Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 3 (2)

Pendekar Cengeng Jilid 3

INIPASTI.COM – Selama lima belas tahun ini Siauw-bin-mo Hap Tojin mengasingkan diri di dalam hutan sambil melatih dua orang muridnya. Beberapa lama ia sudah mencari-cari murid sampai akhirnya ia mendapatkan dua orang murid berbakat serta bertulang baik.

Baca juga: Pendekar Cengeng 3 (1)

Inline Ad

Setelah itu ia setiap hari memberi didikan kepada dua orang muridnya, serta tidak lagi mencampuri dunia ramai. Betapapun juga ketika beberapa tahun telah lewat, It-gan Hek-hauw Lauw Bu bersama keluarganya yang mau pindah ke Ho-pak lewat di hutan itu lalu menjadi korban perampok-perampok yang amat lihai. Siauw-bin-mo tak dapat tinggal diam lalu memberi bantuan serta mengusir para perampok itu.

Itulah sebabnya mengapa sekarang It-gan Hek-hauw Lauw Bu meminta waktu tiga hari setelah diancam oleh Dewi Suling lalu waktu ini ia pergunakan buat pergi ke tempat Siauw-bin-mo Hap Tojin yang pernah menolongnya.

Hap Tojin mengelus-elus jenggotnya yang putih serta panjang. Ia menoleh kepada dua orang muridnya itu yang duduk di sebelah belakangnya.

“Bagaimana pendapat kalian, murid-muridku?” tanya Si Tosu kepada mereka yang sejak tadi cuma mendengarkan dengan mulut tertutup.

Dua orang muda itu betul-betul patut dibanggakan sebagai murid oleh guru yang manapun juga, yang seorang bernama Ouwyang Tek, berusia duapuluh dua tahun, berpakaian serba kuning serta sebuah pedang tergantung di pinggang.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng II (14)

Pemuda ini gagah perkasa, tubuhnya tinggi besar serta kuat, dadanya lebar dan tebal, pundaknya rata, pinggangnya kecil, kaki tangannya besar serta menonjolkan urat yang bergerak-gerak hidup.

Wajahnya seratus persen laki-laki, bersikap keren serta pipi bagian atas mulai tampak rambut, begitu pula di atas bibir dan di bawah dagunya, sehingga betul-betul tampak gagah seperti seekor kuda jantan.

Murid kedua adalah seorang pemuda berusia duapuluh tahun, bernama Gui Siong, berbeda dengan suhengnya (kakak seperguruan) Gui Siong ini tubuhnya sedang saja, wajahnya tampan dengan kulit muka halus licin tak ditumbuhi rambut kasar, berwarna kemerah-merahan seperti wanita cantik.

Tetapi di dalam kehalusan gerak geriknya, tersembunyi kekuatan yang jelas terlihat dalam pandang matanya, berpakaian warna biru serta membawa pula sebatang pedang.

Dua orang murid ini berbeda dengan suhu mereka, berpakaian indah serta bersih sehingga bagi mereka yang tidak tahu mengira tentulah mereka putera-putera bangsawan atau setidak-tidaknya putera hartawan, hal ini adalah kehendak Hap Tojin yang merasa bangga terhadap murid-muridnya dan dianggap pula sebagai putera sendiri.

Selama limabelas tahun ini ia sudah menurunkan hampir seluruh ilmunya kepada dua orang murid itu serta memberikan ilmu pedang yang gerakannya disesuaikan pada tubuh mereka masing-masing.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng II (12)

Kakek sakti ini mengambil semua intisari ilmu pedangnya lalu menciptakan dua macam ilmu pedang sesuai keadaan tubuh mereka sendiri-sendiri. Ouwyang Tek diberi ilmu pedang Pek-lui-kiam-hoat (ilmu Pedang Kilat), Gui Siong yang halus gerak-geriknya itu diberi ilmu pedang Bi-ciong-kiam-hoat (ilmu Pedang Indah Menyesatkan).

Ketika mendengar pertanyaan gurunya Ouwyang Tek segera berdiri lalu menjawab, “Mendengarkan cerita Lauw Bu tadi teecu (murid) berpendapat bahwa iblis betina itu amat jahat patut dienyahkan. Akan tetapi tidak semestinya kalau Suhu yang sudah lanjut usia pergi sendiri menghadapi seorang penjahat wanita yang masih muda belia, kiranya cukup kalau teecu yang pergi mewakili Suhu memberi hajaran kepadanya!”

Gui Siong juga berdiri dan berkata,

“Suhu pernah mengatakan bahwa di dalam dunia persilatan, ada tiga orang golongan yang harus dihadapi dengan hati-hati, yaitu pendeta tua, orang tapa-daksa dan wanita. Mereka bertiga ini pada umumnya termasuk orang- orang lemah, maka sekali mereka berani merajalela sudah pasti kepandaian mereka tinggi. Karena itu jika Suhu menghendaki, biarlah teecu menemani Suheng untuk menghadapi penjahat wanita itu!”

Siauw-bin-mo Hap Tojin tertawa bergelak, jawaban- jawaban kedua muridnya ini sudah jelas membayangkan watak masing-masing. Ouwyang Tek orangnya jujur dan wataknya gagah perkasa, sedangkan Gui Siong orangnya lebih hati-hati dan teliti, ia lalu menengok kepada It-gan Hek-hauw Lauw Bu dan berkata.

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (70)

“Orang she Lauw! Terus terang saja kedua muridku yang akan menghadapi Cui-siauw-kwi itu bukan sekali-kali karena hendak membantumu. Pinto tahu orang apa engkau ini, It-gan Hek-hauw! Karena itu kami sama sekali tidak akan mencampuri urusanmu dan kalau murid-muridku hendak menghadapi Cui-siauw-kwi adalah semata-mata untuk menumpas kejahatan. Nah, kau pergilah!”

Muka yang hitam dari Lauw Bu itu sebentar pucat sebentar makin hitam.

Bersambung…

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.