Menjaga Jiwa Manusia

Top Ad


Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat

(Ketua Yayasan Tebar Amal Shaleh Tangerang Selatan Banten)

Inline Ad

Menjaga jiwa manusia (hifdzu al nafs) merupakan salah satu dari tujuan utama beragama. Hal ini karena jiwa manusia begitu sangat berharga dan bernilai. Allah SWT memuliakan setiap insan yang menjaga kehidupan dan keselamatan jiwa orang lain. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …” ( QS. Al-Maidah: 32).

Ayat tersebut menegaskan bahwa melindungi nyawa seorang manusia seakan sama nilainya dengan melindungi seluruh nyawa umat manusia. Hal ini berarti juga bahwa melindungi satu nyawa pada hakekatnya sama dengan menjaga eksistensi kehidupan umat manusia.

Melindungi jiwa (hifdzu an-nafsi) demi merawat kelangsungan hidup manusia sama nilainya dengan menjaga agama (hifdzu ad-din), menjaga akal pikiran (hifdzu al-‘aql), menjaga harta (hifdzu al-mal ) dan menjaga keturunan (hifdzu an-nasl). Kelima hal ini sering disebut dengan maqasidh syariah atau visi misi syariah.

Pandemi Covid-19 yang masih terus berjalan mendorong kita untuk peduli dan saling tolong-menolong dalam merawat jiwa manusia. Karena keselamatan jiwa saat ini menjadi tujuan yang paling utama. Demi mencegah terjadinya dampak lebih luas ke arah krisis multidimensi yang merusak.
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan dalam menjaga jiwa manusia. Salah satunya adalah dengan mencegah terjadinya pembunuhan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Allah SWT melarang kita untuk melakukan pembunuhan. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang- siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al­Isra’: 33).

Mazhab Maliki membagi pembunuhan menjadi dua, yaitu: pembunuhan yang disengaja dan pembunuhan yang tak disengaja. Sementara para ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hambali membagi pembunuhan menjadi tiga macam, yaitu pembunuhan sengaja (qatl al-‘amd), pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-‘amd), dan pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata’).

Pembunuhan sengaja (qatl al-‘amd), adalah suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya. Sedangkan pembunuhan semi sengaja (qatl syibh al-‘amd), merupakan perbuatan penganiayaan terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya, tetapi mengakibatkan kematian. Sementara pembunuhan karena kesalahan (qatl al-khata’), yaitu pembunuhan yang disebabkan salah dalam perbuatan, salah dalam maksud, dan karena lalai.

Terkait dengan banyaknya jiwa manusia yang mati akibat wabah Covid-19, kita tentu sangat berduka. Walaupun kematian tersebut bukan disebabkan oleh macam-macam pembunuhan sebagaimana menurut para ulama tersebut. Namun demikian, kita tetap harus berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga jiwa manusia, agar tidak terjadi kematian yang lebih banyak lagi akibat Covid-19 ini.

Berdasarkan data Johns Hopkins University sebanyak 4.235.449 orang di dunia tercatat telah meninggal dunia akibat COVID-19. Di Amerika Serikat, negara dengan jumlah kasus infeksi COVID-19 terbesar di dunia, telah mencapai 35.131.393 dengan 613.679 kematian. Berikut adalah India dengan 31.695.958 kasus dan sebanyak 424.773 orang meninggal dunia akibat Virus Corona. Selanjutnya Brasil dengan 19.953.501 kasus dan 557.223 kematian. Sedangkan Rusia tercatat memiliki 6.230.482 infeksi, dengan 157.496 kematian akibat COVID-19. Kemudian di Prancis, tercatat ada 6.218.526 infeksi, dengan 112.107 kematian (gisanddata.maps.arcgis.com).

Sementara total pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia pertanggal (3/8/2021) adalah sebanyak 95.723 orang, sebagaimana dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di https://www.covid19.go.id. Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa tingkat kematian terkait COVID-19 di Indonesia lebih tinggi 0,8 persen dari rata-rata global. Merujuk pada data dari laman Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada hari Selasa tanggal 3 Agustus 2021, bahwa persentase kematian terkait infeksi virus SARS-CoV-2 di Tanah Air mencapai 4,7 persen dari kasus terkonfirmasi (www.liputan6.com, 3/8/2021).

Data tersebut memberikan gambarn betapa pentingnya kita menjaga jiwa manusia dari serangan wabah Covod-19 ini, sehingga tidak terjadi lagi semakin bertambah banyaknya kematian. Upaya pemerintah melakukan vaksinasi massal dalam menanggulangi Covid-19 perlu mendapat sambutan dan dukungan masyarakat lebih luas.

Menurut Ketua Tim Peneliti Efektivitas Vaksin Kemenkes Pandji Dhewantara berdasarkan kesimpulan hasil kajiannya bahwa sesungguhnya pemberian vaksinasi dosis lengkap itu secara signifikan dapat menurunkan risiko dan mencegah COVID-19 bergejala. Bahwa vaksinasi mampu menurunkan risiko perawatan dan kematian sampai 98%.
Semoga upaya vaksinasi yang masih terus dilakukan pemerintah dapat menjaga jiwa manusia dari dampak buruk kematian yang dikhawatirkan. Sehingga Covid-19 ini juga segera hilang sirna dari bumi nusantara Indonesia.

Wallahuálam bish shawab…

Bottom ad

Leave a Reply