Menabrak Mitos Mistis Burung Hantu

Irvan P Putra, ketua M.O.C saat ditemui Inipasti.com, Minggu (30/10/2016). (Foto: Ahadri)

INIPASTI.COM, MAKASSAR – Burung hantu atau owl dikenal sebagai binatang pemangsa malam yang liar dan buas. Burung hantu juga kerap menjadi simbol mistis. Namun label itu luntur ketika ternyata owl bisa menjadi hewan peliharaan yang jinak dan menyenangkan.

Di Makassar, sekelompok anak muda menjadikan burung hantu ini menjadi sebuah kegiatan yang rutin bahkan telah terbentuk makassar owl community (M.O.C) atau komunitas pecinta burung hantu.

Inline Ad

M.O.C yang bermarkas di Minasa Upa, Blok L ini, tiap malam melatih sejumlah owl yang menjadi peliharaan mereka. Tidak hanya melatih skill, di komunitas ini juga mengajarkan pada anggotanya, bagaimana menjinakkan burung hantu atau yang disebut proses manning. Mereka belajar mengenal kehidupan burung hantu, mulai dari pakannya hingga bisa bersosialisasi dengan manusia. Mereka belajar menjinakkan binatang malam yang liar menjadi hewan peliharaan yang lucu.

Baca Juga:  PJI Sulsel Akan Bahas Independensi Jurnalis di Tahun Politik

Masyarakat umum mengenal burung hantu yang konon menyimpan perilaku mistis dengan berbagai mitos yang menyeramkan. Salah satunya adalah burung hantu sering dikaitkan dengan kejadian orang yang mati. Namun hal itu tidak berlaku bagi komunitas owl Makassar.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi jika ingin bermain dengan burung hantu antara lain tersedianya perlengkapan, yaitu tempat nangkring atau pearch, glove atau sarung tangan yang berguna mencegah agar tangan tidak terluka karena terkena kuku si owl. Angklet atau gelang kaki, ada juga jazz yang merupakan penghubung antara angklet dan swivel. Sementara swivel berguna untuk mencegah agar tali tidak terlilit, dan yang terakhir ada fox atau pluit guna penanda atau kode saat pelatihan owl.

Komunitas makassar owl telah memiliki 10 jenis owl yang berhasil dijinakkan, sementara anggotanya telah berjumlah 20 orang. Tiap minggu sore pun mereka menggelar gathering di anjungan Pantai Losari, pukul 5 sore hingga pukul 8 malam.

Baca Juga:  REI Sulsel Kembali Berbagi Rumah Impian

“Memelihara owl tidak lah sulit namun tidak segampang yang difikirkan. Karena dalam menghadapi jenis ow, haruslah ekstra sabar dalam proses penjinakkan,” tutur Irvan ketua Makassar owl community saat ditemui Inipasti.com di acara Orange Fest, Minggu (30/10/2016).

Seperti pada jenis buffy fish owl yang dilatih menerkam umpannya dalam jarak pendek atau dengan istilahnya (jump to the fist ). Beda halnya dengan jenis barn owl white face. Jenis tersebut bahkan telah berhasil di latih terbang hingga seratus meter demi menerkam umpannya. Yang dikenal dengan istilah fly to the fist, dengan anak ayam sebagai umpannya.

Dalam proses pencapai hal itu, tentu tidaklah mudah. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Seperti proses manning atau penjinakan yang dibiasakan makan di atas glove atau sarung tangan. Serta dibiasakan selama 30 menit berdekatan dengan tuannya (partnernya).

Baca Juga:  Rumah Sakit Regional Akan Dibangun di Luwu Raya, Rajab: Kita Sangat Support Rencana Ini

“Setiap malam jika kita ngumpul bareng teman komunitas kita latih owl untuk mengasah insting membunuh dalam berburu makanannya dan mendekatkan dengan partnernya (tuannya),” tambah Irvan.

Burung hantu memang memiliki daya tarik sendiri. Itu terbukti dari ketertarikan puluhan pengunjung saat komunitas owl menggelar gathering. Perlahan namun pasti , M.O.C mampu mensosialisasikan sebuah edukasi sosial ke masyarakat luas, bahwasanya jenis burung hantu bukanlah untuk ditakuti karena jenis unggas satu ini akan menjadi peliharaan yang unik apabila tahu cara menjinakkannya. Memelihara burung hantu bukanlah hal yang gampang, namun juga bukan hal yang mustahil untuk dijinakkan.

(Visited 1 times, 6 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.