Mau Jadi Gubernur Sulsel? Baca Dulu Tulisan Ini

Kamaruddin Azis (Image: facebook)
Top Ad

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Menarik, tulisan Kamaruddin Azis, alumni Ilmu Kelautan Unhas, dengan judul, Membaca Buku Imam dan Kepentingan Pilgub Sulsel. Bahasan Kamaruddin dengan mengambil alas pikir dari buku yang ditulis Imam Mujahidin Fahmid, dengan judul: Identitas Dalam Kekuasaan (2012), sangat menarik dan bisa membantu para aktor yang memburu jabatan Gubernur di Sulsel. Berikut analisisnya.

Membaca Buku Imam dan Kepentingan Pilgub Sulsel

Inline Ad

Meski Syahrul Yasin Limpo berhasil ‘memanipulasi’ kesadaran sejarah antar etnis Bugis dan Makassar dari kesadaran sosial, politik, dan kultural yang sangat diferensiatif, terutama dalam struktur kekuasaan, menjadi kesadaran sosial, politik dan kultural yang relatif homogen, akan tetapi masih tersimpan ruang kontestasi yang tersembunyi antar etnis Bugis dan Makassar dalam pembentukan elite-elite politik dan ekonomi, dan perebutan panggung-panggung kekuasaan.

Pernyataan ‘penuh harapan’ tersebut ada pada halaman 204 Buku ‘Identitas dalam Kekuasaan’, besutan Imam Mujahidin Fahmid, dosen Pertanian Unhas. Pernyataan nan relevan jika membaca gairah, manuver dan kasak-kasuk netizen kontemporer dalam mengelus jagoannya terutama untuk Pilgub Sulsel 2018 sekaligus bukti penting untuk kita, voters, tim sukses, politisi atau sesiapapun jika ingin melihat perhelatan pemilihan kepala daerah yang kece dan berkualitas di Sulawesi Selatan.

Tak sabar untuk melihat formasi final pasangan Calon Pilgub Sulsel? Dengan siapa nanti Aziz Qahhar, Andi Muzakkar, Agus Arifin Nu’mang, Burhanuddin Andi, Ihsan Yasin Limpo, Nurdin Halid, Matius Salempang, Ni’matullah, Nurdin Abdullah, Rivai Ras, Rusdi Masse berpasangan? Adakah calon lain yang lebih pas dan belum sempat pasang baligo? Hal-hal apa saja yang harus menjadi konsideran dalam memilih paket yang pas? Sabar, pelan-pelan.

Dalam jalan pulang dari kantor COMMIT di kawasan Batua, Pa’nakkukang, Makassar (26/05), mata dan pikiran saya tiba-tiba fokus pada satu poster. Tentang seseorang yang pernah saya dengar presentasinya pada salah satu acara IKA Unhas di Jakarta. Kira-kira dua tahun lalu. Sepanjang jalan dari Batua Raya hingga Aroeppala, posternya yang bermain di pikiran.

Bukan bahwa saya tertawa keinginannya sebagai calon Gubernur atau bulat memilihnya tetapi ‘betapa seriusnya’ dia untuk maju di pemilihan Gubernur, yang sungguh jelas bagi sebagian besar kalangan akan tidak jauh-jauh dari elite partai, yang itu-itu saja, dan mewakili dua hegemogi kelas sosial budaya di Sulsel. Tidak berarti bahwa yang bersangkutan tidak pada domain itu tetapi saya membayangkan rumit dan lebatnya belantara tantangan dan rintangan untuk jadi elite di Sulsel.

Demi memperkaya opini kita pada pengalaman politik di Sulsel, saya membaca ulang buku Identitas Dalam Kekuasaan yang ditulis oleh Imam itu yang saya kenal, atau persisnya lihat wara-wiri sebagai aktivis di Agrokompleks Unhas nun lampau di sekitar awal 90an. Mengapa buku itu? Ada dua alasan. Pertama pada daya tarik diksi, hibriditas kuasa, uang dan makna dalam pembentukan elite Bugis dan Makassar. Keren bukan? Yang kedua, saya kenal Imam sebagai ‘mitra dekat’ Syahrul Yasin Limpo.

Terkait Imam dan pengalaman SYL sebagai pemenang dua pelaksaan Pilgub Sulsel tentu menggoda hasrat untuk mengetahui apa saja muatan nilai, pengetahuan, panduan dari Imam hingga dia bisa memperkaya corak langgengnya SYL sebagai Gubernur dua periode, mengalahkan dominasi Amin Syam yang militer serta Ilham Arief Sirajuddin di periode kedua.

Yang menarik dan penting ditelaah, dicerna, dipertimbangkan di buku itu adalah, faktor berpengaruh kemenangan SYL atas Amin Syam tahun 2009. Jelas sekali bahwa SYL menang besar di wilayah Selatan, dari Makassar hingga Selayar. Kecuali Je’neponto, SYL kalah tipis. Amin Syam meraja di jalur Bosowa, sementara Azis Qahhar dominan bertahta di Luwu Raya, kalah tipis di Luwu Utara.

