Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 9 (5)

cengeng9

INIPASTI.COM – Abouw memegang lengannya, “Sahabat Aliok yang baik, selamat jalan.”

“Selamat tinggal, paman Abouw!”

Inline Ad

“Eh, ada satu hal saya ingin sekali tahu.”

“Apa itu? “

“Mengapa engkau begitu membenci pinggul besar? “

Yu Lee mengangkat alis membelalakkan mata, lalu tak tahan lagi ia tertawa bergelak sampai kudanya menjadi kaget. Tanpa disadari, Yu Lee menggunakan tenaga di dalam ketawanya sehingga bukan saja kudanya yang kaget, juga Huang ho Sam liong dan orang orang yang memiliki ilmu kepandaian menjadi heran dan kaget sekali. Mereka merasai getaran tenaga khikang yang dahsyat dalam suara ketawa itu.

“Satu lagi… sahabat Aliok…..“

“Apa lagi? “ Yu Lee menahan kendali kuda, ingin cepat cepat pergi karena tadi tanpa disadari ia telah membuka rahasianya.

“Apakah engkau….benar benar seorang pelayan tulen….? “

Pertanyaan ini agaknya berkenan di hati semua orang sehingga mereka semua mendengarkan penuh perhatian.

Yu Lee tersenyum dan berkata. “Tentu saja!” Lalu ia membedal kudanya membalap dan mengejar Siok Lan yang sudah melarikan kudanya jauh di depan.

“Suci (kakak perempuan seperguruan) kita mengaso di sini dulu, sinar matahari teriknya bukan main!” kata seorang pemuda tampan sekali kepada seorang gadis cantik ketika mereka berdua memasuki sebuah hutan kecil, pemuda itu usianya paling banyak sembilan belas tahun, ganteng dan tampan sekali, juga gagah karena gerak geriknya gesit, sikapnya tabah dan gagang sepasang pedang tampak di punggungnya. Adapun gadis itu yang usianya satu dua tahun lebih tua, cantik jelita dan sikapnya tenang, namun membayangkan kegagahan. Pakaiannya serba hijau dan di pinggangnya tengantung sebatang pedang panjang.

Baca Juga:  Meski Barito Tim Bagus, Robert: PSM Makassar Lebih Baik

“Baiklah sumoi”, jawab si gadis. Kalau ada orang mendengar jawaban ini tentu dia akan terkejut dan heran. Bagaimana seorang pemuda disebut sumoi (adik perempuan seperguruan)? Akan tetapi kalau orang itu memandang “si pemuda”dengan teliti, maka ia akan sadar bahwa pemuda itu sesungguhnya adalah seorang gadis juga. Kulitnya begitu halus makanya begitu tampan sehingga mendekati cantik, tubuhnya juga lunak halus tidak ada tanda tanda kaku seperti terdapat pada tubuh pria. Yang membuat orang akan percaya dia pria adalah sikapnya yang begitu wajar dalam pakaian pria.

Memang sesungguhnyalah “Pemuda” itu bukan lain adalah Tan Li Ceng, murid perempuan Tho tee kong Liong Losu yang semenjak kecil selalu berpakaian seperti pria, dan setelah dewasa masih suka berpakaian pria, apalagi sebagai seorang pendekar, pakaian ini lebih memberi keleluasaan dan kebebasan padanya, menjauhkan hal hal tidak enak yang selalu mengganggu wanita di perjalanan, apa lagi wanita muda remaja dan cantik jelita ! Adapun gadis cantik yang disebut suci olehnya itu tentu saja adalah Lauw Ci Sian, karena memang murid Tho tee kong Liong Losu hanya ada dua orang inilah.

Baca Juga:  Sekprov Tekankan Pentingnya Efektivitas dan Efisiensi Penggunaan Anggaran

Telah diceritakan di bagian depan betapa kedua orang gadis perkasa ini bersama dengan murid murid Siauw bin mo Hap tojin secara kebetulan telah bekerja sama dengan Yu Lee si Pendekar Cengeng mengadakan penyerbuan di Istana Air tempat tinggal Hek siauw Kuibo dan muridnya, yaitu Si Dewi Suling atau Cui Siauw Sian li Ma Ji Nio sehingga akhirnya Hek siauw Kui bo tewas di tangan Yu Lee dan anak buah nenek iblis itu dapat dibasmi. Betapa kemudian guru mereka, Tho tee kong Liong Losu mengusulkan untuk menjodohkan dua orang muridnya ini dengan dua orang murid pria dari Siauw bin mo Hap Tojin yang merupakan pemuda pemuda gagah perkasa dan tampan.

Namun dua orang gadis ini menolak karena mereka merasa berat untuk dijodohkan dengan orang lain setelah mereka mengalami hal yang bagi mereka amat memalukan, yaitu bahwa mereka telah tertolong oleh Yu Lee daripada ancaman bahaya ngeri dalam keadaan telanjang bulat!

Hal ini amat menggetarkan perasaan kedua orang dara ini yang menganggap bahwa tidak mungkin mereka dapat bersuamikan orang lain setelah Yu Lee melihat mereka dalam keadaan seperti itu!

Tan Li Ceng adalah puteri tunggal searang pemilik kedai obat di kota An keng, adapun Lauw Ci Sian adalah seorang gadis yatim piatu maka setelah tamat belajar dari guru mereka. Ci Sian ikut bersama sumoinya ke An keng. Tidak ada peristiwa penting tetjadi selama kurang lebih setahun, ketika Ci Sian tinggal bersama dengan sumoinya di rumah Li Ceng di An keng itu, kemudian dua orang gadis ini mendengar akan sepak terjang Pendekar Cengeng yang menggemparkan dunia kang ouw. Selain ini juga mereka mendengar akan kekejaman penindasan yang dilakukan oleh pemerintah penjajah terhadap rakyat yang diharuskan bekerja paksa membuat saluran atau terusan.

Baca Juga:  Sidang Gugatan Reklamasi Tidak Diterima, Walhi Kalah

Bersambung…

Baca juga Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 9 (4)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad