Merawat Semangat Berqurban

Dr. H. Ade Mujhiyat
Top Ad

INIPASTI.COM, Pelaksanaan ibadah qurban baru saja kita jalani. Hari-hari kedepan adalah bagaimana kita bisa memaknai dan merawat semangat berkurban. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya. Allah SWT mengabadikan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash- Shaffat: 102-107).

Inline Ad

Dengan melaksanakan ibadah kurban, kita akan terus mengenang ujian kecintaan Allah kepada Nabi Ibrahim AS sebagaimana dijelaskan ayat tersebut. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Zaid bin Arqom dijelaskan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan kurban?” Rasulullah menjawab: “Kurban adalah melaksanakan sunat Nabi Ibrahim”. Sahabat bertanya lagi: “bagi kami semua kebaikan apa yang akan diperoleh jika melaksanakan sunat Nabi Ibrahim tersebut?” Nabi menjawab: “Setiap lembar bulu hewan yang dikurbankan itu mengandung kebaikan”. Sahabat bertanya lagi: “bagaimana dalam shuf (bulu domba yang tebal) wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Setiap bulu dari shuf juga mengandung kebaikan”. (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim).

Hadits tersebut menjalaskan bahwa berqurban adalah amalan kebaikan. Yang telah menjadi tradisi Nabi Ibrahim AS sebagai Bapak Monoteisme. Pada setiap bulu dan hewan kurban yang disembelih semuanya mengandung kebaikan. Allah SWT menyediakan pahala yang besar bagi kaum muslimin yang menunaikan ibadah kurban.

Dalam hadits lain dari Aisyah RA dijelaskan bahwa berkurban merupakan ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah (sebagai qurban) di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” (HR. Ibn Majah dan Tirmidzi).

Berkurban pada dasarnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur kita atas segala nikmat dan karunia Allah SWT yang diberikan kepada kita. Dengan selalu berupaya mendekatkan diri beribadah kepada-Nya, dengan mendirikan shalat dan berkurban. Dalam Al Quran Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah memberi nikmat yang banyak untukmu (Muhammad). Maka dirikanlah  sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu adalah orang yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al Kautsar: 1-3)

Tujuan utama ibadah kurban adalah agar lebih dekat dengan Allah SWT. Dalam keadaan apa pun. Baik ketika senang ataupun susah. Pada saat dalam kelapangan maupun kesempitan. Dalam situasi tersebut, kita tetap wajib berusaha taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Karena itu, berkurban menjadi bukti nyata tentang keislaman seseorang. Bagi orang yang memiliki pemahaman dan penghayatan keagamaan yang kuat, maka pasti mereka akan berupaya melaksanakan ibadah tersebut. Ia pun telah turut serta menebarkan syiar Islam. Sebagai wujud ketundukan da kepatuhan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al- Hajj: 34).

Dalam hadits juga ditegaskan bahwa Rasul SAW bersabda, “Barang siapa yang mendapati dirinya dalam kelapangan lalu ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Dengan menunaikan ibadah kurban, berarti kita telah berupaya untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti istiqamah melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Walaupun dalam kondisi PPKM yang masih terus berlangsung.

Ketakwaan merupakan modal utama bagi kita dalam menjalani kehidupan. Allah telah berjanji, bahwa siapa pun yang benar-benar bertakwa akan diberi solusi atau jalan keluar dari segala kesusahan dan problematika kehidupan, termasuk dari wabah virus corona ini. Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 2 dan 4)

Semoga kita terus mampu merawat semangat berkurban sebagai bukti keislaman, keimanan, ketakwaan dan rasa cinta serta kepatuhan terhadap Allah SWT. Juga sebagai kepedulian dan kepekaan terhadap sesama di masa pandemi Covid-19 yang masih belum berakhir ini.

Oleh: Dr. H. Ade Mujhiyat

(Pengurus Pusat IKADI)

Bottom ad

Leave a Reply