Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 9 (13)

cengeng9

INIPASTI.COM – Seluruh muka Li Ceng menjadi merah mendengar pernyataan cinta ini. Menurut suara hatinya, pemuda itu tidak bertepuk sebelah tangan. Pemuda yang begini tampan, halus, gagah perkasa, sudah lama menjatuhkan hati nya Akan tetapi, ah, betapa ia dapat menerima kasih sayang nya kalau di sana ada…. Pendekar Cengeng ! Ia menghela napas panjang.

Mendengar gadis itu menghela napas dan tidak menjawab, Gui Song mengerutkan keningnya dan menoleh dengan muka pucat, ia sudah siap menanti akibat yang paling buruk yaitu ditolak cintanya dan dianggap kurang ajar. Ia menoleh dan melihat betapa gadis itu menunduk, wajah yang cantik dan tersinar cahaya rembulan itu murung dan muram.

Inline Ad

“Maaf, Ceng moi, sungguh aku tak tahu diri dan…”

“Bukan begitu, koko. Aku tidak marah, juga aku harus bersyukur dan berterima kasih bahwa seorang peuuda gagah perkasa seperti engkau sudi menaruh perhatian kepada diriku yang buruk dan bodoh…….”

“Kalau begitu engkau?…“ Gui Siong seperti tercekik lehernya saking girangnya.

“Aku…. aku …. terpaksa tak… dapat menerima perasaan hatimu yang murni itu, Siong koko, karena…karena…..“

Gui Song melongo penuh kekecewaan. “Kenapa moi moi? Karena engkau tidak mempunyai perasaan cinta kepadaku? “

Li Ceng menggeleng kepalanya sambil menunduk. Jari jari tangannya tanpa disadarinya mencabut rumput dan mempermainkan rumput rumput itu.

Baca Juga:  Datu Museng dan Maipa Deapati (35)

“Kalau begitu mengapa, Ceng moi? Beritahulah kepadaku moi moi agar aku tidak menjadi penasaran.”

Tan Li Geng menghela napas kemudian mengangkat mukanya yang agak pucat. Mereka saling berpandangan dan dan sinar mata gadis itu Gui Song dapat merasa betapa mesra pandang mata itu dan bahwa tidak mungkin pandang mata seperti itu mencerminkan hati yang tidak mercinta!

“Siong ko, harap jangan salah mengerti, sesungguhnya, bagaimanakah aku dapat menjawab pertanyaanmu. Hal itu tidak mungkin karena…. ada sesuatu ikatan yang amat berat bagiku….”

“Ahhh… “! Gui Siong melompat bangun dengan wajah makin pucat. “Adikku yang baik, sungguh aku tak tahu diri dan kurang ajar ! Maafkanlah aku kalau begitu sungguh kalau aku tahu bahwa engkau sudah terikat jodoh dengan orang lain, biar sampai mati mulut ini takkan membuka rahasia ini….”

Tan Li Ceng yang tadinya duduk di atas akar pohon, juga bangkit berdiri dan berkata, suaranya sungguh sungguh

“Bukan ikatan jodoh, koko. Dengarkan baik baik dan aku mengharapkan pengertianmu yang mendalam. Ingat kah engkau ketika kita bersama menyerbu Istana Air dahulu itu? Nah, di tempat itu aku dan suci mengalami hal yang amat memalukan…..“

Tan Li Ceng lalu menceritakan pengalamannya bersama Lauw Ci Sian ketika mereka tertawan dan hampir saja diperkosa Yan ce Su go kemudian tertolong oleh Yu Lee dalam keadaan telanjang bulat! Betapa kemudian dia dan sucinya membunuh empat orang laki laki berhati binatang itu.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng II (2)

“Demikianlah Song koko. Setelah ada seorang pria melihat keadaan kami seperti itu, betapa mungkin kami berdua menjadi isteri orang lain?”

Gui Siong mengangguk angguk. Wah, kiranya saingannya adalah pendekar sakti itu ! Ia merasa kecewa dan runtuh semangatnya. Berat kalau harus bersaing dengan Pendekar Cengeng pikirnya dengan hati berat ia lalu berkata, “Ah, sekali lagi maaf. Kiranya engkau mencintai Yu taihip?”

Li Ceng cepat mengangkat muka memandang, lalu menggelengkan kepala, “Siapa mencintai dia, koko? Jangan menyangka sembarangan. Aku memang kagum kepada Yu taihiap yang memang patut dikagumi, akan tetapi mencinta…? Kenalpun tidak, pertemuan baru satu kali itu, dalam waktu singkat pula”.

Gui Siong terheran heran dan jantungnya kembali berdebar girang penuh harapan.

“Dan dia….? Adakah dia mencintaimu?”

“Siapa mengetahui hati orang lain ?”

“Eh, Ceng moi, bagaimana pula ini? Kalau kalian tidak saling mencinta, kalau diantara kalian tidak ada ikatan jodoh mengapa kau bilang tidak mungkin menjadi isteri orang lain? “

Dara itu menghela napas panjang. “Engkau tidak mengerti keadaan hati wanita, Siong koko. Aku dan Suci Lauw Ci Sian mempunyai pendapat yang sama. Kalau ada laki laki yang melihat keadaan kami bertelanjang bulat seperti dahulu itu, dia harus kami bunuh ! Itulah sebabnya mengapa kami membunuh Yang ce Su go. Akan tetapi betapa kami dapat membunuh Yu taihiap yang sudah menolong kami? Karena itulah maka jalan satu satunya untuk menghilangkan aib dan hina, kami harus menjadi isterinya ……” Dengan saputangannya, Li Ceng mengusap dua butir air mata dari pipinya.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 5 (3)

Bersambung…

Baca juga: Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 9 (12)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad