Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 9 (10)

cengeng9

INIPASTI.COM – Dan betapa negara akan dapat menjadi tenteram, damai dan makmur kalau rakyatnya gelisah diamuk benci dan dendam? Akibatnya, kekacauan terus menerus, padam di sini timbul di sana, reda di sana bergolak di sini!

Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng terus menerus memimpin pasukannya mengadakan kekacauan di daerah penjagaan di sekitar terusan yang digali. Makin banyak pengikut pasukan ini, sampai mencapai jumlah lebih dari dua ratus orang ! Sebagian besar dari mereka adalah pekerja pekerja yang berhasil lolos keluar dengan bantuan pasukan ini.

Inline Ad

Karena mereka semua telah mengalami penyiksaan dan penderitaan yang amat hebat di dalam neraka dunia ketika menggali terusan itu maka rasa dendam dan kebencian mereka membuat mereka semua ini menjadi sebuah pasukan berani mati yang amat luar biasa!

Mereka tidak mempunyai markas tertentu, selalu berpindah-pindah tempat di daerah lembah sungai yang banyak hutannya, dan selalu muncul di saat yang tidak tersangka-sangka lawan, di tempat-tempat yang selalu kurang penjagaannya sehingga banyaklah para penjaga yang terbunuh. Kalau pasukan penjaga mengadakan penyergapan dengan pasukan yang besar dan kuat, mereka hilang seperti ditelan bumi untuk kemudian muncul di tempat lain yang penjagaannya kurang kuat lalu menghancurkan pasukan penjaga di situ.

Mudah diduga sebelumnya dan memang tidaklah aneh kalau dua pasang orang muda itu makin lama makin saling tertarik. Bagi Ouwyang Tek dan Gui Siong memang dua orang gadis itu bukan wanita wanita biasa saja, melainkan semenjak pertama ketika bertemu dahulu, hati mereka telah dicuri. Apa lagi ketika guru mereka, Siauw bin mo Hap Tojin menyatakan bahwa kakek ini akan merasa bahagia sekali kalau dua orang muridnya itu dapat mengikat perjodohan dengan dua orang murid wanita sahabat baiknya itu. Memang hal ini sudah pula dibicarakan oleh Hap Tojin kepada sahabatnya Liong Losu, akan tetapi pendeta berkepala gundul itu hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Pinceng setuju sekali akan tetapi hanya terserah kepada yang akan menjalani !”

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (71)

Persoalan ikatan jodoh itu terhenti sampai di situ saja dan selama setahun tidak diusik-usik kembali. Kini seolah-olah Tuhan sendiri yang mengatur sehingga mereka tidak hanya dapat bertemu di tempat yang tak disangka-sangka, bahkan mereka terus dapat berkumpul dan berjuang bahu-membahu.

Mengherankankah itu namanya kalau Ouwyang Tek makin lama makin tertarik kepada Lauw Ci Sian, gadis pendiam yang cantik jelita dan gagah perkasa itu !

Dan anehkah kalau Gui Siong yang halus lembut dan hati-hati itu makin lama makin tergila-gila kepada Tan Li Ceng, gadis cantik manis yang lincah jenaka itu. Akan tetapi, sampai berbulan-bulan mereka berjuang bersama, bertanding bahu membahu, berlumba merobohkan lawan, makin berat menindih rasa cinta kasih di hati kedua orang muda itu, namun mulut mereka tetap membungkam, berat dan sukar rasanya untuk membuka kata menyampaikan rasa cinta dengan suara ! Apalagi bagi Ouwyang Tek yang memang pendiam dan tidak pandai bicara, tiap kali hendak mengaku cinta, lehernya seperti tercekik tangan yang tak tampak sehingga jangankan mengeluarkan kata kata bahkan bernapaspun sukar rasanya, sedangkan Gui Siong yang biasanya pandai bicarapun kalau berhadapan dengan Tan Li Ceng, seperti seekor jangkerik terpijak, tidak ada suaranya lagi, seperti “mati kutunya”!

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng I (13)

Pada suatu malam empat orang muda ini mengadakan sebuah serbuan pada sebuah tempat penjagaan yang cukup kuat dijaga oleh seratus orang lebih penjaga, sedangkan jumlah penyerbu yang dipimpin keempat orang muda itu hanya ada tujuh puluh orang.

Akan tetapi karena penyerbuan dilakukan pada tengah malam secara tiba tiba dan tak terduga duga, maka pasukan penjaga menjadi panik. Apalagi karena pasukan penyerbu yang dipimpin empat orang muda perkasa itu adalah pasukan pilihan yang sudah terlatih, sudah belajar jurus jurus pokok dalam perang campuh seperti itu, diambil dari jurus jurus ilmu silat tinggi keempat orang muda itu.

Terjadilah pertempuran hebat atau lebih tepat penyembelihan karena fihak penjaga benar benar dihancurkan di malam itu. Mereka berusaha melawan namun sia sia dan mulailah tempat itu banjir darah dan mayat mayat roboh bergelimpangan.

Seperti biasa dalam setiap penyerbuan Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng menjadi pelopor, mengamuk paling depan. Pedang mereka merupakan jangkauan jangkauan maut yang sukar dihindarkan musuh. Kemana pedang mereka berkelebat, tentu ada lawan yang roboh dibarengi darah muncrat !

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 3 (11)

Hiruk pikuk suara perang di malam terang bulan itu. Teriakan teriakan marah dan kemenangan para penyerbu bersaing dengan jerit korban dan pekik kematian, membubung di angkasa. Akan tetapi, di antara suara hiruk pikuk ini, Ouwyang Tek yang kebetulan mengamuk bersama Lauw Ci Sian, selalu berdekatan dan seakan berlomba merobohkan lawan malah sempat tertawa tawa gembira dan berkata, “Sian moi ( adik Sian ), sudah beberapa orang korbanmu ?”

Bersambung…

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad