Pekan Menyusui Se-Dunia, Dompet Dhuafa Ajak Masyarakat Jaga Kesehatan dan Lestarikan Bumi yang Melahirkan Generasi Sehat

INIPASTI.COM, JAKARTA– Setiap tahunnya, dunia memeringati pekan ASI pada 1 hingga 7 Agustus. Hal tersebut bermula dari gagasan tentang pentingnya peran ASI, dalam tumbuh kembang kesehatan anak. Kemudian juga memiliki segudang manfaat bagi kesehatan fisik maupun emosional ibu dan bayi. Memeringati “World Breast Feeding Week” atau Pekan Menyusui Se-dunia, Dompet Dhuafa menyelenggarakan tayang bincang daring dengan tema “Support Breastfeeding for a Healthier World, Menyusui=Menyelamatkan Bumi?” Untuk memberikan wawasan kepada masyarakat, khususnya keluarga muda dari kalangan millenials yang langsung disiarkan melalui Chanel Youtube DD TV, pada Rabu (12/8/2020)

Pada Rangkaian kegiatan tayang bincang Pekan ASI Sedunia, menghadirkan berbagai pembicara dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, FABM, Pendiri Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), Profesor DR. Euis Sunarti M.Si, Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dan Pimpinan Perhimpunan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia, Khalisah Khalid (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI) dan Dr. Yeni Purnamasari MKM (GM Kesehatan Dompet Dhuafa). Bersama audiens dari berbagai kalangan, Dompet Dhuafa terus mendukung gerakan pemerintah dalam membangun kepedulian maupun kesadaran semua pihak, untuk mendukung keberlangsungan pemberian ASI.

Inline Ad

Pekan ASI Sedunia 2020 fokus terhadap adanya pengaruh menyusui terhadap lingkungan/perubahan iklim, sekaligus mengimbau untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung pemberian ASI untuk kesehatan bumi. Pada masa pandemi Covid-19, UNICEF bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan agar pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk mempertahankan, sekaligus mempromosikan akses layanan yang memungkinkan bagi para ibu untuk tetap menyusui. 

Baca Juga:  WD I dan Tiga Kaprodi FKM UMI Berkunjung ke LAM-PT Kes

“Banyak muncul individu yang mempromosikan kebaikan menyusui. Ini merupakan sebuah tantangan dan harapan untuk kita. Setiap orang dapat menjadi agen perubahan. Harus ada dukungan secara struktural dari pemerintah atau dari negara. Untuk memastikan individu tersebut memperluas gerakannya, agar terjadi perubahan yang signifikan, jadi harus didukung oleh kebijakan negara,” ucap Khalisah Khalid, selaku perwakilan dari (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI).

Menurut para ahli di The Brtish Medical Journal, dilansir Science Daily, Senin (2/12/2019), produksi susu formula bayi yang tidak perlu, akan memperburuk kerusakan lingkungan dan harus menjadi masalah yang meningkatkan kepedulian global. Lebih lanjut, Natalie Shenker, Future Leaders Fellow UKRI di Imperial College London, bersama rekannya menyoroti penelitian yang menunjukkan bahwa menyusui selama 6 bulan menghemat sekitar 95-153 kg CO2 per bayi, dibandingkan dengan pemberian susu formula. Di Inggris saja, penghematan emisi karbon yang diperoleh dengan mendukung ibu menyusui akan sama dengan mengurangi antara 50.000 sampai 77.500 mobil setiap tahun. Industri makanan, khususnya produksi susu dan daging, menyumbang sekitar 30% dari gas rumah kaca global. Kebanyakan susu formula berbahan dasar susu sapi bubuk. Metana dari ternak adalah gas rumah kaca yang kuat dan signifikan. Sedangkan produksi susu sapi membutuhkan air hingga 4.700 liter per kilogram bubuk.

“Keluarga memiliki peran, sebagai pembangun manusia yang berkualitas, beradab dan madani. Itu yang dicirikan oleh individu berkualitas dan berintegritas. Kalau kita bicara tentang teori integritas seseorang itu mencirikan kepribadian seseorang dan mempunyai potensi atau peluang mengembangkan kepribadian positif. Sehingga melahirkan manusia yang berintegritas,” jelas Profesor DR. Euis Sunarti M.Si, selaku Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga yang juga sebagai Pimpinan Perhimpunan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia.

Baca Juga:  Silaturahmi TNI dan Masyarakat, LDII: TNI Jangkar Pemersatu Indonesia

Akibat pandemi COVID-19, di Indonesia akses layanan esensial seperti konseling menyusui di rumah sakit, klinik kesehatan, dan melalui kunjungan ke rumah, serta Rumah Sakit Sayang Bayi telah terganggu. Terdapat satu dari dua bayi berusia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, dan hanya sedikit lebih dari lima persen anak yang masih mendapatkan ASI pada usia 23 bulan. Artinya, hampir setengah dari seluruh anak Indonesia tidak menerima gizi yang mereka butuhkan selama dua tahun pertama kehidupan. Lebih dari 40 persen bayi diperkenalkan terlalu dini kepada makanan pendamping ASI, yaitu sebelum mereka mencapai usia enam bulan.

“ASI sumber nutrisi terbaik bayi dan melindunginya dari penyakit. Gangguan menyusui dapat menyebabkan penurunan suplai ASI, penolakan bayi untuk menyusu dan penurunan faktor imun pelindung yang terkandung dalam ASI. Satu tetes Asi bukan saja mengandung makanan. Tetapi juga mengandung vaksinasi. Asi pertama mengandung banyak air dan protein. Jadi menyusui itu adalah ibadah yang membuat kualitas hidup ibu dan bayi menjadi lebih baik,” ungkap dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, FABM, Pendiri Sentra Laktasi Indonesia (SELASI)

Baca Juga:  Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan Mulai 7 Mei 2020

“Dompet Dhuafa melakukan proses pendampingan menyusui, tidak saja dalam situasi normal. Dompet Dhuafa mempunyai dua pendekatan yaitu pendekatan normal dan pendekatan dalam situasi bencana. Kita ingin program kesehatan Dompet Dhuafa dapat menjangkau keluarga, masyarakat baik situasi normal dalam kehidupan kita. Dompet Dhuafa juga memiliki program Jaringan Kesehatan ibu  dan Anak (JKIA), serta Saving makes Generation Institue pada situasi bencana yang berkolaborasi bersama konseler menyusui dari SELASI maupun relawan konsuler menyusui. Kemudian juga melakukan pendampingan yang ditemukan di lapngan,” ucap Dr. Yeni Purnamasari MKM, selaku GM Kesehatan Dompet Dhuafa.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Bottom ad

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.