Site icon Inipasti

Mengenal Al-Abrar, dari Surau Menjadi Masjid Besar

INIPASTI.COM – Menelusuri perjalanan panjang Masjid Al-Abrar dari “Surau” hingga menjadi “Mesjid Besar” seperti sekarang, tentunya pengurus memiliki catatan sejarah yang tidak hanya dikenang oleh para pelaku sejarah, akan tetapi perlu di tulis kembali, sebagai pengetahuan sejarah bagi generasi berikutnya.

Sebagai sekretaris pada Masjid Besar Al-Abrar, Penulis mengajak bincang lepas, Bapak H.Muhammad Daming Dg Ngirate (almarhum), beliau pernah menduduki jabatan sebagai Sekretaris Masjid Al-Abrar, sejak awal pembentukannya hingga memasuki awal tahun 2004.

Untuk menuturkan pengalamannya, saat merintis pembangunan “SURAU” dilengkapi penjelasan tehnis dari Bapak H.Ibrahim Bonro,SH (Almarhum).

Ketika pemilihan Pengurus Masjid Al-Abrar, Periode 2019-2024, tepatnya pada hari Sabtu, tgl 14 September 2019, berikut ini dikisahkan catatan sejarah yang disampaikan dengan gaya bertutur.

Mengenal Kampung Lempong.
Pembentukan Daerah Swatantra Makassar, berdasar PP No 34 tahun 1952. Peraturan dikeluarkan dan disesuaikan dengan perkembangan pemerintahan di Provinsi Sulawesi pada umumnya, serta pertimbangan kondisi keamanan dan sarana perhubungan pada masa itu.

        Dengan dlahirnya Undang-Undang No 1 tahun 1957, pelaksanaannya secara kongkrit terwujud dua tahun kemudian, yakni pada tanggal 4 Juli 1959. 

Dalam perkembangan berikutnya, Pemerintah menyempurnakan aturan perundang-undangan dengan dikeluarkannya Undang-Undang No 8 tahun 1965 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Kotamadya Makassar.

        Sebagaimana dikisahkan oleh almarhum H.Muhammad Daming Dg Ngirate, pada sekitar tahun 1950, tak kala pemerintah membangun jalan baru dari perbatasan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa, sekarang menjadi Jalan Sultan Alauddin.

        Pembangunan di mulai dari Kampung Pa’baeng-Baeng (Sekarang Pasar Pa’Baeng-Baeng) menuju Kota Sungguminasa, jalan tersebut diberi nama Jalan Gowa Raya, belakangan berubah menjadi Jalan Sultan Alauddin Makassar.

        Tersebutlah sebuah perkampungan, namanya “Kampung Lempong” pada bagian timur, berbatasan langsung dengan Kampung Gunung Sari. 

“Kampung Lempong” dahulu masuk dalam bilangan Kampung Jongaya Distrik Karuwisi dalam naungan Kerajaan Gowa.

        Adalah almarhum Bapak H.Bonrolang  yang lebih akrab disapa H.Bonro bersama isterinya almarhumah Hj. Cabogo Dg Nginga,  beserta putra-putrinya , menempati sebuah rumah panggung, letaknya di Jalan Gowa Raya, Sekarang Jalan Sultan Alauddin No 80 Makassar.

        Di sekitar rumah beliau, terdapat pula, bangunan rumah dari Saudaranya, diantaranya,  Dg. Juni, Dg Manong, Dg Subu dan beberapa kerabat lainnya, seperti Dg Manna, mertua dari Bapak Haji Baso Dg Kila, serta tetangga lainnya, yang ada diseberang jalan, namanya Sersan Bali.

        Kehidupan yang rukun dan damai, suasana kekerabatan yang terbangun, hingga terjadi kawin-mawin dengan keluarga sekitar, akhirnya terciptalah keluarga besar, dan “Kampung Lempong” makin di kenal masyarakat selatan kota, termasuk Pallangga, Limbung sampai Bontonompo,  dengan tokoh utama almarhum H. Bonro.

        Dalam perkembangan kemudian, anak mantunya bernama (almarhum) H.Ruddin Dg Bani, bersama isterinya (almarhumah) Hj. Siti Bonro Dg Rannu, membangun sebuah rumah permanen pertama, disamping rumah Bapak (almarhum) H. Bonro. 

