[Opini #2]
Konsorsium Riset Artificial Intellegence (KRAI) dan 250 Ribu Talenta Bidang AI Lima Tahun ke Depan

Oleh : Neni Herlina, M.A.P

//Pranata Humas Ahli Muda Ditjen Dikti Kemendikbud RI

Inline Ad

INIPASTI.COM, Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045 merupakan langkah awal dalam menaiki anak tangga untk mencapai kemajuan di Indonesia di berbagai bidang teknologi khususnya strategi untuk mencapai kemampuan kecerdasan artificial yang ada didalam sektor-sektor pembangunan nasional, seperti kesehatan, reformasi birokrasi, dan khususnya pendidikan & riset yang kita inisiasi pada hari ini dalam peluncuran konsorsium riset kecerdasan artificial Indonesia.

Selain itu, tentu ketahanan pangan dan mobilitas / smart city menjadi sektor-sektor yang telah diamati, sehingga Indonesia memiliki daya ungkit yang besar untuk mencapai kejayaan penerapan kecerdasan artificial. Strategi nasional kecerdasan artifisial, menyiapkan talenta kecerdasan artificial yang berdaya saing dan berkarakter.

Hal ini merupakan salah satu misi penting selain misi lainnya seperti mewujudkan ekosistem data dan infrastruktur, mewujudkan kecerdasan artificial yang beretika, menumbuhkan ekosistem kaloborasi riset dan inovasi, yang sungguh menjadi bagian penting dari perjalanan kita sebagai sebuah bangsa menguasai kemampuan didalam teknologi khususnya 4.0.

Pengembangan talenta, menyiapkan sumber daya manusia talenta kecerdasan artifisial yang berdaya saing dan berkarakter dalam menghasilkan inovasi yang unggul dalam seluruh aspek pengembangan teknologi artificial yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan menjadi bagian dari penting daripada kompetitif, daya kompetisi dari seluruh industri dan usaha yang bergerak di Indonesia.

Joko Widodo secara khusus menekankan bahwa diantara 5 langkah cepat dalam transformasi digital adalah menyiapkan kebutuhan SDM talenta digital untuk melakukan transformasi digital selain melaksanakan perluasan akses, peningkatan infrastruktur digital, menyiapkan road map transformasi digital di sektor-sektor strategis, mempercepat intergrasi pusat data nasional serta menyiapkan regulasi dan skema pendanaan dan pembiayaan.

Terbentuknya ekosistem digital merupakan keniscayaan apalagi kalau berbicara disektor pendidikan. Penggunaan aplikasi belajar digital selama menghadapi pandemi ini, telah membentuk ekosistem digital disektor pendidikan.

Baca Juga:  Coronavirus, Antara Kuasa Allah dan Keterbatasan Manusia

Dengan memberikan kita reminder tentang kesempatan emas demografi Indonesia 2020-2045. Bonus demografi ini adalah periode yang harus kita manfaatkan untuk meningktkan pendidikan yang lebih tinggi dan kita akan mengecilkan rasio dependesi terkait dengan upaya kita untuk menghela pertumbuhan ekonomi melalui seluruh kemampuan SDM Indonesia yang produktif dan memiliki talenta didalam berbagai pusat teknologi.

Menggenapkan peluncuran KRAI Indonesia, hadir Prof Simon See Director and Chief Solution Architect, NVIDIA AI Technology Center, juga sebagai Profesor di Universitas Indonesia (UI) menyampaikan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan dalam perlombaan AI, maka penting melakukan persiapan dengan memperhatikan tiga kunci yaitu pertama Detail, banyak dari kita sebagai kontributor satu sama lain di foto di facebook, panggilan telepon Anda, detail kesehatan medis, banyak detail yang dikumpulkan.

Menurutnya Indonesia juga sudah mengumpulkan banyak hal ini. Hal kedua, yaitu publish pilar, apakah bakat manusia dalam mengembangkan semua AI ini dan aplikasi baru, bakat baru. Ini akan menjadi waktu yang menantang karena akan ada distribusi antara permintaan dan penawaran, Hal ketiga adalah persaingan infrastruktur,

Data menunjukkan bahwa pendapatan dari AI untuk pasar aplikasi perusahaan di seluruh dunia dari tahun 2016 hingga diprediksi tahun 2025 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lalu dalam masa pandemi covid-19 saat ini, aplikasi komunikasi online digunakan oleh hampir semua orang di dunia berkat Work atau School From Home dan pada kenyataannya AI dapat mengontrol siapa yang bekerja dari rumah atau tidak.

