Ontologi Pengabdian

INIPASTI.COM, Kehidupan selalu ditandai oleh rentetan banyak peristiwa. Peristiwa demi peristiwa, mengisi ruang dan waktu antara kelahiran dan kematian. Sekecil apapun peristiwa-peristiwa itu, bahkan masih dalam pikiran dan niatan sekalipun, seluruhnya akan mengisi buku sejarah kehidupan setiap umat manusia.

Ucapan kita, apalagi tindakan, semuanya akan menjadi saksi, menjadi lembaran sejarah hidup manusia. Sesungguhnya kehidupan adalah soal cara mengisi ruang dan waktu antara kelahiran dan kematian. Kedua, kehidupan tidak lebih dari soal apa yang kita lakukan untuk mengisi ruang dan waktu antara kelahiran dan kematian.

Sebenarnya, kehidupan begitu simpel, cukup sederhana. Dalam filsafat pengetahuan, simplifikasi ini disebut sebagai ontologi dan epistemologi kehidupan.

Dalam “apa dan bagaimana” itu, terselip pertanyaan lain, untuk apa mengisi kehidupan antara kelahiran dan kematian. Jawabannya adalah untuk mengabdi kepada pencipta kehidupan. Jawaban ini disebut sebagai jawaban axiologis dalam filsafat pengetahuan. Pengabdian menjadi kata kunci mengisi kehidupan.

Kehidupan mulai rumit, ketika umat manusia mulai menafsirkan makna pengabdian. Apakah semua aktivitas dalam kehidupan manusia dapat diterjemahkan sebagai pengabdian? Selain firman Allah yang termaktub dalam kitab-kitab suci, juga ada sabda para rasul dan nabi-nabi yang dapat menjelaskan mana aktivitas yang bernilai pengabdian, dan yang bukan. Kitab Suci yang kemudian diperjelas oleh hadis nabi adalah keterangan yang paling shahih untuk menerangkan mana aktivitas yang mendapat ridho Allah, dan yang bukan.

Baca Juga:  Kelumpuhan Radar Sosial

Gerakan pengabdian terus melaju, semua orang, atas nama pengabdian berkejar-kejaran memburu kesempatan untuk mengabdi. Para politisi, birokrat, pengusaha, peneliti dan buruh harian sekalipun terus membanting tulang untuk meraih medan pengabdian. Demi pengabdian, kita semua rela saling menyikut, saling mencela, saling menyakiti, saling meremehkan. Istilah pengabdian sudah menjadi ranah kehormatan dunia, menjadi kebanggaan akhirat. Istilah pengabdian benar-benar dieksploitasi. Para penjahat sosial sekalipun rela memanfaatkan istilah pengabdian untuk meraih mimpi-mimpi mereka. Berbagai diksi seperti: kerakyatan, keumatan, keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran ditawarkan kepada publik untuk menunjukkan betapa kita semua benar-benar sedang mengabdi. Mengabdi pada ummat, pada rakyat, pada keadilan dan kemakmuran.

Baca Juga:  Pesona Dramaturgi

Logika sosial, logika politik dan logika akademik masyarakat sedang dibongkar-pasang dengan menggunakan terma pengabdian. Bayangkan, orang-orang yang memiliki riwayat kebengisan sosial sekalipun, tiba-tiba tampil menawarkan konsep kehidupan ekonomi kerakyatan dan keummatan, mengajukan proposal kepemimpinan dengan mendahulukan keadilan, mengedepankan kesejahteraan dan memprioritaskan kemakmuran sosial.

Diantara kita, tidak ada lagi yang memiliki sedikit rasa malu ketika membicarakan sesuatu yang amat kontras dengan prilaku sosial kita. Kendatipun kita sedang dilumuri najis sosial yang pekat, banyak diantara kita yang tetap immun terhadap penyakit sosial yang sedang kita derita. Kita dengan penuh kebanggaan mendorong-dorong diri kita untuk tampil sebagai pemimpin yang bermoral, dengan menawarkan berbagai jenis pengabdian, padahal kita sedang dilanda kemerosotan moral yang hebat.

Meskipun diantara kita mengalami kebejatan sosial yang akut, tapi atas nama pengabdian, kita tidak risih berpidato dengan mengambil tajuk mengutamakan ummat, mengedepankan rakyat, berjanji untuk berkeadilan, demi memburu panggung kekuasaan, agar dapat mengabdi untuk masyarakat. Tidak peduli, dengan cara apapun, yang penting bisa meraih podium kekuasaan agar leluasa untuk mengabdi. Akhirnya, kehidupan sekedar dimaknai sebagai tukar menukar libido kuasa, yang datang dan pergi tanpa ujung.

Baca Juga:  Larutan Cinta

Pengabdian dipoles, diwarna-warni untuk kepentingan merangkul kuasa.

Pengabdian diperalat untuk memuluskan mimpi-mimpi kuasa yang menimpa hampir separoh umat manusia.//IMF