan tetapi ada di produk-produk pertanian kita jika semua itu terjadi maka tubuh kita akan mengalami keracunan bahkan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit,” ujarnya.

Dedi menegaskan jika konsep ketersediaan pangan, kecukupan pangan, swasembada pangan dan kemandirian pangan itu belum cukup, namun ada satu konsep lagi yaitu keamanan pangan.

“Pangan yang kita konsumsi harus benar-benar bebas dari bahan tercemar, sehat serta aman untuk tubuh kita,” katanya.

Makan tidak asal kenyang tapi juga harus sehat untuk tubuh. Konsep keamanan pangan menjadi kata kunci keberhasilan pembangunan pertanian.

“Selain itu, kita harus berinovasi dengan memanfaatkan inovasi-inovasi teknologi yang betul-betul ramah lingkungan sehingga mampu menggenjot produktivitas pertanian,” tegasnya.

Menurunkan efek GRK juga merupakan salah satu tujuan dari Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP). Melalui Climate Smart Agriculture (CSA), SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani, karena tujuan utama CSA adalah meningkatkan produktivitas dengan inovasi teknologi yang ramah lingkungan.

Narasumber MSPP, Triyani Dewi, Peneliti Balai Penelitian Lingkungan Pertanian mengatakan dampak negatif logam berat pada tanaman yaitu mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga mempengaruhi proses fotosintesis sehingga menurunkan nilai hasil tanaman.

“Dalam jangka waktu yang lama dampak negatif logam berat pada manusia diantaranya dapat mengurangi nilai gizi, karsinogenik, cacat lahir (teratogenic), kerusakan syaraf (neurotoxic), mutasi genetik (mutagenic), kerusakan sstem reproduksi dan endokrin serta gangguan sistem kekebalan,” ujar Triyani.

Sedangkan permasalahan di lahan pertanian diantara lain alih fungsi lahan dengan membangun perumahan, pertokoan dan lain-lain sehingga menurunnya kualitas lahan.

Selain itu penggunaan bahan agrokimia yang berlebihan, residu pestisida dan kontaminasi logam berat juga menimbulkan masalah pertanian .

Pemerintah telah memberikan perhatian khusus terhadap pangan melalui Kementerian Pertanian telah mengeluarkan peraturan-peraturan agar lahan pertanian dan produk pertanian sehat, selain juga untuk menjaga mutu dan kualitas pertanian terjamin.

Peraturan ini juga memperhatikan usahatani berkelanjutan yang ramah lingkungan dan menjaga keseimbangan ekonomi.

“Pertanian ramah lingkungan bisa dimulai dengan menggunakan pupuk nabati atau organik, menggunakan pupuk berimbang sehingga menghasilkan produk-produk pertanian baik tanaman pangan maupun hortikultura yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran zat berbahaya sehingga layak dikonsumsi untuk kita semua,” terangnya. (HVY/NF)

Bottom ad

Leave a Reply