Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 6 (12)

INIPASTI.COM – Gadis itu tersenyum. Lega hatinya bahwa pelayan ini tidak mengerti ilmu silat. “Kalau lain kali kau tidak cepat menurut perintahku, baru akan kupukul betul betul. Tadi cuma tamparan pelan saja. Nah lekas jawab, mau atau tidak engkau menjadi pelayan ku dan membantuku mencari Pendekar Cengeng!”

Baca juga: Pendekar Cengeng 6 (11)

Inline Ad

Yu Lee cemberut, “Masih mau akan tetapi nona jangan bersikap terlalu galak terhadap saya.”

“Aku tidak biasa bersikap galak terhadap pelayan, akan tetapi aku belum pernah mempunyai pelayan setolol engkau ini. Eh, siapa namamu?”

Ditanya namanya, Yu Lee bingung. Ia tidak biasa membohong dan kalau saja nona ini tidak lagi mencari Pendekar Cengeng untuk diajak bertanding tentu ia pun mengakui terus terang bahwa dialah si Pendekar Cengeng. Akan tetapi untuk pergi begitu saja meninggalkan nona ini, tak mungkin dapat ia lakukan karena seluruh perasaan hatinya memaksa untuk selalu berdekatan dengan nona ini. Terpaksa ia harus mencari nama dan teringalah ia akan nama seorang pelayan cilik keluarganya yang dahulu juga ikut terbunuh, yaitu Aliok. Maka cepat berkata menjawab,

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 8 (1)

“Nama saya Aliok, nona,”

“Hemm, itu nama singkatan, nama lengkap mu siap, Aliok?”

“Saya tidak tahu nona. Dahulu semua keluarga majikan saya menyebut saya. Aliok. Dian siapakah nama siocia (nona)?”

Nona itu menggerakkan alisnya, matanya mengerling tajam bibirnya cemberut. Mati aku, pikir Yu Lee yang merasa seakan akan jantang nya tertusuk. Begitu cantik menariknya nona ini kalau sudah marah marah seperti itu.

“Eh, mau apa kau tanya tanya namaku segala?” nona itu membentak.

Sambil memandang wajah nona itu penuh kagum Yu Lee menjawab, “Setelah menjadi pelayan nona, saya harus mengetahui nama nona. Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nona. Bagaimana kalau ada orang bertanya siapa nama nona majikan saya? Apakah saya harus menjawab tidak tahu ?”

“Hemm, kau betul juga Aliok. Namaku Siok Lan, she Liem. Akan tetapi aku lebih terkenal dengan Sian li Eng cu.”

Liem Siok Lan ! Sebuah nama yang indah bagi Yu Lee serta sekaligus nama ini terukir di dalam hatinya. Dia tersenyum di dalam hati, nona ini begitu bangga akan nama julukannya, bangga akan ilmu silatnya sehingga menganggap seolah olah diri sendiri terpandai di dunia kang ouw. Hemm, seorang bocah dengan kepala kosoag seperti ini dibiarkan saja berkelana seorang diri, sungguh berbahaya! Tidak mengenal tingginya langit dalamnya lautan. Perlu sekali dilindungi dan dijaga, kalau tidak tentu akan terjerumus dalam bahaya dalam waktu dekat.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 6 (11)

“Kalau begitu marilah kita berangkat siocia.”

“Kau ambilkan dalu kudaku, tadi kuikat di sebuah pohon di sana!” Siok Lan menunjuk ke selatan di mana terdapat segerombolan pohon dan Yu Lee berjalan ke arah yang ditunjuk melaksanakan perintah. Dari belakangnya, Siok Lan memandang. Memang hebat keluarga Yu, pikirnya, seorang bujang saja begini tampan dan bagus gerak geriknya, dengan bentuk tubuh yang jantan. Sayang ia bodoh, pikirnya lagi. Akan tetapi tentu saja bodoh, kalau pintar masa menjadi pelayan?

Lamunannya buyar ketika pelayannya itu datang, sambil menuntun kudanya. Dengan gerakan ringan dia melompat naik ke punggung kudanya, lalu berkata. “Hayo kita berangkat.”

“Ke mana nona ?”

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (12)

“Ke mana lagi kalau tidak mencari Pendekar Cengeng? Kau tahu dimana ia sekarang ini ?”

Aku harus mengarang cerita, pikir Yu Lee, agar dia percaya dan mereka dapat terus berkumpul dan melakukan perjalanan bersama, “Saya pernah bertema dengan Yu kongcu dan dia pernah bilang bahwa dia ingin merantau ke kota raja. Sebaiknya kita menyusul ke kota raja dan karena namanya sudah terkenal tentu kita dapat bertanya tanya sepanjang jalan!”

“Hemm benar juga pendapatmu itu. Akan tetapi kota raja amatlah jauh!”

“Nona menunggang kuda, tentu tidak akan lelah.”

“Hemm marilah!” Nona itu tentu saja tidak menyatakan isi hatinya yang membuat nya meragu. Biarpun orang muda ini menjadi pelayannya namun keadaan orang muda ini terlalu tampan untuk menjadi pelayan ! Siapa tahu, jangan jangan orang orang di jalan mengira bahwa pemuda ini bukan pelayannya, tetapi sahabatnya atau lebih celaka lagi, sebagai suaminya atau tunanganaya ! Inilah yang membuat ia tadi ragu ragu karena kalau harus melakukan perjalanan ke kota raja yang jauh tentu makan waktu yang cakup lama.

BERSAMBUNG

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad