Penertiban Pak Ogah’, Dewan: Pemprov Harus Siapkan Role Model

Ketua Komisi D DPRD Sulsel, Darmawangsyah Muin.

INIPASTI.COM, MAKASSAR, – Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan bersama sejumlah instansi telah membentuk Tim Patroli Garnisun untuk mengatasi persoalan Pak Ogah’ di sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional di Kota Makassar.

Langkah tersebut mendapat dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel. Melalui ketua komisi D DPRD Sulsel Darmawangsyah Muin mengatakan rencana pemprov menertibkan hal-hal yang membuat kemacetan di Jalan termasuk pak Ogah’ sebenarnya harus dilakukan dengan gandeng kepolisian.

“Sepertinya harus sudah diambil alih oleh mereka dan yang kedua walaupun ini dilaksanakan seperti di Makassar sudah ada tim anti macet dan di provinsi sementara akan dilakukan tim satgas untuk penindakan pak Ogah,” kata Wawan sapaan Darmawangsyah saat ditemui di Kantor DPD Gerindra Sulsel, Rabu 9 Januari 2019.

Baca Juga:  Danny : Masjid Adalah Pemersatu Umat

Wawan mengatakan pihaknya mendukung adanya tim tersebut, hanya saja perlu dilakukan beberapa evaluasi yakni pertama tim Garnisun harus melakukan persiapan secara matang. Kedua assesment untuk melihat sejauh mana permasalahan-permasalahan yang ada .

“Ketiga karena pak Ogah’ merupakan salah satu masuk kategori anak jalanan sehingga pemerintah provinsi harus membuat beberapa role model penyelesaian terkait persoalan-persoalan pak Ogah ini,” ujarnya.

Ketua DPC Gerindra Gowa ini menyarankan penertiban terhadap Pak Ogah’ harus dilakukan dengan pendekatan kelembagaan serta pembinaan.

“Misalnya pembinaan ditingkat keluarga terus secara institusi kelembagaan misalnya melibatkan dinas-dinas untuk membuat pembinaan atau pemerintah membuat jariangan baik itu dari swasta maupun pemerintah sendiri,” tuturnya.

Baca Juga:  NA Sebut Kemenag Miliki Peran Jadikan Sulsel Miniatur Toleransi Beragama

Sebab bisa saja, lanjut dia, setelah dilakukan penindakan mereka akan menjadi pengangguran dan bisa melakukan kejahatan baru di Makassar.

“Mereka sebenarnya menjadi seperti itu untuk mencari kehidupan, tapi ada juga yang ikut-ikutan karena pergaulan sehingga memang assesment diperlukan sekali untuk mengetahui tingkat dalamnya persoalan,” jelasnya.

“Ini harus menguntungkan semua pihak, karena bukan pemberantasan saja yang kita perlukan tetapi role model seperti itu,” ungkapnya.

(Muh. Seilessy)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.