Mengimbangi Maraknya Berita Hoax di Masa Pandemi

Oleh: Baizul Zaman, S.Kom., MT

INIPASTI.COM, OPINI – Kasus Covid-19 di tanah air kini sudah melewati angka 100 ribu. Jumlah ini tentu sangat mengkhawatirkan. Apalagi, sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan segera ditemukannya obat mujarab yang bisa menyembuhkan orang-orang yang telah terpapar ataupun vaksin yang dapat memberikan kekebalan tubuh bagi mereka yang masih sehat. 

Inline Ad

Sebagai upaya pencegahan terhadap penularan virus mematikan ini, pemerintah pun mengeluarkan seperangkat peraturan yang mesti dipatuhi oleh setiap orang. Mulai dari memberlakukan PSBB sampai dengan melakukan rapid tes massal di sejumlah daerah yang ditandai sebagai zona merah. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan panduan protokol kesehatan yang harus diikuti ketika sedang berada di luar rumah.

Selama masa pandemi berlangsung, semua aktivitas masyarakat di luar rumah nyaris terhenti semuanya. Sebagai gantinya, banyak yang melakukannya secara online. Kondisi ini pun berdampak pada meningkatnya jumlah pengguna internet di tanah air. Hal ini dapat dilihat dari data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa trafik penggunaan internet selama pandemi meningkat 20% dari biasanya.

Persoalan yang Membayangi

Kita sepatutnya bersyukur, karena perkembangan teknologi internet saat ini akhirnya memungkinkan kita untuk melakukan banyak hal dan bisa saling terhubung dengan mudahnya antara satu dengan yang lain secara online. Kondisi inilah yang kemudian sedikit melegakan perasaan kita saat pandemi Covid-19 melanda.

Baca Juga:  Pemilukada: Syahwat Kekuasaan Melunturkan Rasa Kemanusiaan

Namun demikian, ada satu persoalan yang patut kita waspadai. Seiring dengan meningkatnya trafik pengguna internet di masa pandemi ini, ternyata ada sebagian orang yang memanfaatkanya untuk menyebarkan hoaks atau berita bohong. Dari data yang diungkapkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyebutkan bahwa pada periode Februari hingga April ada sebanyak 1.222 konten hoaks yang tersebar di berbagai platform media sosial. Terutama melalui aplikasi Facebook, Twitter dan Whatsup. Bentuknya pun beraneka ragam. Ada berupa pesan singkat, ada dalam bentuk artikeldan juga ada dalam bentuk gambar serta video.

Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Apalagi masih banyak diantara kita yang masih belum belum mampu untuk menentukan kebenaran sebuah berita. Apalagi ditengah kepanikan seperti saat ini, maka otomatis jika ada informasi yang berhubungan dengan Covid-19 maka hal tersebut langsung ditelan mentah-mentah tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Tentu saja kita berharap, ditengah maraknya berita hoax ini, pihak kepolisian bisa terus bekerja secar optimal menelusuri para pelakunya lalu memberikan hukuman kepada meraka agar tidak mengulangi lagi perbuatanya. Akan tetapi, hal ini tentu akan sulit jika mereka melakukannya sendiri. Mengingat para pelaku hoax ini yang mati satu tumbuh seribu. Untuk itu, perlu upaya bersama yang melibatkan semua komponen masyarakat yang sadar akan bahaya hoax ini.
Gerakan Bersama Melawan Hoax.

Baca Juga:  Toenjoengan, Riwayatmu Kini…

Sudah menjadi rahasia umum kalau ada motif ekonomi yang melatar belakangi para pelaku penyebar berita hoax. Dengan memanfaatkan sebuah momentum, maka mereka akan melakukan hal itu secara masif dan terstruktur.

Sebagai ganjaranya, mereka akan mendapatkan pundi-pundi dari jumlah view, like dan share dari setiap informasi bohong yang mereka sebarkan.
Seperti saat ini misalnya. Saat trafik internet meningkat dan banyak masyarakat dibingungkan dengan obat Covid-19, maka dengan cepat akan tersebar berita tentang obat mujarab yang dapat menangkal virus ini. Orang-orang pun akan berlomba-lomba untuk membaca dan membagikannya di linimasa. Padahal informasi tersebut hanyalah sebuah kebohongan.

Untuk itu, maka perlu gerakan bersama melawaan hoax ini. Langkah paling cepatnya adalah dengan membuat informasi tandingan dari setiap berita hoax yang muncul. Dilakukan oleh orang-orang yang punya kredibilitas dan disebarkan melalu kanal-kanal informasi terpercaya.

Selain itu, hal penting lainnya adalah dengan berhenti membagikan sebuah berita jika kita mengetahui kalau hal itu adalah sebuah kebohongan. Setelah itu, mengabarkanya kembali kepada publik bahwa hal tersebut tidak benar disertai dengan informasi pendukung yang valid.
Tidak mudah memang untuk menghentikan laju penyebaran hoax. Mengingat sebagian masyarakat tidak terbiasa untuk memvalidasi kebenaran sebuah informasi. Apalagi, saat berita tersebut berhubungan dengan Covid-19 yang memang saat ini sudah sangat meresahkan tanpa adanya kepastian kapan akan berakhir.

Baca Juga:  Diaspora Indonesia: Peluang dan Tantangan

Namun demikian, jika setiap orang yang berkompeten mau bahu membahu untuk turun tangan menyebarkan informasi sehat dan bermutu maka bukan tidak mungkin berita hoax ini bisa diimbangi. Dengan demikian, maka masyarakat kita akan terbebas dari penyesatan informasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.