Apa penyebabnya? Nanti dulu. Sekali lagi, membaca situasi itu, kita bisa menyebut bahwa kontestasi politik antar etnis memang berlangsung ketat dan menarik. Tetap ada peluang penetrasi lintas wilayah dan etnisitas seperti menangnya Amin Syam di Je’neponto (yang sangat Makassar itu) dan kalahnya di Barru atau Luwu Utara. Demikian pula menang besarnya SYL di Toraja. Hal seperti inilah yang menjadi bumbu politik Pilkada dan selalu menarik untuk ditunggu. Betapa pentingnya bagi sesiapapun untuk membaca dimensi atau aspek yang merupakan penentu keunggulan politis tersebut.

Pesan buku

Buku yang ditulis oleh Imam ini menjadi pemaknaan elite dan kekuasaan, dimensi sosial positivistik hingga sosial kritis yang bermuara perebuatan kekuasaan bernama Pilkada itu. Dia juga memetakan jagat etnis Bugis Makassar, bagaimana bentuk dan polanya menjaga keseimbangan, hibridisasi simbol. Kuasa dan uang dalam pembentukan elite Bugis dan Makassar. Membaca uraian tersebut rasanya kita akan mendapat alas penting sebelum masuk ke konteks seperti pemilihan anggota legislatif di berbagai level hingga kontestasi Pilkada seperti Bupati, Walikota atau Gubernur.

Imam merujuk ke pikiran Pareto dan Mosca yaitu bahwa di masyarakat ada dua kelompok yaitu elite yang berkuasa (governing) dan elite tidak berkuasa (non-governing). Perhatikan ini wahai tim sukses! Ini dikuatkan oleh Mosca bahwa di antara elite dan masyarakat (massa) ada yang disebut sub-elite. Imam menggambarkan pembentukan elite politik Sulsel tidak lepas dari skema muara pada Governing Elite dan Non-governing elite, atau Elite Pemerintahan dan Bukan Elite Pemerintahan.

Pada yang pertama bermula dari berkelindannya beragam politisi, praktisi birokrat, militer, pengusaha dalam corak kapitalisasi, simbol budaya, kuasa dan uang. Mereka inilah yang langsung dan tidak langsung bersinggungan dengan LSM, tokoh agama, media massa, mahasiswa yang juga dipengaruhi untuk mengkapitalisasi sumberdaya, mengelola ideologi dan mitos-mitos (simbol budaya) itu.

Muara keduanya pada bergeraknya non-elite atau massa ke aras masyarakat dan mempengaruhi opini untuk memilih elite yang dikehendaki atau diskenarionkan. Yang muncul kemudian (terpilih) adalah Governing Elite dan Non-Governing Elite tadi.

Meski demikian, disebutkan bahwa elite berkuasa adalah yang mereka memiliki kemampuan membangun relasi atau hubungan baik dengan massa (memiliki ideologi yang sama), sebaliknya elite yang tidak berkuasa adalah elite yang gagal membina hubungan baik dengan sub-elite dan masyarakat. Pertarungan kepentingan dan jalan ke tampuk kuasa tetap melibatkan kedua elite tersebut, elite yang terpolarisasi melalui partai dan peserta pemilihan sebab kalah dan menang sama saja, selalu ada gairah untuk merebut kekuasaan.

Menurut Imam, relasi antar kekuasaan uang, simbol, pengaruh dan komitmen nilai (wacana dan makna) adalah variabel-variabel yang ikut memberikan kontribusi dalam proses pembentukan elite di Sulawesi Selatan. Terutama, kata Imam, apabila pembentukan kekuasaan elite (elite) itu beriringan dengan kepentingan atau konflik antar kelompok identitas, etnis, agama, kultur dan geografi. Secara tidak langsung, Imam ingin mengingatkan kita tentang perlunya menyentuh dan memoles aspek ini sebagai jalan menuju keunggulan politik itu.

Disebutkan bahwa pola permainan elite politik Bugis dan Makassar dalam upaya meraih, mempertahankan dan memperluas kekuasaan berbeda dari satu tahapan waktu dengan era lainnnya. Imam merujuk pada Gibson (2005-2007) yang menguraikan tahapan perkembangan atau transformasi elite politik dan ekonomi pada etnis Bugis dan Makassar yang dimulai dari tahapan tradisional, Islam dan moderenisme.

Pikiran Gibson tersebut oleh Imam, disebut sebangun dengan telisikan Comte di buku the Course of Positive and Philosophy, (1838). Menurut Comte, sejarah perkembangan pikiran manusia dibagi menjadi tiga tahap yaitu teologi (meliputi pilihan fetisisme, politeisme, monoteisme), metafisis (menggambarkan konsep dewa melebur menjadi all inclusive nature) dan positif (berdimensi hukum deskriptif, prediksi dan mengontrol, pengetahuan positif yang real, pasti dan berguna). Inilah yang menjadi pahatan Comte menjadi filsafat Positif itu. Comte menghubungkan tahapan tersebut dengan fase hidup individu dan melihat fase ini dengan kacamata sejarah yang lebih luas, (halaman 127).

