[Opini #1]
Konsorsium Riset Artificial Intellegence (KRAI) dan 250 Ribu Talenta Bidang AI Lima Tahun ke Depan

Oleh: Neni Herlina, M.A.P

//Pranata Humas Ahli Muda Ditjen Dikti Kemendikbud RI

Inline Ad

INIPASTI.COM, Istilah kecerdasan buatan atau Artificial Intellegency (AI) diciptakan tahun 1956, diawali oleh Riset AI tahun 1950-an mengeksplorasi topik-topik seperti penyelesaian masalah dan metode simbolik.

Pada tahun 1960-an, Departemen Pertahanan AS menaruh minat terhadap jenis pekerjaan ini dan mulai melatih komputer-komputer untuk menirukan penalaran manusia yang mendasar.

Misalnya, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) menyelesaikan proyek pemetaan jalan pada tahun 1970-an. Dan DARPA menghasilkan asisten pribadi cerdas pada tahun 2003, jauh sebelum Siri, Alexa atau Cortana diberi nama.

Tetapi AI telah menjadi kian populer saat ini berkat peningkatan volume data, algoritme canggih, dan peningkatan daya serta penyimpanan komputasi.

Pekerjaan awal ini membuka jalan bagi otomatisasi dan penalaran formal yang kita lihat di komputer saat ini, termasuk sistem pendukung keputusan dan sistem pencarian pintar yang dapat dirancang untuk melengkapi serta meningkatkan kemampuan manusia.

Bagaimana kecerdasan buatan digunakan ? Setiap industri memiliki permintaan yang tinggi akan kemampuan AI – khususnya sistem penjawab pertanyaan yang dapat digunakan untuk bantuan hukum, pencarian paten, pemberitahuan risiko, dan penelitian medis. Penggunaan lain AI mencakup layanan Kesehatan dengan memberikan pengobatan dan pembacaan sinar X yang dipersonalisasikan.

Asisten layanan kesehatan pribadi dapat bertindak sebagai pelatih hidup, yang mengingatkan Anda untuk minum pil, olahraga, atau makan lebih sehat. Untuk bidang retail , AI menyediakan kemampuan belanja virtual yang menawarkan rekomendasi yang dipersonalisasi dan mendiskusikan opsi pembelian dengan konsumen. Pengelolaan stok dan teknologi tata letak situs juga akan meningkat dengan AI.

Sementara untuk manufaktur, AI dapat menganalisis data IoT pabrik saat mengalir dari peralatan yang terhubung untuk memperkirakan beban dan permintaan yang diharapkan menggunakan jaringan berulang, jenis jaringan pembelajaran mendalam tertentu yang digunakan dengan data urutan.

Baca Juga:  [OPINI] Dampak Covid-19, Pilkada 2020 Lebih Baik Lewat Pemilihan DPRD

Dan di dunia perbankan, kecerdasan buatan meningkatkan kecepatan, presisi, dan keefektifan upaya manusia. Dalam lembaga keuangan, teknik AI dapat digunakan mengidentifikasi transaksi mana yang kemungkinan merupakan penipuan, mengadopsi pemberian skor kredit yang cepat dan akurat, serta mengautomasi tugas-tugas pengelolaan data yang tajam secara manual.

AI meningkatkan kemampuan dan menjadikan lebih baik dalam hal yang dilakukan. Karena algoritme AI belajar dengan cara yang berbeda dari manusia, AI melihat hal-hal dengan cara yang lain. Algoritme AI dapat melihat hubungan dan pola yang mungkin luput dari perhatian.
Kemitraan AI dan manusia ini menawarkan banyak peluang dalam : menghadirkan analitik ke industri dan domain tempat keduanya tidak digunakan sepenuhnya; meningkatkan performa teknologi analitik yang ada, seperti visi komputer dan analisis rangkaian waktu; mendobrak hambatan ekonomi, termasuk hambatan bahasa dan terjemahan; meningkatkan kemampuan yang ada dan menjadikan kita lebih baik dalam hal yang kita lakukan; serta Memberi kita visi, pemahaman, memori yang lebih baik, dan banyak lagi.

