Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng II (15)

Pendekar Cengeng 2

INIPASTI.COM – Mungkin ada satu jam lebih kedua orang muda remaja yang usianya baru antara enam belas sampai delapan belas tahun ini sudah duduk bersanding tak bergerak-gerak seperti dua buah arca yang amat bagus buatannya.

Baca juga: Pendekar Cengeng II (14)

Inline Ad

Si wanita duduk menunduk sampai punggungnya melengkung dan dagunya menyentuh dada, mata setengah terpejam dan mukanya tertutup untaian mutiara yang semacam kerudung.

Yang pria, masih dalam pakaian pengantin yang indah, mukanya yang tampan itu kemerahan, sepasang pipinya yang putih halus menjadi merah karena tadi ia dipaksa minum arak pengantin oleh para handait olan yang memberinya selamat, sepasang mata yang lebar bening itu berkilauan akan tetapi mulutnya tersenyum-senyum malu.

Beberapa kali ia mengerling ke kanan, beberapa kali ia menengok, beberapa kali bibirnya bergerak-gerak hendak mengeluarkan suara. Namun. semua itu sia-sia belaka, tak dapat ia mengeluarkan suara karena setiap kali jantungnya melonjak-lonjak seperti mau meloncat keluar dari mulut melalui kerongkongannya.

Ia sudah berusaha untuk menggerakkan tangan kanan buat menyentuh jari-jari tangan halus isterinya yang berada di atas pangkuan, namun tangannya gemetaran dan hilang tenaganya.

Tiba-tiba pengantin wanita menarik napas panjang dan terdengar isak tertahan satu kali. Ia sudah lelah menanti, hampir tak kuat menahan getaran jantungnya saking tegang, namun suaminya tetap diam saja. Hal ini benar- benar menjadi godaan yang tak dapat ditahan lagi hampir ia menangts. Ingin ia menjatuhkan diri terlungkup di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.

“Moi-moi…….! Akhirnya suara yang dinanti-nantinya itu terdengar juga, suara suaminya yang menggetar-getar. Suara yang menembus dadanya, terus menyentuh jantungnya, membuat ia sesak bernapas lalu menoleh sedikit, melirik kemudian tersenyum malu-malu membuang muka lagi melihat ke bawah.

Tangan pengantin pria itu tiba tiba berada di tangan pengantin wanita, sentuhan perlahan namun merupakan sentuhan pertama yang terasa sampai ke tulang sumsum membuat tangan pengantin wanita yang kecil itu menggigil seperti seekor burung kecil digenggam orang. “Kenapa tanganmu dingin sekali, moi. moi?”

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng I (19)

“Tidak ……. Apa-apa.”

Kalimat pertama ini membuka pintu kecanggungan yang tadi memisahkan mereka tetapi tak lama kemudian, ketika dengan jari gemetar si pengantin pria membuka kerudung penutup muka pengantin wanita lalu terpesona oleh kecantikan wajah isterinya, wanita muda belia itu dengan malu-malu menahan ketawa lalu menyandarkan kepala di dada suaminya.

Dalam keadaan mesra itu, keduanya lau saling menuturkan keadaan diri masing- masing.

Pada saat itulah mereka terkejut oleh suara lengkingan yang terdengar di atas rumah, suara yang makin lama makin nyaring dan dekat, setelah itu terdengar suara genteng terbuka bersamaan pecahnya langit-langit kamar pengantin melayang turun sesosok tubuh manusia ke dalam kamar itu lalu seperti seekor burung bayangan itu telah berdiri di atas lantai tersenyum-senyum.

Sepasang pengantin itu terkejut bukan main. Akan tetapi hati mereka agak lega ketika melihat bahwa orang yang melayang turun dari atas ini ternyata adalah seorang wanita muda yang cantik sekali berpakaian serba marah dari sutera tipis. Seorang wanita cantik yang tersenyum- senyum dan sama sekali tidak menakutkan.

Tentu saja sepasang pengantin ini belum mendengar tentang Dewi Suling yang telah menyebar maut siang tadi di rumah judi Lok-nam.