Rumah permanen pertama di Jalan Gowa Raya, sekarang didepannya ada penjual Helem Online, masih berdiri kokoh yang letaknya di bagian barat Masjid Besar Al-Abrar, kini selalu dijaga dan dirawat oleh H. Manda (salah seorang maestro tari Sulawesi Selatan). Kondisi H. Mands sudah sepuh sehingga tak dapat lagi ke Lantai II Al-Abrar, dan kini sholat di rumah saja.

        Lahan milik almarhum H. Bonro sekitar 5 hektar. Di bagian belakang rumah ada tanah milik Bapak Dangko, beralamat di Balangbaru. Karena kawasan milik Dangko sering kebanjiran setiap tahun, maka dengan kesepakatan bersama dilakukan tukar guling kala itu.

Memasuki awal tahun 1962, keluarga Bapak Dangko pernah menuntut lahannya, akan tetapi karena bukti-bukti di Pengadilan Makassar menunjukkan, pernah dilakukan tukar guling, maka keluarga Dangko mengalah, dan menerima kenyataan dengan lapang dada, terlebih saat itu ada Jaksa Ibrahim Bonro, SH. Yang memiliki data autentik tentang kepemilikannya.

H.Bonro semasa hidupnya, dikenal sebagai pengusaha “Batu Genting” pembakaran batu merah dan terakhir dilanjutkan oleh mantunya, dengan usaha “Pembakaran batu kapur”

Kegiatan yang sama, juga dilakukan oleh mitra dagangnya, H.Dobolo Dg Nassa (Orang tua sekretaris) yang letaknya di Jalan Andi Tonro I Makassar, sedang pemakai kapur kala itu sangat banyak, karena bangunan masih mencampur semen dan kapurputih. Kala itu banyak anemer yang datang membeli, satu diantaranya yang sampai sekarang masih hidup, namanya H.Baso Dg Kila (92).

Masa Gangguan Gerombolan :
Memasuki masa kacau di Pulau Sulawesi, keadaan keamanan terganggu oleh gerombolan pengacu. Suasana kehidupan di masyarakat ikut terganggu karenanya. Hampir setiap malam terdengar peristiwa pembunuhan, perampokan dan bahkan keganasan gerombolan pengacau ini, tidak segan-segan membumihanguskan rumah penduduk, terutama bagi warga yang jauh dari pusat kota, seperti Kampung Parangtambung, Kampung Gunung Sari, Mallengkeri, Bontoduri dan sekitarnya.

Akibat kekacauan yang dialami, warga menghimpun diri dalam suatu komunitas (Perkampungan), sehingga memudahkan untuk saling membantu bila terjadi perampokan.

Keluarga yang merasa tidak aman di lokasi lama, membongkar rumahnya dan pindah tempat tinggal ke Jalan Gowa Raya (Jalan Sultan Alauddin sekarang), diantaranya Bapak (Almarhum) H.Abd.Razak Dg Tawang, H.Muhammad Daming Dg Ngirate, H. Thaha Dg Nompo, mereka berasal dari Kampung Kassi (Sekitar Samata sekarang).

Sementara dari kawasan Bontoduri, dikenal nama H.Muhammad Alwi (Imam Kampung Bontoduri), H. Abidin Paka dan H. Mustari Dg Nai (salah seorang pemain sepakbola pada zamannya).

Para keluarga dan kerabat yang baru pindah berlokasi di Jalan Andi Tonro Raya, yang merupakan kawasan dengan kondisi jalan tanah pdan disamping kanan jalan, masih terdapat rel-rel kereta api yang menghubungkan Kota Makassar dan Sungguminasa.

Era tahun 1958 – 1959, warga sholat Jumat di Babul Firdaus.
Pada tahun 1958, kegiatan Sholat Jumat dipusatkan di Masjid Babul Firdaus Jongaya, lokasinya di Jalan Kumala Makassar. Tokoh yang memprakarsai pembangunan masjid adalah Muhammad Natsir (Menteri Penerangan saat itu). Salah satu ciri khas bangunan masjid itu adalah didalamnya terdapat Makam Maulana Sultan Husain (Pendiri Masjid).

