Lebih Takut Allah atau Corona?

Foto : Pembatasan Jamaah di Masjidil Haram, yang sebelumnya ditutup karena Corona (sumber : Live Streaming You Tube)

Oleh : Muhammad Zaiyani

Wabah (tha’un) dalam peradaban Islam

Wabah penyakit bukanlah hal yang baru dalam sejarah perkembangan peradaban Islam. Setidaknya ada 5 wabah (tha’un) besar yang pernah terjadi dalam sejarah Islam yang menyebabkan puluhan ribu meninggal dunia, yaitu : 1) Tha’un Syirawaih, yang terjadi pada zaman Rasulullah tahun 6H; 2) Tha’un ‘Amwas pada masa khqlifah Umar bin Khattab tahun 18H; 3) Tha’un pada zaman Ibnu Zubair tahun 69H; 4) Tha’un Fatayat pada tahun 87H; 5) Tha’un yg terjadi pada tahun 131H.

Inline Ad

Konsep lockdown sesungguhnya pengejawantahan dari sabda Rasulullah SAW, “bila mana engkau mendengar tentang adanya wabah di suatu negeri maka janganlah sekali-kali kalian memasukinya, dan bila wabah itu terjadi di sebuah negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya”. Sabda ini sangat jelas memandu kita menghadapi wabah penyakit (pandemi) seperti wabah corona yang sedang melanda dunia saat ini.

Alkisah Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabatnya dalam perjalanan menuju ke Syam (Suriah) pada tahun 18H. Ketika sampai di daerah Sargha (perkampungan di lembah Tabuk, jalur menuju Syam), beliau bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarrah bersama sahabat-sahabatnya. Abu Ubaidah bin Jarrah mengabarkan bahwa negeri Syam sedang berjangkit wabah penyakit (tha’un). Mengetahui hal ini, Umar Ibnu Khattab segera mengumpulkan sahabat dan pasukannya untuk bermusyawarah apakah akan melanjutkan perjalanan atau kembali ke Madinah. Terjadi perselisihan pendapat dalam musyawarah tersebut. Ketika akhirnya Umar Ibnu Khattab memutuskan dan mengumumkan dihadapan pasukannya, bahwa akan kembali ke Madinah besok pagi, Gubernur Abu Ubaidah bin Jarrah pun berkata: “apakah engkau akan melarikan diri dari takdir Allah? dan dijawab oleh Umar bin Khattab : “Ya betul kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain”. Umar melanjutkan : “Seandainya kamu punya unta, kemudian ada dua lahan yang subur dan yang kering. Bukankah bila kamu gembalakan ke lembah yang kering itu adalah takdir Allah, dan jika kamu pindah ke lembah subur itu juga takdir Allah juga kan?”. Demikian akhirnya Umar Ibnu Khattab bersama pasukannya kembali ke Madinah dan Abu Ubaidah bin Jarrah bersama pasukannya kembali ke Syam. Abu Ubaidah bin Jarrah akhirnya dikabarkan meninggal karena wabah tersebut.

Baca Juga:  Etika Politik Anggota DPR di Tahun Politik

Membandingkan Allah dan Corona

Keputusan Pemerintah Indonesia melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti menutup semua tempat-tempat umum, tempat-tempat hiburan, dan tempat ibadah, untuk menghidari kerumunan massa sesungguhnya adalah pilihan yang tepat sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, dan juga seperti apa yang di-sabda-kan oleh Rasulullah SAW.

Di Indonesia perdebatan tentang penutupan masjid khususnya untuk shalat berjamaah dan atau shalat Jum’at menjadi perdebatan yang tak berujung. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa membolehkan untuk tidak melakukan shalat jama’ah di masjid selama masa wabah dan mengganti shalat Jum’at dengan shalat Zhuhur. Namun sayang ada sebahagian kelompok masyarakat dan atau (yang mengaku) ustadz yang menentang fatwa itu, padahal Ijtihad yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai mejelis yang berwenang untuk itu, bukan tanpa didasari atas pertimbangan keagamaan yang matang dan shahih. Bandingkan dengan apa yang terjadi di Makkah yang merupakan jantungnya dunia Islam. Masjidil Haram (pusatnya masjid dunia) saja ditutup untuk umum karena wabah corona ini, sehingga pada tahun 2019 pelaksanaan Ibadah Haji ditiadakan.