Meminjam istilah Prof. Simon Lee bahwa bangsa yang memimpin AI akan menjadi penguasa dunia, saat ini berbagai negara berinvestasi dalam pengembangan AI untuk masa depan teknologi bangsanya. Maka Strategi Al Nasional menjadi salah satu pilar penting sehingga kita dapat mengembangkan strategi dan mengembangkan bakat AI ini. Banyak negara telah melakukan ini, Singapore memiliki AI Apprenticeship Program (AIAP), lalu Malaysia punya MyIndustry AI Scholarship, Thailand punya Super AI Enguneer, serta Indonesia punya Digital Talent Scholarship.

Baca Juga:  Musuh Itu Bernama Sekulerisme Bukan Agama

Sebagai bagian dari kolaborasi KRAI, perguruan tinggi sebagai institusi riset memegang peranan penting dalam menciptakan talenta AI di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi yang terlibat yaitu Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memiliki pusat unggulan ITEKS AIHAS; Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menerapkan AI sebagai suatu pembelajaran yang berkesinambungan dimana di tahun pertama dan kedua pembelajaran basic matematika yang merupakan fondasi dari AI lalu pada tahun ketiga mulai memperdalam dengan berbagai macam teknologi yang ada dan pada tahun keempat mulai mengaplikasikan AI diberbagai environment yang real.

Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai bagian dari universitas bidang teknologi di Indonesia, telah siap secara aktif dalam berkontribusi dalam pengembangan talenta AI ini di berbagai kegiatan yang dilakukan selama ini dibidang AI, termasuk konstribusi dalam SKKNI data sains, kemudian melakukan penelitian dibidang AI, menyelenggarakan perkuliahan S1, S2, S3, layanan konsultasi dan pelatihan dengan Ditjen Dikti, Kominfo, Google, dan industi lain, serta mengadakan webinar perihal AI;
Telkom Univesity (TelU); Universitas Indonesia (UI) yang memiliki banyak riset kalaboratif, dimana kecerdasan Artificial memiliki peran yang penting. UI memiliki kerja sama dibidang kedokteran, kedokteran gigi, kesehatan masyarakat, lalu farmasi, psikologi dan MIPA, teknik, serta ilmu sosial dan kebudayaan.
Secara khusus pada bidang AI, UI akan berperan dalam beberapa bidang riset artificial intelligence terkait dengan health care dan education, setelah public services, dan secara umum UI akan berkontribusi dalam pengembangan program pendidikan di bidang dengan fokus yang lebih besar pada AI serta pelatihan-pelatihan dibidang AI dan data sains untuk masyarakat luas;
Universitas Gunadarma yang salah satu produk terakhirnya menghasilkan robot pen yang sudah dimanfaatkan oleh rumah sakit. kedepan robot ini akan dikembangkan lagi dengan berbasis RAI dengan menambahkan sejumlah sensor-sensor yang bisa merekam data-data pasien untuk dianalisis lebih jauh, sehingga robot ini bukan hanya ntuk covid, tetapi para pasien yang memiliki penyakit pernafasan.

Baca Juga:  [OPINI] Inilah Indonesiaku

Kebanggaan kita terhadap perguruan tinggi yang memanfaatkan seluruh fasilitas dengan seluruh sumber dayanya ikut bersinergi bersama sebagai anggota konsorsisum pemerintah, peneliti, industri, dan masyarakat untuk mengembangkan dan merealisasikan teknologi berbasis AI demi menyelesaikan permasalahan bangsa dan membawa nama Indonesia untuk unggul di kancah internasional.

Semoga akan banyak perguruan tinggi sebagai unsur Pendidikan-Penelitian, keterlibatan Lembaga Riset lain serta kalangan industri lainnya semakin memperkuat Konsorsium Riset Artificial Intellegence Indonesia dan dapat bersinergi bersama untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia. (habis)

Jakarta, 24 Oktober 2020

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.