Mengenal Masjid Babul Firdaus dalam Lintasan Pembangunan Al-Abrar
Bentuk masjid ini persegi enam yang bermakna, rukun Iman dan anak tangganya lima yang bermakna “Rukun Islam”. Tinggi Menara 12 meter sebagai pertanda bahwa pembangunan masjid ini pada tanggal 12 Rabiulawal. Jumlah anak tangga Menara berjumlah 45, luas bangunan 887 m2, saat ini luasnya menjadi 2000 m2.

        Masjid ini mempunyai “Bedug” yang panjangnya 90 Cm, dengan garis tengahnya 1 meter yang terbuat dari pohon Lombok (Lada), 

Sumber informasi dari Direktori Masjid Bersejarah Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Jakarta tahun 2008.

Awal terbangunnya Surau (Langgar) Al-Abrar :
Memasuki pertengahan tahun 1958, H. Bonro memprakarsai untuk melaksanakan sholat lima waktu dan sholat tarwih di rumahnya (rumah panggung). Mengingat kalau ke Masjid Babul Firdaus, terlalu jauh jalur yang di tempuh dengan jalan kaki, belum lagi adanya gangguan gerombolan.

Suatu malam , seusai sholat tarwih di rumah H.Bonro, dengan Imam H. Muh. Alwi, mereka bersepakat untuk membuat Surau (Langgar), sehingga jamaah tidak lagi melaksanakan di rumah Bapak Haji Bonro.

        Kesepakatan keluarga, saat itu turut dihadiri Bapak H.A.Razak Dg Tawang. Awal-awal terbentuknya Surau (Langgar). Para imam saat itu,  saling bergantian, terkadang ditunjuk pula sebagai Imam, Ustaz Ramli dari Banjarmasin, yang bacaannya Al-Qurannya sangat bagus, sedang Imam rawatibnya,  H.Muhammad Alwi (Ayah kandung Bapak HM. Yusuf Alwi).

        Dengan kesepakatan bersama di rumah panggung, Haji Bonro  lalu “Mewakafkan tanahnya ukuran 6×9 meter. Konstruksi bangunan saat itu,  model parek-parek (Miring), untuk menandakan bahwa itu adalah masjid, maka tembok bagian depan di lukis seperti “Kubah Masjid” itulah awal terbangunnya Masjid Al-Abrar.

Mendung di Keluarga H. Bonro :

        Suatu ketika, datanglah bertamu Sersan Bali  kerumah H.Bonro, usai sholat tarwih, Sersan Bali masih singgah ceritera dengan H.Bonro hingga larut malam. Sersan Bali merupakan   anggota TNI yang cukup disegani dan menjadi inceran gerombolan.

Menjelang Pukul 22.00 Wita, anak gadis Sersan Bali yang ikut bertamu ke rumah Haji Bonro, pamit untuk duluan pulang. Anak Sersan Bali bersahabat dengan Hajerah Bonro, anak gadis H.Bonro.

Mendengar sahabatnya mau pulang, Hajerah Bonro ikut mengantar, malam hari itu ada empat orang yang ramai-ramai menyeberang jalan menuju ke rumah Sersan Bali. Hajerah Bonro sendiri tidak diketahui oleh ayah bundanya kalau dia ikut menyeberang, karena Hajerah Bonro turun dari tangga belakang.

Malam itu tercatat malam ke-7 bulan Ramadan tahun 1958. Begitu tiba di rumah Sersan Bali yang letak di seberang jalan, keempatnya naik tangga (tuka), tiba-tiba diberondong dengan serangan tembakan gerombolan yang sudah lama menunggu di bawah tangga.

Gerombolan menyangka, itulah Sersan Bali, ternyata salah sasaran, karena yang menjadi korban, adalah Norma dan Hajerah yang tewas seketika, sedang yang selamat dari maut, H. Usman Bonro, kini sudah almarhum.
Proses lahirnya Tanah Wakaf

        Seiring dengan makin bertambahnya jumlah pemukiman di Lempong dan sekitarnya, kemudian munculnya perumahan pertama dari Kantor Gubernur dan hadirnya Sekolah Tinggi Menengah (STM) Pembangunan.

