Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 6 (13)

INIPASTI.COM – “Eh, nona … ? Jangan cepat cepat… nona, mana mungkin saya dapat menyusul larinya kuda?” Yu Lee berteriak teriak ketika nona ito mempercepat kudanya. Siok Lan menoleh dan menghela napas panjang. Wah, berabe juga mempunyai pelayan, pikirnya. Kalau dia harus melakukan perjalanan yang lambat hanya demi untuk mencegah pelayannya ketinggalan ini berarti dialah yang harus melayani si pelayan! Ah apa perlunya ini? Dan diapun hanya membutuhkan Aliok untuk mengenal dan mencari Pendekar Cengeng.

Baca juga: Pendekar Cengeng 6 (12)

Inline Ad

Dia sadah bertanya tanya dan orang orang kang oow sudah pula mendengar nama Pendekar Cengeng sebagai seorang pendekar muda yang bara muncul, akan tetapi tidak seorang pun tahu di mana adanya si pendekar itu, dan ia mendengar pula bahwa sukar untuk mengenal si pendekar muda karena pendekar itu tidak pernah menonjolkan diri bahkan lalu bersembunyi dari dunia kang ouw. Maka ia mengambil Aliok sebagai pelayan untuk membautunya, akan tetapi siapa duga bahwa risikonya malah berat.

Baru dalam perjalanan saja ia harus menjalankan kudanya perlahan lahan agar si pelayan tidak ketinggalan.

“Aku akan jalan dulu ke dusun depan. Biar kutunggu engkau di sana, kau jalanlah lebih cepat !” teriaknya sambil menoleh lalu membalapkan kudanya ke depan.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 3 (6)

Ia akan menjadi kesal setengah mati kalau harus menjalankan kudanya perlahan lahan, mengimbangi si pelayan yang berjalan kaki begitu lambat! Akan tetapi, sejam kemudian Siok Lan menghentikan kudanya termangu mangu di atas kuda. Ah, ia telah bersikap keterlaluan. Pelayan itu harus berjalan menyusulnya dan tentu saja tertinggal jauh. Entah mengapa, membayangkan wajah pelayan itu timbul rasa kasihan di hatinya, padahal kalau berhadapan ia ingin memperlihatkan kekuasaan dan kegalakannya! Biar kutunggu dia di sini, pikirnya dan iapun melompat turun dan duduk di bawah pohon yang teduh. Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia menengok, ia melihat bayangan si pelayan itu melenggang!

Keheranan hati Siok Lan tidak melawan kekagetan Yu Lee, ketika di tikungan itu ia melihat si nona duduk menantinya ! Hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya.

Ia mengira bahwa gadis itu benar benar meninggalkannya sampai ke dusun di depan, maka tadi karena tidak ingin tertinggal jauh dan ingin mengamat amati sang nona itu dari dekat, maka ia telah mempergunakan ilmu lari cepat mengejar. Siapa kira gadis itu kini berhenti di situ dan menantinya! Sebab tidak menduga maka ia terlihat di tikungan dan sudah kepergok. Tetapi lalu ia mencari akal, ia berpura pura lari terhuyung huyung napasnya terengah engah serta begitu tiba di depan nona itu, ia lalu menjatuhkan diri kelelahan.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 8 (15)

“Waduh….. siocia… bisa putus napasku kalau begini…..“ ia terengah engah.

“Aliok, kenapa kau berlari lari?”

“Habis, nona membalapkan kuda. Saya tidak mau tertinggal jauh. Namanya saja pelayan, tentu harus selalu mengiringkan majikannya. Masa harus melakukan perjalanan terpisah?”

“Salahmu sendiri !”

Yu Lee mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal, memandang heran. “Lhoh ! Salah aku sendiri bagaimana nona ?”

“Kau tidak seperti pelayan …….. eh, ku maksud… tidak patut menjadi pelayanku.”

Yu Lee melirik ke arah pakaiannya. Pakaiannya memang sudah sederhana, cukup patut menjadi pelayan. “Mengapa tidak patut, nona? Memang saya pelayan.”

“Tidak, engkau lebih pantas menjadi seorang perantau, malah.. hemm… kau membawa tongkat bambu, seperti pengemis muda!”

“Ahhh ini? Sesungguhnya saya…. amat takut terhadap anjing, nona. Apalagi anjing kelaparan dan anjing gila. Kabarnya orang bisa gila kalau terkena gigit anjing gila, bisa gila seperti anjing. Mengerikan sekali, sebab itu saya bawa tongkat ini buat menjaga diri untuk mengusir kalau kalau ada anjing mau menggigit.”

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 5 (10)

“Huh, setelah menjadi pelayanku, masa terhadap anjing saja takut? Memalukan majikan itu namanya merendahkan nama besar Sian li Eng cu!” Gadis itu cemberut, agaknya tidak puas mendengar betapa pelayannya ini amat penakut. Yu Lee diam diam tersenyum.

“Kalau dekat dengan nona yang saya tahu amat lihai tentu saya tidak takut. Biarlah sayà menuntun kuda nona jadi saya selalu dapat berdekatan serta tidak takut lagi digigit anjing, juga lebih patut kalau terlihat orang!”

“Akan tetapi perjalanan menjadi lambat sekali. “

Memang itu yang dikehendaki Yu Lee. “Mengapa nona tergesa gesa? Bukankah kita mencari orang? Kalau tergesa gesa, siapa tahu orang itu justeru berada di tempat yang telah kita lewati?“

Siok Lan mengerutkan keningnya lalu bangkit berdiri.

“Hemm, betul juga. Marilah kita berangkat lagi.”

Girang hati Yu Lee. Sudah tiga kali nona itu membenarkan pendapatnya serta menurut. Biarpun galak kelihatannya, tetapi sebetulnya nona ini punya pendirian yang adil, suka mendengar kata dan tidak membawa maunya sendiri. Sifat seperti ini adalah sifat yang baik sekali, sebab memperlihatkan watak yang bijaksana mau menurut kata kata orang lain biarpun orang itu cuma pelayan atau bujangnya.

BERSAMBUNG

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad