[OPINI] Ancaman Krisis Pangan di Tengah Wabah


Oleh : St.Nurwahyu. S.P

INIPASTI.COM, OPINI – Pandemi virus corona benar-benar memberikan dampak  yang begitu besar bagi dunia. Dampak dari virus korona bukan hanya pada bidang kesehatan saja, namun  kondisi perekonomian tak luput dari hantamannya. Kondisi ekonomi berbagai negara kini mengalami kemerosotan, terutama di negara berkembang. Lock down ataupun PSBB yang diterapkan mengakibatkan penghasilan masyarakat menjadi berkurang karena aktivitas di luar rumah yang sangat terbatas. Selain itu pendapatan masyarakat yang berkurang akan mengakibatkan terjadinya masalah kelaparan. Tentu ini menjadi ancaman serius yang tidak kalah berbahayanya dengan virus corona.

Inline Ad

Lembaga dunia World Food Program mengatakan masyarakat dunia menghadapi ancaman kelaparan besar-besaran dalam beberapa bulan akibat resesi ekonomi yang dipicu pandemi COVID-19 atau virus Corona. Saat ini ada 135 juta orang menghadapi ancaman kelaparan. Proyeksi dari WFP menunjukkan jumlahnya bisa meningkat dua kali lipat menjadi 270 juta orang.

Jumlah ini masih bisa bertambah karena ada sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga, total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 1 miliar orang. Bencana pangan ini bisa terjadi di sekitar 55 negara jika melihat pada skenario terburuk. Eksekutif Direktur WFP, David Beasley, mengatakan ada sepuluh negara yang telah mengalami kelaparan dan menimpa sekitar satu juta warga.

Beasley menyebut terjadinya konflik, resesi ekonomi, dan penurunan jumlah bantuan serta jatuhnya harga minyak merupakan faktor yang memicu terjadinya kelangkaan pangan. Dia mendesak PBB untuk mengambil langkah cepat untuk menghindari terjadinya bencana kelaparan besar-besaran ini. Menurut Beasley, WFP melihat 55 negara yang berisiko tenggelam ke dalam jurang kelaparan. (dunia.tempo.co)

Baca Juga:  Bupati itu…..…(bergelar) Profesor

Eksekutif Direktur WFP, David Beasley, mengatakan ada sepuluh negara yang telah mengalami kelaparan dan menimpa sekitar satu juta warga. “Saat menangani pandemi COVID-19, kita juga berada di tepi jurang pandemi kelaparan,” kata Beasley kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB seperti dilansir CNN pada Rabu, 22 April 2020. hal yang pasti adalah sistem kesehatan yang masih kurang mumpuni di sejumlah negara berkembang tidak akan mampu mengatasi para korban wabah SARS-CoV-2. Dari bencana ekonomi, yang terjadi selama pandemi, akan menyebabkan tekanan besar terhadap sumber daya pangan.
Termasuk di Indonesia pun kelaparan melanda dinegeri ini, padahal dari sumber daya alam yang ada di indonesia begitu melimpah kekayaan di darat dan di laut. Sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme tak mampu menangani kelaparan yang melanda warga negaranya.

Inilah bukti rusaknya sistem kapitalisme. Sistem ini senantiasa menghasilkan ketimpangan sosial antara yang miskin dan kaya. Kapitalisme memang rusak, solusi atas nama rakyat yang dihidangkan pun hanya berputar di kalangan para elite konglomerat. Sistem ini telah melegalkan kapitalisasi pengelolaan pangan sehingga korporasi mengusai mayoritas rantai pasok pangan. Sementara pemerintah hanya sebagai regulator, yaitu pembuat kebijakan yang notabene lebih menguntungkan korporasi.

Selain itu, kematian rakyat dalam sistem pemerintahan saat ini seakan tidak berharga. Buktinya, pemerintah lebih konsen kepada pertimbangan ekonomi dari pada kesehatan nyawa rakyatnya. Entah berapa banyak lagi kematian akibat positif covid-19 plus kematian akibat krisis pangan nantinya karena kelaparan dan kemiskinan.

Di tengah ketidakmampuan sistem kapitalisme neoliberal menyelamatkan manusia dari wabah dan krisis multidimensi yang terjadi pasca wabah, seharusnya kaum muslim dan juga seluruh penduduk dunia menyadari butuhnya sistem baru yang mampu memberikan solusi dari setiap masalah regional maupun internasional tanpa mendzalimi kelompok masyakat tertentu.

Sistem yang akan menyelamatkan manusia dan dunia dari berbagai malapetaka, sehingga membawa solusi yang akan mensejahterakan. Sistem yang ada hari ini gagal mensejahterakan di masa sebelum wabah dan terlebih di masa wabah. Satu-satunya harapan adalah Khilafah Islamiyah yang dibangun atas wahyu Allah Swt dan dituntun oleh Rasulullah Saw serta dilanjutkan oleh khalifah setelahnya.

Khilafah sebagai institusi pelaksana Syariat Allah memiliki sistem dan paradigma yang jauh berbeda dengan negara sistem kapitalisme. Khilafah memandang bahwa kebutuhan primer manusia seperti pangan harus dipenuhi dan semua penduduknya harus dijamin terpenuhi kebutuhan pangan sehingga masalah ancaman kelaparan tidak ada dalam kamus Khilafah.

Terkait dengan tatalaksana pangan, Khilafah dengan seluruh paradigma dan konsepnya adalah negara dengan sistem yang memiliki ketahanan dan kedaulatan pangan yang kuat baik di masa normal maupun menghadapi krisis. Penguasaan pengelolaan terhadap produksi dan stok pangan akan membuat pemerintahan khilafah akan leluasa mengintervensi dalam keadaan apapun. Seperti ketika dilakukan lockdown, pemenuhan pangan rakyat menjadi sanga mudah dilakukan karena ketersediaan pangan yang dijamin oleh negara khilafah.

Sangat jelaslah bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan sistem baru dengan arah yang berlawanan dengan sistem kapitalisme maupun sosialisme sehingga akan terbentuk kesejahteraan di muka bumi ini. Kesejahteraan bukan hanya untuk manusia tapi juga seluruh alam semesta. 

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.