Sementara it, jamaah semakin membludak.

Seiring hadirnya kompleks perumahan, masyarakat sekitar lalu memberi nama “Kampung Gunungsari Baru alias Gusbar” Sedang kawasan di sekitar Tala Salapang disebut denga “Gunung Sari Lama”.

Selanjutnya Almarhum H.Bonro mengikrarkan, mewakafkan tanah miliknya seluas 1000 meter, dengan rincian panjang 40 meter dan lebar 25 meter. Tanah dimaksud tercatat dalam rincik Percil No 43 dan No 45 S.III

Sebagaimana “Fakta Ikrar wakaf” yang ditandatangani dihadapan Kepala Kantor urusan Agama /Pejabat Pembuat Ikrar Wakaf Kecamatan Tamalate No. 039/IT/Hk 03.4/96 tanggal 1 Oktober 1996 yang ditandatangani Bapak Drs. H.Manuddin dan Ir. Ismail Bonro selaku pemberi wakaf merangkap Ketua pertama dari Masjid Al-Abrar Makassar.

        Kehadiran perumahan Kantor Gubernur di Kawasan Gunungsari Baru semakin memperkuat keberadaan Masjid Al-Abrar, sehingga ditunjuklah “Panitia Pembangunan dan Penyempurnaan Masjid Al-Abrar, dengan melibatkan pejabat seperti : 

Haji Muhammad Riza, mantan Kakanwil Departemen Penerangan Sulawesi Selatan, Bapak Samad Suhaeb (orang tua dari dua orang pengurus Al-Abrar sekarang yaitu Dr. Irsyad Samad dan DR. Kusno Kamil), Andi Makkulau, Ir. Tjambolang termasuk Dg Manambung, dll

Adalah Ustaz Dahir yang sedang mengikuti kuliah di IAIN Alauddin Makassar. Dari hasil perenungannya, Ustaz Dahir lalu memberi nama “Masjid Al-Abrar”. Dahri lalu melanjutkan kuliahnya di Arab Saudi, sampai sekarang tak ada lagi kabar beritanya.

Masjid Al-Abrar terus berkembang dari Surau (Langgar) menjadi “Masjid Jami dengan Ketua H.Ismail Bonro dan Sekretaris H.Muhammad Daming Dg Ngirate (Keduanya sudah almarhum).

Berbagai prestasi yang telah dicapai pada masanya, termasuk dengan hadirnya Bapak Lahamuddin Daeng Gassing pada tahun 1987, yang kala itu masih berstatus sebagai Remaja Masjid Al-Abrar Makassar, untuk tempatnya beraktifitas dibawah menara Al-Abrar.

IR. H. Mathori Bapak Pembangunan :
Waktu berlalu, masa berganti dan pengurus masjidpun berubah. Sejak meninggalnya Ketua Masjid Bapak Ir. Ismal Bonro, jabatan ketua berpindah kepada Bapak H. Ibrahim Bonro, SH, pada pertemuan di Rumah Almarhum H. Mado Dg Dg Sese, disepakati jabatan ketua masjid, dipercayakan kepada Ir. H.Mathori.

        Ir. Mathori selaku ketua dan bendahara Bapak H.Zainuddin bergerak cepat, mengambil prakarsa dengan membentuk “Yayasan Al-Abrar” akte notarispun di buat, bahkan mengganti alamat mesjid menjadi “Mesjid Al-Abrar Kelurahan Mannuruki, sesuai dengan kondisi obyek pajak, tuturnya saat itu.

        Itulah sehingga pada jam yang besar dekat mimbar, terbaca Masjid Al-Abrar Kelurahan Mannuruki Kota Makassar (Walau banyak jamaah tak setuju, karena secara historis, Masjid Al-Abrar masuk dalam Kelurahan Pa’Baeng-Baeng).

Dengan modal nama Yayasan Al-Abrar dan kebebasan untuk menata dan membangun. Ir. Mathori mulai membangun, pelan tapi pasti : Masjid Al-Abrar yang lama yang menjadi saksi sejarah, perlahan diratakan dengan tanah, termasuk merobohkan menara yang tinggi. Perobohan Menara ini, sempat ditantang oleh para jamaah, termasuk keluarga pewakaf tapi tak digubris.

