Site icon Inipasti

Menjual Takjil Warisan Orang Tua

Penulis: Rosida (Mahasiswa KPI UIN Alauddin Makassar) Melaporkan dari Gowa

CITIZEN REPORTER – Momentum bulan ramadhan membawa berkah bagi umat muslim. Kenyataan itu tersaji pada kondisi di Jalan Poros Malino, Desa Mawang, Kecamatan Somba Opu, penjual takjil ramai dijumpai disetiap sudut jalan.

Uniknya, penjual takjil di sini merupakan satu rumpun keluarga. Penjual takjil ini menyajikan makana berbuka, seperti es cendol, es buah, pisang ijo, jalangkote, dadar dan kue manis lainnya.

Salah seorang penjual takjil di Jalan Poros Malino, Desa Mawang, Nurmawati (47), ditemui akhir Juni 2016 mengatakan, telah menjual semenjak usia 18 tahun bersama kedua orang tuanya. “Awalnya jadi seorang penjual makanan merupakan turunan keluarga, tapi akhirnya jadi hoby,” katanya.

Adapun takjil yang dijual, yakni es cendol, es buah dan pisang ijo. Setiap porsi di jual 5 ribu rupiah. Warung takjil ini sejak bulan ramadhan dibuka pada pukul 12.00 siang dan tutup pukul 19.00. berbeda diluar bulan Ramadhan buka pada pukul 09.00 pagi dan tutup sampai sore.

Nurma sangat bersyukur datangnya bulan Ramadhan, karena omset penjualan meningkat drastis sampai Rp 2 juta per hari. Di luar Ramadhan, biasa hanya memperoleh sekitar ratusan ribu rupiah.

Sebelum tekuni jual makanan, pernah jadi buruh perusahaan produk karung di Pinrang, namun tak bertahan lama. Naluri seorang penjual yang sudah mendarah daging tak dapat dielakkan.

“Menjadi penjual lebih jelas pendapatannya dibanding memilih jadi buruh harian”, ujarnya saat ditemui di warungnya, akhir Juni 2016 lalu. Dia menambahkan bahwa profesi penjual mengajarkan kemandirian dan menjadi tuan sendiri, tidak ada dapat memerintahnya.

Exit mobile version