Mukidi Masuk Istana

ilustrasi
Top Ad

INIPASTI.COM – Sejarah hidup Mukidi memang berwarna. Solidaritas perkawanannya sangat menonjol dalam dirinya. Ia rela mati untuk mempertahankan hargi diri kawannya. Karena solidaritasnya itu, ia berpindah-pindah penjara. Tak terhitung jumlah perkelahian yang mengantarkannya masuk bui, lantaran ia berjibaku membela matabat kawan-kawannya. Ia tidak peduli apakah kawan-kawannya suatu saat akan menjaganya, seperti ia yang mengorbankan segalanya atas nama perkawanan.

Setelah penjara mengajarinya tentang nalar kebencian, syaraf kekuasaan mulai tumbuh dalam dirinya. Mukidi yang semula tidak memiliki konsep tentang ke-esok-an, Mukidi yang awalnya polos, Mukidi yang hanya bisa hitung angka satu hingga sepuluh, kini mulai mengeja tentang nilai persahabatan, sudah mulai menghitung makna permusuhan. Mukidi mulai meninggalkan paradigma ketulusan. Ia telah muak dengan kata-kata, kini ia kosentrasi pada kalkulator keuntungan. Interaksi apapun yang dia kembangkan, haruslah berakhir dengan keuntungan baginya, dan kerugian bagi yang lain.

Inline Ad

Pasar-pasar besar di Indonesia sudah ia jelajahi. Bagi Mukidi, pasar adalah tempatnya untuk membual, tempatnya untuk omong-kosong, tempatnya meraup laba. Nama Mukidi menjadi ikon kekuasaan, kekuatan, dan kebringasan di pasar-pasar. Pasar hanya bisa ditundukkan oleh modal, dilemahkan oleh kapitalisasi. Produsen dan konsumen dengan enteng bisa dimainkan oleh pasar. Singkatnya, pasar dipersiapkan untuk menumpuk laba bagi mereka yang berkuasa atas modal. Itu sebabnya, Mukidi memilih pasar untuk mengumpulkan modal, bukan dengan cara mengkapitalisasi modal, tapi dengan “kekuasaan.” Kekuasaan yang dimiliki Mukidi, dibangun dengan gertakan, ditumbuhkan dengan tekanan-tekanan, bahkan dengan keculasan. Inilah ajaran yang ia terima dari pergaulannya di bui.

Tidak ada yang mengira, bahkan Mukidi sendiri tidak pernah membayangkan ia bisa bermetamorfosa menjadi orang yang memiliki gengsi social yang luar biasa. Kini ia menjadi orang yang sangat dihormati, dipercaya, dan disegani, baik oleh orang biasa, kelompok bawah hingga kalangan elit. Berkali-kali Mukidi berusaha menjelaskan mengapa ia dihormati, tetapi selalu gagal. Apakah karena Mukidi sudah memiliki modal besar yang selalu dikapitalisasi untuk memperbesar modalnya? Atau karena ia memiliki pengikut setia di banyak pasar?

Komentar pedasnya yang dimuat media massa membuat ia diundang Istana. Menurut Mukidi, istana itu tempat terhormat, symbol keagungan masyarakat, disanalah tempatnya masyarakat berharap. Ia ingin merobek-robek mulut besar orang-orang berjubah, berpeci, dan bersorban, yang berdusta atas nama Istana. Karena istana itu lambang kehormatan, maka siapapun yang berbincang atas nama istana, jangan dibiakan membual, jangan omongkosong. Itulah pesan Mukidi ketika bercanda dengan penghuni istana. Sang penghuni istana tidak memiliki kesempatan untuk meminta Mukidi menyebarkan keberhasilan dan kearifannya memimpin negeri. Mukidi terlanjur ngotot menjadikan istana sebagai pusat pembudidayaan keluhuran bangsa. Mukidi meninggalkan istana dengan lega, karena berhasil membincangkan fungsi istana sebagai wadah keagungan negeri.

Di mulut istana, tepat di pintu keluarnya Mukidi, puluhan wartawan mengerumuninya, menanyakan membicarakan apa di Istana. Apa pesan penghuni istana? Tanya wartawan. “Istana tidak sempat pesan apa-apa kepada saya, karena saya lebih dulu memberi pesan. Apa pesan pak Mukidi, kejar wartawan. “Agar dijaga kesucian istana, sebagai lambang kehormatan, symbol keluhuran dan tempatnya rakyat menumpuk harapan. Istana tidak boleh dijadikan sebagai tempat para pendusta membual. Tempat omongkosong itu bukan di istana,” jelas Mukidi, sambil berlalu. (Dg. Mammu)

Bottom ad

Leave a Reply