        Melihat semangat membangun yang menggebu-gebu, akhirnya keluarga pewakaf yang dimotori H.Ibrahim Bonro, kembali menyerahkan tanah wakaf seluas 600 mete,r disaksikan H.Mado Achmad dan H.Usman Bonro pada tanggal 25 Mei 2009.

Ir. H.Mathori terus membuat gebrakan dengan merombak masjid lama yang penuh kenangan perjuangan bagi pendahulunya, H.Muhammad Daming Dg Ngirate, tidak lagi masuk dalam jajaran pengurus.

        Dengan penyerahan “tanah Wakaf” seluas 1.600 meter, maka sepenuhnya menjadi milik umat dan tanggungjawab bersama. Ir. H.Mathori bersama pengurus lainnya, terus membangun masjid baru berlantai III.

Sebagai seorang pengusaha sukses, Ir H. Mathori memiliki banyak mitra kerja, sehingga pada suatu kesempatan, membawa Imam Rawatib, Lahamuddin Dg Gassing untuk ikut Umrah ke tanah suci.

Sementara proses pembangunan berjalan, bB\angunan di buat lantai III, impiannya, supaya di lantai dasar ada kegiatan usaha ekonomis seperti ;

“Toko Serba Ada/Mini Market, atau bisa juga dimanfaatkan untuk “Kelompok Dokter Berpraktek” sehingga Pengurus Masjid tidak perlu lagi, cari uang sumbangan kesana kemari, katanya dalam satu kesempatan kepada Penulis.

        Lima tahun lamanya berjuang dari tahun 2009-2014, bangunan rampung dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 3.087.855.000,- (Tiga Miliar delapan puluh tujuh juta delapan ratus lima puluh lima ribu rupiah).

        Dalam proses pembangunan, Ir. Mathori terus melakukan perubahan, baginya berprinsip, “Kami harus tampil menjadi “New Al-Abrar” tapi sedikit melupakan kearifan lokal, dengan mengesampingkan, peran dan usulan serta masukan dari “Keluarga Pewakaf” dan inilah yang menjadi “Miskomunikasi” dengan pihak keluarga pewakaf.

        Pertama, saat proses bangunan berlantai II,I banyak bahan material jatuh ke rumah kediaman almarhum H.Ir. Ismail. Beberapa kali di klaim, tapi tukang batu kurang memperhatikan.

Demikian halnya dengan menara, ada yang mengusulkan, supaya menara itu disisakan sebagai kenangan bagi pendiri masjid. Namun dengan alasan, Menara itu tidak punya besi tulang, akhirnya Menara pun ikut dirobohkan.
Anti Klimaks, Penggantian Pengurus :

Masa pergantian pengurus berakhir dari 2009-2014, para jamaah kala itu, masih meminta agar Bapak Ir. H. Mathori kembali memimpin periode kedua 2014-2019. Namun sayang sekali. mendapat tantangan dari pihak para pewakaf, yang dimotori Ir. Fauzan Wahab dan Abd. Syukur Rahim.

Akhirnya dengan rasa “Penuh Keikhlasan” Ir. H.Mathori menyerahkan kembali kepada H.Ibrahim Bonro,SH berkas Ikrar penyerahan Wakaf Mesjid Al-Abrar dan Akta Pendirian yayasan Al-Abrar dan selanjutnya diserahkan kepada H.Andi Zainuddin Baso,SE anak menantu dari Ir. Ismail Bonro.

        Dengan penyerahan dokumen, akhirnya dilakukan pemilihan pengurus baru 2014-2019 yang dibentuk oleh tim formatur dengan komposisi : 

Ketua H.Hilal Kadir, Sekretaris Drs.H.Syakhruddin.DN,M.Si, Anggota (1). DR.H. Irsyad Samad Suhaeb,SH,MH, (2) Almarhum Drs Muh.Hidayat,M.Pd (4) Drs.H.Guntur Mas’ud (5) Andi Zainuddin Baso,SE yang diketahui Dewan Wakaf Masjid Al-Abrar H.Ibrahim Bonro,SH (Ketua) dan Ir Fauzan Wahab (Sekretaris).

