Site icon Inipasti

Orientasi Mencari Rezeki Antara Kafir dan Mukmin

Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam Majalah Wisatahati (Foto: Zulaeman Rajab).

INIPASTI.COM – Ulasan berikut ini adalah kutipan dari Majalah Wisatahati pada Rubrik Apa Kata Tokoh oleh Muhammad Al Ghazali yang merupakan seorang Syaikh dari Mesir.

Kafir dan Mukmin, dua jenis manusia itu sama-sama berusaha mengais rezeki dengan masing-masing berupaya. Awalnya untuk mencukupi kebutuhan dasar yang paling pokok bagi diri sendiri dan keluarga. Jika kebutuhan pokok itu sudah terpenuhi, mereka mulai mencari kemewahan-kemewahan, agar seumur hidupnya dapat dijalani dengan kelimpahan, kemudahan, aman, tenteram, damai dan seterusnya.

Semua umat manusia, yang mukmin maupun yang kafir, agaknya nyaris sepakat dengan pola hidup seperti itu. Hanya ada perbedaan mendasar dalam kesadaran dan cara berfikir diantara keduanya.

Orang kafir mengabdi pada kehidupan dunia semata. Baginya, kebahagiaan dunia adalah tujuan puncak. Bagi orang-orang kafir, dunia adalah kesempatan yang apabila terlewatkan, hilanglah segalanya. 

Baginya, kehidupan hanyalah rentang waktu yang berlangsung di atas bumi saja. Ia tidak percaya bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan ini. Ia juga tidak yakin bahwa ada rumah tinggal lain setelah rumah tinggal (bumi) ini hancur.

Sedangkan orang mukmin, mereka memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan pemahaman orang-orang kafir. Orang mukmin percaya bahwa terdapat kehidupan lain yang lebih nyata, lebih agung, dimana manusia akan tinggal kekal di dalamnya.

Bagi orang mukmin, kehidupan dunia adalah perjalanan menuju kehidupan berikutnya. Jadi di sini saatnya menanam, di sana kita akan menuai. Di sini kita berlomba, di sana kita akan mendapatkan nilai.

Dunia, jika tidak dijadikan kendaraan menuju akhirat, akan menjelma menjadi fatamorgana yang penuh tipu daya dan kepalsuan.

Perbedaan dua kelompok di atas sangat mendasar dan jelas, meskipun keduanya berjalan beriringan, sama-sama bekerja mencari makan. Mereka berbeda pada motif, yang satu makan untuk hidup, yang lain hidup untuk makan.

Diakui memang, daya pikat dunia sangat luar biasa. Persaingan keras kehidupan dunia pun sangat menguras tenaga, menyita kesadaran dan pikiran yang tidak ringan. Sehingga banyak yang tertipu oleh capaian-capaian dunia yang sifatnya sementara, lebih memilih yang fana ketimbang yang abadi. Disinilah agama menciptakan ajaran-ajarannya​ untuk menangani sekaligus dua wilayah yang sama-sama penting.

Semoga bermanfaat.

:

Exit mobile version