Kebutuhan akan kecerdasan buatan atau Artificial Intellegency (AI) sangat penting saat ini karena AI dapat mengautomasi pembelajaran dan penemuan berulang melalui data; AI mampu menambahkan kecerdasan; AI beradaptasi melalui algoritme pembelajaran progresif ; AI membantu menganalisis data lebih banyak dan lebih dalam; AI mampu mencapai keakuratan mengagumkan; serta AI dapat memanfaatkan sebagain besar data.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, pada 14 Oktober 2020 lalu telah diluncurkan Konsorsium Riset Artificial Intelligence (KRAI) oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai conductor.

Gagasan KRAI sesungguhnya sudah digagas sejak tahun 2016-2017 dengan tujuan melahirkan talenta-talenta yang memenuhi kebutuhan era revolusi industri keempat, dimana kecerdasan buatan atau artificial intelligence merupakan driver utama didalam industri 4.0.

Baca Juga:  Husnul Khatimah JT-610

Ciri dominan era ini adalah saat robot-robot cerdas sudah bisa melakukan berbagai tindakan medis yang membutuhkan keterampilan yang sangat tinggi dan membuat analisis, mengambil langkah-langkah kritis yang sangat cepat yang memposisikan manusia pada dunia tantangan baru sehingga diprediksikan ada 23 juta lapangan pekerjaan yang akan hilang pada 10 tahun kedepan yang sebagian besar belum dapat diketahui seperti apa pekerjaan tersebut.

Salah satu kebutuhan utama dalam menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru tersebut adalah kecerdasan buatan (Artificial Intelligency). Oleh karena itu, membangun konsorsium ini sangat relevan untuk menyiapkan ribuan talenta artificial intellgency yang dibutuhkan oleh pembangunan bangsa dan negara kedepan.

Menurut catatan perindustrian, dibutuhkan paling tidak 250 ribu talenta dibidang artificial intellegency ini dalam lima tahun kedepan, itu hanya bisa dipenuhi dengan kolaborasi antara dunia pendidikan, penelitian, dan industri.

Sebagaimana yang disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dalam Peluncuran KRAI, pengembangan Artifical Intellegency atau kecerdasan buatan harus bergandengan tangan dengan hilir, jadi tidak harus dengan cara top down seperti selama ini pada agenda nasional.
Bottom Up dirasakan lebih penting dan lebih sumstim dibandingkan dengan pendekatan top down, karena dengan agenda nasional yang besar membutuhkan resource yang besar, dan ketika resource itu tidak tersedia, maka transformasi tidak akan terjadi.

Kebutuhan kota cerdas, transportasi cerdas, kantor cerdas saat ini semakin tinggi, maka penting kiranya antisipasi hal tersebut dengan melahirkan sebanyak-banyaknya talenta digital. Oleh sebab itu keberadaan Konsorsium Riset Artificial Intellligence sebagai bentuk kolaborasi Pendidikan-Penelitian-Industri menjadi langkah yang strategis dalam membangun kekuatan menyongsong perubahan-perubahan kedepan serta dapat membawa kemajuan bagi bangsa dan Negara.

Baca Juga:  Gempa, Tsunami, dan Theodicy

Sebagai salah satu bagian dari KRAI, Badan Penerapan Pengetahuan Teknologi (BPPT) menyadari bahwa pemanfaatan teknologi Kecerdasan Artifisial bertujuan untuk memberikan peningkatan produktivitas bagi pembangunan nasional. Tidak ada cara lain sebenarnya untuk memiliki daya saing dan kemandirian bangsa didalam semua aspek teknologi, dan menjamin keberhasilan penerapan teknologi, tanpa kita menguasai teknologi tersebut yang kita sebut dengan upaya transformasi teknologi sebagaimana nasihat Bapak Teknologi Indonesia, BJ Habibie.

Bangsa Indonesia harus melakukan lompatan untuk menguasai teknologi. Untuk itu, diperlukan investasi, mempersiapkan sumber daya manusia, talenta AI yang mendorong inovasi diberbagai sector prioritas. Saat ini BPPT sudah mencapai miles tone berkat kerja sama dari semua pemangku kepentingan untuk menghasilkan strategi nasional kecerdasan artificial 2020-2045 yang diluncurkan pada hari kebangkitan teknologi nasional pada tanggal 10 Agustus tahun 2019. (bersambung).

Jakarta, 24 Oktober 2020

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.