Bagi Imam, padangan Comte dan Gibson belakangan, dapat diambil dua poin, berkaitan kepercayaan, yang oleh Comte sesungguhnya disebut kerdil sebab tak berdasar pada akal sehat.

Kedua adalah korelasi tiga tipe organisasi sosial dengan tiga tahap perkembangan manusia. Ini didasari pandangan bahwa perkembangan sosial dapat berjalan lebih cepat karena adanya rencana sosial yang dilakukan oleh para elite pengetahuan. Teori Comte dapat ditafsirkan pula pada tiga periode yang meliputi alur feodalisme, absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat modern dan industri.

Hal demikian itulah yang bisa dimainkan, direkayasa, diutak-atik, dipolitisasi, di-branding oleh para elite kekuasaan politik dan ekonomi dengan membangun konstruksinya sendiri untuk meraih, memperkokoh, dan memperluas kekuasaannya. Konstruksi yang dimaksud dibangun dengan instrumen-instrumen utama seperti simbol budaya, kuasa, dan uang sebagai bagian dari ‘permainan teater politik’, disebut demikian sebab berkaitan dengan permainan karakter dan rekayasa nilai.

Yang pasti bahwa kuasa (dengan huruf K besar) memiliki hubungan dengan politik, uang (dengan U besar) berkaitan dengan ekonomi, simbol Budaya (huruf b besar) berpengaruh pada komitmen nilai dan makna yang diwacanakan terus menerus dalam berbagai cara. Inilah pesan politis dari buku itu. Mainkan, wahai tim sukses!

Kuasa dan Uang

Merujuk ke paparan sebelumnya, beralas pada Comte dan Gibson, Imam membungkus Uang, Kuasa dan Uang, Kuasa dan Simbol Budaya dengan rapi, padat dan terlihat relevan dengan konteks saat ini. Menurut saya, inilah yang diingatkan oleh Imam, kepada siapapun yang ingin menyalurkan hasrat kuasa dan asa kemenangan politis itu. Uang, Kuasa dan Simbol Budaya sebagai domain utama yang perlu diperhatikan.

Diingatkan Imam, Kuasa dan Uang bertahta di antara fase metafisik dan positivistik, fase tradisional, feodalisme islam, modern dan sekulerisme dengan lembaga negara, regulasi dan birokrat.

Lalu, Kuasa dan Simbol Budaya diapit antara fase teologis, fetitisme, politeisme, fase tradisional, sekulerisme, dengan etnisitas, agama, wilayah parpol, ormas, CSO atau pekerja sosial, massa dan politis serta LSM. Sementara Uang sebagai agen tunggal diapit di antara fase Modernisme, Metafisik dan Positifistik, Fase Feodalisme, Islam Modern, Sekularisme dengan pasar, institusi bisnis dan pengusaha.

Bagi kita, uraian dari ketiga bagian atau domain itu merupakan unsur-unsur yang harus ditelisik dan dibaca secara menyeluruh terutama dalam peta geopolitik dan administrasi atau kewilayahan. Hal-hal yang perlu dianalisis dan diberi resep yang pas agar dapat berkontribusi pada agenda dan perayaan politik seperti Pilkada itu.

Komplit sudah, silakan bagi yang ingin maju ke pemilihan Gubernur atau kepala daerah untuk menyigi, memeriksa, menyesuaikan, menjadikannya konsideran Comte melalui telisikan Imam Mujahidin Fahmid dalam menyusun strategi meraup suara dan keberpihakan.

Konsideran di atas bisa dimaknai sebagai faktor berpengaruh atau penyebab kemenangan jika dikelola dengan baik. Berguna pula untuk memilih siapa berpasangan siapa, elite governing atau non-governing berduet dengan siapa, atau sebaliknya.

Fakta dan pengalaman telah ditunjukkan pula bahwa tidak serta merta bahwa Bugis dan Makassar sebagai penentu, ada kekuatan abu-abu yang harus dipertimbangkan dan diperiksa dengan saksama. Jangan abai sebab jika tidak, percuma berinvestasi dan wara-wiri di media sosial, Facebook, Instagram, Twitter, poster dan baligo-baligo menghiasi jalan raya tanpa hasil berarti dan membanggakan di perhelatan Pilkada.

Artikel ini tak menyebutkan mengapa SYL bisa menang di Barru atau Luwu Utara, atau menang besar di Toraja, dan mengapa Amin Syam menang tipis di Je’neponto, sengaja tak disebutkan.

Meski demikian ada hal penting yang disebutkan oleh Imam tentang faktor-faktor berpengaruh antara di Bone dan Gowa seperti latar belakang keluarga dan keturunan, fleksibilitas pada isu primordial, pendidikan, pengalaman, kompetensi, track record, hingga simbol-simbol budaya. Tentu saja ada yang masih bertahan, ada yang sudah bergeser.

Penasaran di mana yang telah bergeser dan bertahan? Coba cari bukunya atau tanya tim sukses, hehe.

Tamarunang, 27/05.

Bottom ad