Bukan ini kali saja wabah menyerang Makkah. Pada tahun 827 H (1449 M) Kota Suci ini juga pernah diserang wabah penyakit. Pada masa tersebut masjid-masjid di Makkah al-Mukarramah termasuk Masjidil Haram ditutup dan kaum muslimun tidak mendatangi masjid karena kekhawatiran terjadinya penularan penyakit. Pada tahun 1920-an pemerintah Arab Saudi pernahjuga melarang dan menutup ibadah haji karena saat itu terjadi wabah kolera. Demikian juga pada 1800-an ketika berjangkit wabah malaria, dan pada tahun 1860-an juga ketika ada wabah kolera.

Baca Juga:  Natal Berlalu, Danny Apresiasi TNI-POLRI

Dari apa yang pernah terjadi di Makkah (sebagai kiblatnya ummat Islam dunia), bisa disimpulkan bahwa meniadakan shalat berjamaah di Masjid karena wabah adalah hal yang sudah terjadi beberapa kali dan keputusan Pemerintah Arab Saudi tentu tidak menyalahi fiqih Dengan demikian pula fatwa MUI tentang “melarang” kita shalat berjamaah di Masjid selama masa pandemi corona ini wajib kita taati.

“Kami lebih takut pada Allah daripada corona”; “Allah akan melindungi (dari Corona) orang-orang yang Shalat berjamaah di Masjid”; demikian narasi-narasi yang berkembang di masyarakat. Narasi-narasi –yang kelihatannya benar itu– sesungguhnya adalah narasi yang mengandung sesat berpikir (logical fallacy). Takut pada Allah dan takut pada Corona adalah dua hal berbeda yang tidak bisa dibandingkan karena keduanya adalah perintah Allah dan Rasul-Nya. Perihal takut pada wabah juga adalah perintah Allah dan Rasul-Nya juga. “Larilah dari orang yang terkena lepra sebagaimana engkau lari dari singa” (HR al-Bukhari). Perihal “Allah akan melindungi (dari Corona) orang-orang yang Shalat berjamaah di Masjid” adalah dua hal yang tidak berkaitan antara satu dengan yang lainnya, dan sesungguhnya terbantahkan dengan terjadi beberapa cluster corona di Masjid, Pesantren, dan tempat ibadah lainnya. Dinas Kesehatan DKI mencatat positif rate cluster rumah ibadah beragam dari 10% kemudian meningkat menjadi 51%, bahkan pernah menembus 74%.

Menghindari keburukan lebih utama daripada melakukan kebaikan

Dalam ajaran islam, ijtihad adalah bagian dari fiqih yang merupakan solusi terhadap permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini sudah sejalan dengan kaidah fiqih bahwa menghindari keburukan lebih didahulukan daripada melakukan kebaikan. Kaidah ini menjelaskan bahwa menghindari wabah corona lebih didahulukan daripada pelaksanaan shalat Jum’at. Shalat Jum’at digantikan dengan Shalat Dhuhur di rumah (rukhshah). Inilah sebaik-baiknya perkara sebagaimana Hadits Rasulullah SAW, “Sebaik-baik perkara adalah sikap tengah.” (HR. Ibn As-Sam’ani). Kewajiban shalat Jumat tidak diabaikan, hanya diganti dengan shalat Dhuhur sebab aturan fiqih menyatakan jika shalat Jumat terhalang untuk dilaksanakan, maka harus diganti dengan shalat Dhuhur. Jadi dalam hal ini tidak ada perintah dan larangan Allah yang dilanggar. Di sisi lain, hak kaum Muslimin untuk tidak terancam keselamatan jiwanya dipenuhi dengan meniadakan shalat Jumat demi menghindari tertular penyakit Corona.

Baca Juga:  [OPINI] Kecerdasan Paralel

Wallahu a’lam Bishshawabi

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.