Opini: Nasib Pewarta Di Era Konvergensi Media

Widya Azuraa  Mahasiswa semseter 6 Ilmu Komunikasi UMI

Oleh : Widya Azuraa

INIPASTI.COM, Konvergensi media memberikan bukti nyata demasifikasi terhadap komunikasi massa. Perannya dalam menyebarkan informasi secara besar-besaran menjadi lenyap karena arus informasi menjadi semakin lebih personal dimana setiap orang dapat memilih informasi yang ia inginkan. Bahkan siapapun mampu memproduksi informasi yang penting bagi khalayak.

Media Konvensional seakan hampir kalah oleh New Media yang dikemas melalui jaringan. Menang cepat adalah keunggulan yang menggeser peran surat kabar, TV, dan radio. Ditambah lagi kehadiran khalayak yang lebih berpartisipasi di dunia virtual menyembabkan mereka lebih suka berkeliling mencari informasi di situ-situ saja.

Mau tidak mau, media konvensional harus bisa beradaptasi dan ikut berkembang melalui media online. Di Indonesia sendiri, hadir portal online sebagai perwujudan media konvensional yang ingin tetap eksis di masyarakat luas.

Baca Juga:  Soal e-KTP, KPK Menyasar Golkar, Ada Apa?

Masalahnya ialah dampak dari konvergensi media ini menyebabkan informasi apapun dapat memasuki ruang virtual dan tidak terkontrol. Kaidah jurnalistik pun seringkali dikesampingkan demi kecepatan yang menjadi syarat utama Informasi di Media Cyber. Informasi yang tidak akurat, tidak objektif, dan tanpa verifikasi atau yang lebih hits disebut Hoax bisa ditemukan kapanpun. Seakan kejujuran dalam sebuah informasi tidak penting lagi perannya.

Khalayak diresahkan akan hal ini. Dengan demikian, pihak yang melahirkan informasi juga tentu harus membiasakan diri akan hal ini. Kerja Wartawan lebih dituntut agar mampu menjadi Jurnalis “Multitasking”, juga harus merubah cara kerjanya. Wartawan memang dihadapkan untuk memperoleh berita setiap harinya tetapi sekarang harus lebih berpacu lagi namun tetap memegang teguh kode etik jurnalistik sebagai profesinoalitas.

Baca Juga:  Pete-Pete Makassar Menuju  Tepi Zaman

Konvergensi media tidak perlu dikhawatirkan oleh para pewarta, Setidaknya terdapat tiga dampak teknologi media baru terhadap profesi jurnalisme; pertama, media baru membuka potensi peran bagi wartawan sebagai jembatan penghubung dalam konteks aliran deras demokrasi (Bardoel, 1996); kedua, media baru banyak menawarkan sumber daya (resources) dan pemanfaatan teknologi untuk membantu proses kerja mereka (Quin, 1998; Pavlik 1999); ketiga, media baru mampu menciptakan semacam medium baru, sebuah tipe baru jurnalistik berplatform internet yang disebut jurnalisme dalam jaringan (Singer, 19980; Deuze, 1999).

Jadi, perkembangan teknologi dan hadirnya konvergensi media tidak menghilangkan peran jurnalis, namun justru mereka memiliki tantangan yang besar dalam menjalani tugasnya apalagi menjadi gatekeeper dalam sebuah berita atau informasi.
(*)

Penulis adalah Mahasiswa semseter 6 Ilmu Komunikasi UMI.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.