Pengantin pria yang masih merangkul pinggang isterinya, segera menegur, “Kau siapakah dan apa perlumu memasuki kamar kami seperti ini……?”

Dewi Suling tersenyum, manis sekali dan sepasang matanya menatap wajah pengantin pria terus ke bawah seperti orang menaksir serta memeriksa. Agaknya ia merasa puas dengan hasil pemeriksaannya itu, lalu tertawa sehingga bibir yang merah itu terbuka memperlihatkan rongga mulut yang lebih merah lagi di balik deretan gigi putih.

“Ah, benar.benar tampan pengantin pria ! Sayang jejaka setampan ini ditemani seorang wanita yang lemah !” Ia melangkah maju dan jari-jari tangannya mengusap dagu dan pipi si pengantin pria dengan gerakan mesra. Saking kaget dan herannya, pengantin pria itu membelalakkan mata tak mampu mengeluarkan suara dan mukanya yang putih menjadi amat merah.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng 4 (10)

Akan tetapi pengantin wanita yang melihat bahwa pengunjungnya, itupun hanya seorang wanita sudah dapat menguasai kekagetannya dan membentak.

“Dari mana datangnya perempuan rendah dan gila ini ? Hayo pergi…….!”

Akan tetapt kata-katanya ini segera disusul jeritannya yang mengerikan karena Dewi Suling sudah menggerakkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka menusuk ke depan dan …….. jari-jari yang kecil halus itu bagaikan ujung lima batang pedang yang telah amblas memasuki ulu hati si pengantin wanita, menembus pakaian kulit dan daging.

Si pengantin wanita roboh di atas pembaringan dan darah mengucur keluar dari dadanya. Di lain saat pengantin pria yang hendak bergerak tiba-tiba menjadi lemas dan tak dapat bergerak ketika tubuhnya direnggut kemudian dipanggul di atas pundak. Dewi Saling sekali meloncat sudah malayang naik dan ke luar melalui langit-langit kamar yang sudah bobol itu.

Tak lama kemudian pemuda belia she Bhok yang tadi masih jadi pengantin, kini telah menjadi seorang tawanan yang dibiwa berlari-lari cepat sekali dalam malam gelap.

Malam itu pemuda remaja she Bhok memang masih jadi pengantin pria, akan tetapi ia bukan berpengantin dengan isterinya di dalam kamar pengantin melainkan berpengantinan dengan Dewi Suling seorang wanita yang penuh nafsu dan pengalaman dan bertempat di pinggir sebuah sungai kecil dalam hutan di luar kola Ho-pak.

Bukan di ranjang pengantin yang berhiasan sutera berwarna, melainkan di atas tanah bertilamkan rumpnt hijau tebal dihias bunga yang tumbuh di sekitar tempat itu.

Muda belia she Bhok ini bukanlah seorang mata keranjang, bukan pula seorang hamba nafsu dan betapa cantik menggairahkan sekali pun Dewi Suling itu, ia tidak akan tunduk dan menuruti hasrat kotor dari hina si iblis betina, kalau saja ia tidak dipaksa menelan dua butir obat yang membuat pemuda she Bhok menjadi seperti mabok dan gila karena pengaruh obat itu, dia berubah menjadi seperti setan kelaparan dan melayani hasrat Dewi Suling dengan nafsu yang sama besarnya.

Baca Juga:  Kho Ping Hoo: Pendekar Cengeng I (22)

Akan tetapi pada keesokan harinya, menjelang siang pengantin pria she Bhok ini sudah terkapar mati di tepi sungai dengan tubuh utuh, tanpa pakaian, sama sekali tidak tertuka dan mukanya pucat tak berdarah lagi itu membayangkan kepuasan dengan mulut tersenyum. Akan tetapi dari semua lubang di tubuh menetes-netes keluar darah!

Siapakah wanita sekeji iblis yang disebut Dewi Suling itu? Dia ini bernama Ma Ji Nio dan orang-orang kang-ouw yang membenci sepak terjangnya memberi jutukan Cui- siauw-kwi Setan Peniup Suling) sedangkan orang-orang yang takut menyebut Cui-siauw Sianli (Dewi Peniup Suling).

Akhir Jilid II

Bersambung…

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.