Hasil Tim formatur, akhirnya terpilih H.Hilal Kadir,SE untuk memimpin kepengurusan Periode 2014-2019. Berselang setahun kemudian, Ir. H. Mathori, berpulang kerahmatullah “dengan tersenyum”.

Dia pergi menghadap keharibaan Ilahi, setelah berhasil membangun Masjid Besar Al-Abrar berlantai III, Innalillahi wa inna ilahi rajiun.
Hilal Kadir pimpin Periode Kedua :

        Tepat pada Hari Sabtu 14 September 2019, Bapak H.Hilal Kadir,SE kembali terpilih untuk memimpin Masjid Besar Al-Abrar, untuk periode kedua, tahun 2019-2024, didampingi sekretaris Drs.H.Syakhruddin DN dan Bendahara H.Purnomo Dg Bani.

Masa periode pertama, Masjid Abrar berubah nama dari Masjid Jami Al-Abrar menjadi Masjid Besar Al-Abrar Makassar, demikian halnya dengan kubah yang semula berbentuk “Kubah Mesjid Demak” menjadi Kubah Bundar yang pembuatannya dikoordinir Dr.H. Kusno Kamil sebagai penanggungjawab pembangunnya.

Dengan demikian, Sejak dibentuknya Mesjid Besar Al-Abrar Gunungsari Baru Makassar dipimpin oleh ketua masing-masing ;

  1. Ir. H. Ismail Bonro (Perintis Masjid s/d wafat tgl 1 Juli 2004)
  2. H.Ibrahim Bonro, SH (2004-2009)
  3. Ir. H. Marhori (Bapak Pembangunan) 2009 – 2014
  4. H. Hilal Kadir, SE (2014-2019)
  5. H. Hilal Kadir, SE (2019-2024)
  6. Menjawab pertanyaan salah seorang Jamaah bernama H. Kusno Kamil kepada Bapak H. Ibrahim Bonro, SH tentang posisi “Dewan Wakaf” agar pengurus tidak bekerja dalam bayang-bayang “Dewan Wakaf”
    H. Ibrahim Bonro, SH (almarhum) menjawab dengan tegas : “Kami anak cucu dari H.Bonro dan atas nama kami dari tujuh bersaudara sebagai pewakaf, tidak ada niat untuk mengambil kembali apa yang telah kami wakafkan.

Adapun kepengurusan mau melibatkan keluarga kami, untuk menjadi pengurus atau tidak, itu tidak ada masalah, yang pasti kami sangat ikhlas menyerahkan wakaf untuk masjid.

Sementara di era kepemimpinan Bapak Ir. H. Mathori itu karena Miskomunikasi, jadi saya tegaskan : Tidak ada niat mengambil tanah wakaf, silakan dikelola dengan baik oleh Pengurus” (H.Ibrahim Bonro,SH Sabtu 14 September 2019).

        Selanjutnya menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua, untuk mengembangkan Masjid Besar Al-Abrar, sebagai sarana untuk meningkatkan amal ibadah, tempat mendapatkan ilmu pengetahuan, sarana untuk mengembangkan potensi umat dan menjadikan Masjid Besar Al-Abrar, sebagai sarana untuk meningkatkan silaturahmi diantara jamaah.

Pesan Lontarak mengatakan : Katutui Al-Abrar, tumpaki punna ta rorong, ka punna bajik, jaiki angkanyamei ( Pelihara Al-Abrar, topang kalau sedang miring, karena bila baik kondisinya maka kita semua jati sejahtera).

Memasuki era kepemimpinan kedua ini, H. Hilal Kadir, Se bersama segenap pengurus berniat untuk lebih memperluas peran dan aktifitas masjid yang saat ini sedang dipasangi “Fasade Masjid”

Akan merintis menjadi “Yayasan Masjid Besar Al-Abrar” agar pengurus dapat mengembangkan potensi remaja masjid yang dimiliki dengan membuka berbagai lapangan kerja.

Sehingga Masjid Besa Al-Abrar, bukan saja untuk sholat semata-mata, melainkan pusat dakwah, pengembangan dunia usaha, tahfis Quran dan pengembangan SDM remaja masjid yang handal, Insya Allah (Penulis H.Syakhruddin.DN)

Exit mobile version